Kehidupan dan Perjalanan Fitria Nuraini: Dari Kegagalan ke Kesuksesan

Fitria Nuraini, seorang mahasiswa psikologi Islam di UIN Syekh Wasil Kediri, kini menjadi Duta Keterbukaan Informasi 2025. Ia dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai bidang, terutama sebagai content creator di akun media sosialnya yang fokus pada isu sosial dan edukasi. Selain itu, ia juga pendiri komunitas “Ruang Cerita” dan aktivis sosial yang aktif bergerak di pelosok desa serta mendampingi teman-teman disabilitas.

Awal Mula Perjalanan

Perjalanan Fitria tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami bullying karena fisik dan prestasi akademik yang biasa saja. Hal ini membuatnya memutuskan untuk tidak lagi membiarkan orang lain meremehkannya. Dari SMP hingga SMA, ia terus berusaha menghadapi tantangan dengan berani. Ia ikut lomba dan berhasil meraih medali perak dan perunggu di olimpiade IPA dan IPS. Prestasi tersebut membawanya masuk sekolah menengah dan memperluas pengalamannya dalam berorganisasi.

Namun, masa akhir sekolah menengah menjadi titik paling berat dalam hidupnya. Ia mengalami gap year karena ditolak oleh 15 PTN dan PTS yang ia daftar demi beasiswa. Pengalaman ini membuatnya merasa putus asa. Bahkan ketika akhirnya diterima di sebuah universitas, ia harus mundur karena tidak mampu membayar UKT. Tekanan tersebut sempat memengaruhi kesehatan mentalnya hingga membutuhkan konsumsi obat antidepresan.

Terjun ke Dunia Pengabdian

Alih-alih meratapi kesedihannya, Fitria justru memilih untuk mengisi waktu gap year-nya dengan berbagai kegiatan positif. Ia bergabung sebagai relawan di organisasi seperti Genre Kediri. Tujuannya adalah untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat. Ia percaya bahwa nilai di atas kertas bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Kegiatan-kegiatannya, seperti pengabdian ke pelosok desa, belajar bahasa isyarat, dan berbagi cerita tentang komunitasnya, ia abadikan dalam akun media sosialnya. Dari sana, ia mulai tampil sebagai pemateri, MC, dan moderator di berbagai acara.

Berdirinya Komunitas Ruang Cerita

Komunitas Ruang Cerita lahir dari pengalaman pribadi Fitria sendiri, yaitu saat ia mengalami gangguan mental. Ia bersama teman-temannya mendirikan komunitas ini sebagai wadah bagi mereka yang ingin berkeluh kesah. Ia menggunakan ilmu psikologinya untuk menciptakan ruang yang nyaman dan bermanfaat bagi sesama.

Kegiatan di Luar Akademik

Selain berkecimpung dalam dunia akademik, Fitria juga aktif dalam berbagai organisasi. Saat ini, ia dipercaya sebagai Duta Keterbukaan Informasi UIN Syekh Wasil Kediri 2025. Ia juga aktif di Genre Kabupaten Kediri dan bekerja paruh waktu sebagai guru bahasa Jepang.

Pengabdian yang dilakoninya tidak hanya terbatas pada kampus. Ia sering turun ke pelosok desa, belajar bersama teman-teman disabilitas tuli, dan bahkan mengajar siswa yang jumlahnya hanya enam orang. Semua ini menunjukkan keberaniannya dalam mengejar mimpi meskipun memiliki keterbatasan ekonomi.

Pengalaman Berkesan

Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Fitria adalah saat ia menjadi Duta Informasi dan menggunakan bahasa isyarat di depan teman-teman kampusnya. Ia ingin mengajak mereka memahami disabilitas melalui bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. Ia juga membuka ruang belajar bahasa isyarat kepada masyarakat luas.

Baginya, keterbukaan informasi harus bisa diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Setiap individu layak dipahami dan dihargai.

Makna Kegagalan

Kegagalan bagi Fitria bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses. Ia percaya bahwa setiap retakan akan menghasilkan bunga. Ia menyadari bahwa keraguan adalah bentuk perlindungan diri agar tidak terluka. Namun, untuk terus tumbuh, ia mengajak semua orang untuk keluar dari zona nyaman dan tidak biarkan rasa ragu menghentikan langkah sebelum benar-benar mencoba.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *