Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merancang beberapa strategi untuk mencapai target lifting minyak sebesar 610.000 barel per hari (bph) pada tahun 2026. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa pihaknya sangat optimis bisa mewujudkan target tersebut. Bahkan, realisasi lifting minyak pada November 2025 sudah mencapai level yang diharapkan.
Menurut Yuliot, upaya konsolidasi yang dilakukan pada tahun 2024 memberikan hasil signifikan. Pada tahun lalu, tingkat produksi minyak mencapai sekitar 580.000 bph. Dengan peningkatan sekitar 25.000 bph pada tahun 2025, ini menjadi bagian dari capaian dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional. Hal ini disampaikannya dalam acara Rapat Koordinasi Dukungan Bisnis (Rakor Dukbis) SKK Migas 2025 di Sentul, Kabupaten Bogor, Rabu (3/12/2025).
Meski demikian, Yuliot mengakui bahwa untuk mencapai target lifting pada 2026, terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, pihaknya bersama SKK Migas akan mengambil langkah-langkah spesifik. Berikut beberapa strategi yang akan diterapkan:
Penyempurnaan regulasi: Pihaknya akan melakukan evaluasi terhadap regulasi yang berlaku, khususnya dalam hal pemenuhan perizinan yang ada di kontraktor kontrak kerja sama (KKKS). Yuliot menjelaskan bahwa pihaknya akan menanyakan langsung kepada KKKS terkait masalah-masalah yang mereka hadapi. Permasalahan tersebut mencakup perizinan, pengadaan lahan, regulasi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), serta ekosistem di dalam negeri. Hasil dari rakor ini akan menjadi rekomendasi bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan.
Penyediaan infrastruktur dasar: Pihaknya akan menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan oleh KKKS untuk produksi maupun eksplorasi minyak. Infrastruktur ini akan menjadi pendukung utama dalam meningkatkan kapasitas produksi.
Peningkatan ekosistem ketersediaan peralatan: Yuliot menekankan pentingnya meningkatkan ekosistem ketersediaan peralatan di dalam negeri. Saat ini, TKDN di sektor migas baru mencapai 40%. Dia berharap capaian ini dapat meningkat, sehingga investor lebih mudah mengakses peralatan dalam negeri.
Yuliot menegaskan bahwa upaya-upaya ini tidak hanya bertujuan untuk mencapai target 2026, tetapi juga sebagai langkah jangka panjang untuk mengejar target lifting minyak sebesar 900.000 hingga 1 juta bph pada 2029. Untuk mencapai target tersebut, lifting minyak harus naik sebesar 100.000 bph setiap tahunnya.
Menurutnya, pencapaian target ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh SKK Migas atau ESDM saja. Dibutuhkan konsolidasi dan kolaborasi seluruh stakeholder, termasuk pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Tantangan yang dihadapi adalah kompleks dan memerlukan kerja sama yang kuat antar semua pihak.
Dengan strategi-strategi yang telah dirancang, pihaknya yakin bahwa target lifting minyak dapat tercapai secara bertahap. Langkah-langkah ini juga akan menjadi fondasi untuk memperkuat sektor energi nasional dan meningkatkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan energi masyarakat.








