Penelitian Psikologi Forensik Mengenai Klaim Pelaku Pencurian sebagai Pembunuh
Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri, menyampaikan perhatiannya terhadap klaim yang disampaikan oleh aparat penegak hukum mengenai pelaku pencurian di rumah mantan anggota DPRD Kota Cilegon yang juga dituduh sebagai pelaku pembunuhan terhadap MAHM (9), anak dari petinggi PKS Kota Serang. Menurutnya, pengakuan pelaku pencurian belum secara otomatis menjadikannya pelaku pembunuhan, mengingat motif dan kondisi psikologis keduanya sangat berbeda.
Kasus pembunuhan MAHM sempat mengejutkan warga Kota Cilegon. Anak dari seorang petinggi PKS, Maman Suherman, ditemukan meninggal dunia di kediamannya yang berada di Kompleks Bukit Baja Sejahtera (BBS) III, Kelurahan Ciwaduk, pada Selasa, 16 Desember 2025. Kekerasan yang dialami korban membuat kasus ini menjadi sorotan publik dan mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum.
Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, HA, yang kemudian disebut polisi sebagai pelaku, tertangkap warga saat diduga mencuri di rumah mantan anggota DPRD Kota Cilegon dua periode, Roisyudin Sayuri. Penangkapan ini memicu pertanyaan mengenai motif dan konsistensi tindakan pelaku, karena di lokasi pembunuhan sebelumnya tidak ditemukan adanya unsur keuntungan material dari aksi kejahatan.
Sorotan Reza Indragiri
Reza Indragiri menekankan bahwa klaim polisi harus didukung bukti yang lebih komprehensif. Tidak ada barang berharga yang hilang dari rumah anggota PKS. Rumah itu merupakan TKP pembunuhan. Tapi orang yang polisi sebut sebagai pelaku pembunuhan itu kini ditangkap saat sedang berusaha mencuri di rumah anggota DPRD.
“Dua kejadian ini memiliki motif berbeda, dan kondisi psikologis pelaku pasca melakukan tindakan ekstrem seperti pembunuhan bisa membuat perilakunya tidak mudah diprediksi,” sambungnya. Ahli ini juga mengingatkan risiko coerced false confession, yakni pengakuan palsu yang muncul akibat tekanan atau interogasi langsung setelah penangkapan.
Reza menekankan pentingnya polisi untuk menyiapkan dua alat bukti yang jelas, seperti DNA, sidik jari, atau bukti fisik lain, agar proses hukum tetap proporsional dan akurat. “Begitu cepatnya polisi mengumumkan pelaku pencurian adalah juga pelaku pembunuhan, terindikasi kuat itu bersumber dari pernyataan si pelaku pencurian saat diinterogasi awal oleh polisi,” katanya.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih menindaklanjuti kedua kasus tersebut secara terpisah, yakni kasus pembunuhan anak PKS dan dugaan pencurian di rumah Roisyudin Sayuri. Pakar forensik menegaskan agar proses hukum berjalan profesional, menghindari tekanan terhadap pelaku, dan memastikan setiap klaim didukung fakta sebelum diumumkan ke publik.
Sosok Pelaku HA
Dede menduga HA adalah spesialis pencuri rumah mewah yang kosong atau tidak berpenghuni. Lalu berdasarkan SIM-nya, HA ternyata seorang karyawan di sebuah perusahaan ternama. “Sepertinya dia spesialis rumah kosong dan rumah mewah. Dilihat dari SIM dan kartu anggota serikat, dia seorang pekerja, karyawan Chandra Asri. Padahal gajinya lumayan, tapi kok mencuri,” ucap Dede.
Hal tersebut dibenarkan oleh Humas Polres Cilegon AKP Sigit Dermawan. HA yang merupakan warga Palembang adalah pegawai di perusahaan ternama di Cilegon. “Benar terduga pelaku merupakan salah satu karyawan dari perusahaan swasta,” katanya.
Penangkapan Dramatis
Dede menyebut HA pertama kali mendatangi dan mencuri di rumah Roisyudin Sayuri, pada Minggu (28/12/2025). “Hari Minggu (28/12) itu terjadi pencurian. Yang hilang perhiasan, dan brankas sudah berada di luar rumah dibawa menggunakan kursi roda, tetapi belum sempat diambil dan akhirnya ditinggalkan,” ucap Dede.
Ia menceritakan bahwa brankas hasil curian yang tertinggal itu membuat pelaku kembali ke rumah Roisyudin Sayuri untuk melakukan aksi pencurian kedua kalinya. “Pada momen Tahun Baru, rumah kembali sepi. Nah, pada Jumat siang itu kebetulan ada asisten rumah tangga (ART) di rumah. Pelaku ini sepertinya melanjutkan aksinya karena sebelumnya belum berhasil membongkar brankas,” jelasnya.
Pada aksi kedua tersebut, pelaku kepergok oleh ART yang sedang membersihkan rumah majikannya. Pelaku panik dan melarikan diri, namun terpeleset. Tak lama kemudian, ART menghubungi warga setempat dan pihak kepolisian. “Pada hari Jumat itu, dia sampai membawa pemanas gembok, sepertinya penasaran ingin membongkar brankas. Di dalam rumah dia sudah memegang semua kunci kamar, lalu ketahuan oleh ART yang sedang bersih-bersih. ART berteriak dan pelaku langsung lari,” tuturnya.
“Karena posisi rumah agak berbukit dan ada tangga, sepertinya dia terpeleset dan jatuh. ART kemudian meminta tolong dan menelepon saudara saya yang sedang liburan di luar kota. Saudara saya lalu menghubungi warga, karyawan, termasuk menelepon polisi. Pelaku akhirnya bersembunyi di dalam rumah dan tidak bisa keluar. Saat ditangkap, sudah ada darah, kemungkinan lecet karena membentur tangga,” kata Dede.
Dede mengaku penangkapan pelaku berlangsung dramatis karena pelaku sempat menodongkan pistol kepada warga. “Karena pelaku membawa pistol, warga tidak berani langsung menangkap karena takut ditembak. Ternyata setelah ditangkap, pistol tersebut pistol mainan jenis pistol gas. Tidak lama kemudian, pasukan Brimob langsung datang,” jelasnya.









