BREBES – Semangat membara ditunjukkan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Wanasari, Kabupaten Brebes. Meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran operasional sekolah, para pelajar di sekolah yang terletak di wilayah pedesaan ini mampu membuktikan diri dengan mengukir prestasi hingga tingkat Jawa Tengah.

Salah satu prestasi membanggakan baru-baru ini diraih melalui ajang Generasi Berencana (GenRe). Setelah menyabet juara di tingkat kabupaten, perwakilan SMAN 1 Wanasari berhasil menembus jajaran 10 besar di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Kepala sekolah SMAN 1 Wanasari Marcha Solicha, S.Pd., M.Pd , melalui Wakil Kepala Sekolah (Waka) Bidang Kesiswaan SMAN 1 Wanasari, Ibu Rita Yuliana , S.Pd., dan Umamah, S.Pd.  mengungkapkan bahwa perjuangan anak didiknya tidaklah mudah, terutama dalam hal pendanaan. Ia menyebutkan bahwa alokasi dana operasional dari Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk kegiatan tersebut sangat terbatas.

“Dana operasional dari BOS hanya sekitar Rp 400.000. Tentu tidak mungkin jika hanya mengandalkan nilai sekecil itu, sementara antusiasme anak-anak sangat tinggi,” ujar Ibu Rita saat memberikan keterangan.

Demi menjaga api semangat para siswa, Ibu Rita mengambil langkah kreatif dengan melakukan penggalangan dana mandiri melalui pembuatan konten bertema “Peduli Anak Berprestasi”. Langkah ini diambil agar siswa tetap bisa berangkat lomba dengan fasilitas yang memadai.

“Alhamdulillah, dana yang terkumpul cukup lumayan. Uang tersebut digunakan anak-anak untuk menyewa pakaian adat dan keperluan lomba lainnya. Kami sangat bangga, meski kami sekolah desa, kami bisa bersaing dengan SMA-SMA besar di tingkat provinsi,” tambahnya.

Budaya Gotong Royong Guru

Fenomena keterbatasan anggaran dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) ternyata tidak hanya terjadi pada satu bidang. Ibu Rita membeberkan bahwa para guru di sekolah yang dipimpin oleh ibu Marcha Solikha, S.Pd., M.Pd. ini, kerap bergotong-royong merogoh kocek pribadi demi mendukung kegiatan siswa.

“Guru-guru di sini sering bergotong-royong menggalang dana karena anggaran terbatas. Kami tidak ingin mematahkan semangat anak-anak yang ingin berprestasi,” tegasnya.

Gudang Prestasi Ekstrakurikuler

Selain GenRe, SMAN 1 Wanasari juga aktif membina bakat siswa melalui 8 cabang ekstrakurikuler (ekskul), meliputi:

  • Pencak Silat
  • Pramuka
  • PMR (Palang Merah Remaja)
  • Paskibra (Peraih Juara 2 Tingkat Kabupaten tahun 2025)
  • Gulat (Bekerja sama dengan pelatih luar)
  • Paduan Suara
  • Rohis (Rohani Islam)

Saat ini, pihak sekolah telah memulai proses seleksi untuk berbagai perlombaan di tahun mendatang. Keberhasilan Paskibra meraih posisi Runner-Up tingkat kabupaten pada tahun 2025 menjadi pelecut semangat bagi ekskul lainnya untuk terus mengharumkan nama SMAN 1 Wanasari dan Kabupaten Brebes di kancah yang lebih luas.

Wujud Nyata Kepedulian SMAN 1 Wanasari: Dari Prestasi hingga Filantropi Guru Demi Cegah Putus Sekolah

Pendidikan bukan sekadar soal angka di atas kertas, melainkan tentang kepedulian dan pendampingan terhadap siswa. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh keluarga besar SMAN 1 Wanasari, Kabupaten Brebes. Melalui tim kesiswaan, sekolah ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang bagi siswa untuk tetap menuntut ilmu dan meraih prestasi.

Inisiatif Mandiri: Filantropi dari Gaji Guru

Salah satu program unggulan yang menyentuh hati adalah “Filantropi Guru”. Sadar akan kondisi ekonomi sebagian siswanya, 52 guru dan staf karyawan SMAN 1 Wanasari secara sukarela menyisihkan sebagian penghasilan mereka setiap bulan melalui pemotongan gaji.

Dana yang terkumpul dari donasi mulai Rp 20.000 hingga Rp 300.000 per orang ini dikelola secara ketat untuk membantu siswa dengan kategori “miskin ekstrem”. Saat ini, terdapat 15 siswa prioritas yang menerima bantuan rutin untuk uang saku, pembelian buku, tas, hingga perlengkapan sekolah lainnya.

“Tujuannya satu: memastikan anak-anak kita tetap bisa sekolah dan mendapatkan hak pendidikan yang layak, meski dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit,” ungkap perwakilan tim kesiswaan dalam keterangannya.

Restu dan Kursi Roda Baru

Aksi nyata sekolah juga terlihat saat membantu Restu, siswa kelas 10.5 yang menyandang disabilitas. Melalui penggalangan dana internal, tim kesiswaan berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp3.500.000.

Seluruh dana tersebut disalurkan dalam bentuk kursi roda berkualitas tinggi seharga Rp 3.200.000. Bantuan ini diharapkan dapat mempermudah mobilitas Restu, baik saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas maupun saat menjalankan ibadah di lingkungan sekolah.

Pendampingan Personal: Kisah Alvin dan Perhatian untuk Siswa Rentan

SMAN 1 Wanasari juga proaktif dalam melakukan langkah preventif terhadap siswa yang berniat putus sekolah. Seperti kisah Alvin, siswa asal Sidamulya yang hampir menyerah saat duduk di kelas 10 karena sang ayah meninggal dunia. Berkat dorongan moral dan bantuan biaya operasional dari wali kelas serta pihak sekolah, Alvin berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga lulus.

Tak hanya itu, perhatian ekstra juga diberikan kepada siswa dengan kondisi keluarga yang sangat berat, termasuk mereka yang orang tuanya mengalami gangguan jiwa (ODGJ). Sekolah memastikan mereka tidak merasa sendiri dan tetap memiliki semangat juang untuk bersekolah.

Keseimbangan Prestasi dan Karakter

Meski fokus pada aspek sosial, SMAN 1 Wanasari tetap melesat di bidang prestasi. Sekolah dengan total 737 siswa ini terus mencetak atlet dan kader unggul melalui kegiatan ekstrakurikuler. Beberapa bidang yang rutin menyumbangkan piala bagi sekolah antara lain Pencak Silat (Siladan), Paskibra, dan Futsal.

Dengan semangat kebersamaan antara guru dan siswa, SMAN 1 Wanasari membuktikan bahwa sekolah bisa menjadi rumah kedua yang hangat sekaligus jembatan menuju masa depan yang lebih baik bagi siapa saja, tanpa terkecuali.

Penulis: Teguh AW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *