Perjalanan Nokia dari Ponsel ke Infrastruktur AI
Nokia, perusahaan teknologi asal Finlandia yang dulu menjadi simbol kejayaan ponsel global, kini kembali menempatkan dirinya sebagai pemain penting dalam lanskap teknologi dunia. Setelah mengalami penurunan akibat disrupsi dari iPhone dan ekosistem Android lebih dari satu dekade lalu, Nokia kini fokus pada pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global melalui kemitraan strategis dengan Nvidia.
Kemitraan ini membawa Nokia keluar dari pasar perangkat konsumen menuju peran baru sebagai penyedia infrastruktur jaringan dan pusat data bagi layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan. Di tengah meningkatnya investasi global pada pusat data, perusahaan ini memperkuat posisi dengan menggunakan teknologi jaringan optik dan sistem pengelolaan data.
Nvidia menjalin kemitraan strategis dengan Nokia melalui investasi senilai USD 1 miliar, atau sekitar Rp 16,7 triliun dengan kurs Rp 16.710 per dolar AS, untuk mengambil sekitar 2,9 persen saham Nokia. Kemitraan ini difokuskan pada pengembangan jaringan telekomunikasi berbasis AI, termasuk penerapan AI pada jaringan akses radio dan infrastruktur data pusat.
Transformasi ini sangat berbeda dari masa lalu Nokia. Pada puncak kejayaannya pada akhir 2000-an, nada dering khas Nokia diperkirakan diputar sekitar 1,8 miliar kali per hari di seluruh dunia. Namun, kegagalan membaca pergeseran menuju ponsel pintar berbasis layar sentuh dan ekosistem aplikasi membuat dominasi itu runtuh. Akhirnya, Nokia menjual bisnis perangkatnya kepada Microsoft pada 2014 senilai 5,4 miliar euro, setara Rp 105,6 triliun dengan kurs Rp 19.560 per euro.
Chief Executive Nokia saat ini, Justin Hotard, menilai kemampuan beradaptasi sebagai fondasi utama perusahaan. “Nokia memiliki warisan panjang dalam beradaptasi. Ada kesadaran bahwa masalah yang kami selesaikan kemarin tidak selalu sama dengan tantangan yang harus kami jawab hari ini. Kemampuan untuk bergeser dan menyesuaikan diri itu sudah menjadi sesuatu yang alami bagi Nokia,” ujarnya.
Selain itu, peralihan Nokia ke infrastruktur AI ditopang oleh ekspansi strategis yang telah dilakukan sebelumnya. Perusahaan ini mengakuisisi penyedia jaringan optik asal Amerika Serikat, Infinera, senilai USD 2,3 miliar, atau sekitar Rp 38,4 triliun, untuk memperkuat posisi di jaringan pusat data dan transmisi berkecepatan tinggi yang menjadi fondasi pengembangan kecerdasan buatan.
Bagi Nvidia, kemitraan ini membuka peluang untuk memperluas penerapan teknologi AI ke sektor telekomunikasi global. Dalam pernyataan resminya, Nvidia menyatakan bahwa kerja sama ini akan “mempercepat penerapan kecerdasan buatan pada jaringan telekomunikasi dan meningkatkan efisiensi operasional operator di seluruh dunia.”
Dampak langsung dari arah baru terlihat di pasar. Saham Nokia melonjak setelah pengumuman kemitraan itu, seiring meningkatnya kepercayaan investor terhadap strategi perusahaan dalam memanfaatkan siklus pertumbuhan AI. Sejalan dengan itu, lembaga pemeringkat Moody’s mengubah prospek Nokia menjadi positif, dengan menyoroti penguatan bisnis jaringan dan pusat data.
Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan risiko volatilitas investasi AI dan ketatnya persaingan dengan pemain global lain di sektor jaringan dan pusat data. Tantangan itu menunjukkan bahwa kebangkitan Nokia belum tentu linear dan masih bergantung pada eksekusi strategi jangka panjang.
Namun, perjalanan Nokia dari perusahaan yang terpukul oleh kehadiran iPhone dan perubahan arah industri ponsel hingga menjadi bagian penting dari infrastruktur AI global menegaskan satu hal: dalam ekonomi teknologi dunia, kemampuan untuk bertransformasi sering kali lebih menentukan daripada kejayaan masa lalu.








