Pengalaman Ahmid yang Selamat dari Longsor TPT Cisempur

Ahmid (71) berhasil selamat dari peristiwa longsor Tembok Penahan Tanah (TPT) di Desa Cisempur, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Ia bersama anaknya, Dian (41), tertimbun dalam kejadian tersebut. Meskipun mengalami luka ringan dan trauma, ia tetap berterima kasih kepada Allah SWT atas keselamatan yang diperolehnya.

Longsor yang terjadi pada Jumat (2/1/2026) siang menewaskan empat pekerja, sementara dua lainnya selamat. Ahmid menolak disebut sebagai “sakti” karena berhasil bertahan hidup. Baginya, semua hal yang terjadi adalah anugerah dari Tuhan.

Peristiwa Longsor yang Terjadi Tiba-Tiba

Ahmid masih menjalani perawatan di RS Unpad Jatinangor sehari setelah kejadian. Meski tubuhnya sedikit terluka dan masih trauma, ia berusaha menceritakan kembali pengalamannya dengan suara pelan dan penuh kesadaran akan makna hidup.

“Saya hanya pasrah saja. Saat itu saya memohon keselamatan kepada Allah SWT, agar saya dan anak saya, Dian, bisa diselamatkan,” ujarnya.

Ia mengingat bahwa saat kejadian tidak turun hujan. Posisi Ahmid berada di pinggir titik utama longsor, sedangkan para pekerja lain berada di bagian tengah dan bawah. Mereka sedang menggali tanah untuk pondasi proyek pembangunan lapangan minisoccer di lokasi tersebut.

“Enggak hujan. Saya di pinggir, yang lain di tengah, di bawah lagi gali tanah. Ada yang teriak, ‘awas pak’, tapi tidak lama langsung rubuh,” katanya.

Tanah longsor datang begitu cepat. Dalam hitungan detik, Ahmid dan para pekerja lainnya tertimbun material tanah. Jarak antara Ahmid dan Dian sekitar empat meter, namun keduanya sama-sama terperangkap dalam gelap dan timbunan tanah.

“Saya jarak sama Dian kira-kira empat meter. Waktu itu gelap, terkubur tanah,” katanya.

Ahmid memperkirakan dirinya tertimbun selama hampir 10 menit. Dalam kondisi sulit bernapas dan dada tertekan tanah, ia mengaku hanya berserah diri.

“Paling beberapa menit enggak bisa napas. Hampir habis. Alhamdulillah keburu ada bantuan dari warga,” ujarnya.

Luka Ringan dan Rasa Syukur

Ia menyadari bahwa luka yang dideritanya relatif ringan dibandingkan korban lain. Tubuhnya hanya mengalami luka gores dan tekanan di bagian dada.

“Luka sedikit saja. Dada kena tekanan tanah. Ya berkat Allah SWT saja,” katanya.

Ahmid juga menepis anggapan sebagian orang yang menyebut dirinya “sakti” karena selamat dari maut. Baginya, hidup dan mati sepenuhnya berada dalam kehendak Allah SWT.

“(Orang menyangka Pak Ahmid sakti karena selamat?) Ah itu mah berkat Allah saja. Belum waktunya saya meninggal. Yang empat orang itu mungkin sudah waktunya. Saya mungkin masih dipercaya oleh Allah SWT,” ucapnya lirih.

Bekerja Sesuai Perintah, Tidak Tahu Detail Proyek

Dalam kesehariannya, Ahmid menegaskan dirinya hanyalah buruh yang bekerja atas perintah. Ia tidak mengetahui secara detail proyek yang dikerjakan, apalagi soal peruntukannya.

“Saya mah orang nyuruh kerja, kerja saja. Enggak tahu itu buat apa. Saya orang butuh. Kalau enggak kerja sehari, tekor,” katanya jujur.

Ia juga menyebut bahwa sebelum bekerja, area tebing sebenarnya sempat diperiksa secara kasat mata, termasuk bagian atas tebing, untuk memastikan tidak ada potensi bahaya.

“Enggak ada firasat apa-apa. Tebing tinggi itu biasanya dikontrol dulu. Pas kejadian juga sudah dikontrol,” ujarnya.

Memaknai Hidup dengan Rasa Syukur

Kini, setelah lolos dari maut, Ahmid memilih memaknai hidup dengan rasa syukur yang lebih dalam. Selain berterima kasih kepada warga, tim SAR, dan aparat yang telah menyelamatkannya, ia meyakini bahwa keselamatan dirinya dan Dian adalah bentuk kasih sayang Allah SWT yang tak ternilai.

“Semua ini bukan karena siapa-siapa. Ini murni anugerah Allah,” katanya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *