Wartajayavision.com,– Kompetisi Piala Presiden 2025 telah usai, dengan Port FC sebagai juara setelah mengalahkan wakil Inggris, Oxford United. Selain keberhasilan klub asal Thailand ini, ada kisah yang bisa menjadi pelajaran.

Turnamen pramusim dengan nama Piala Presiden memang menyajikan beberapa fakta yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Selain kemenangan 2-1 Port FC, sedikit orang yang mengetahui bahwa ajang ini ternyata berdampak besar terhadap perekonomian.

Jika dilakukan secara terus-menerus, tidak menutup kemungkinan menjadi sumber penghasilan, baik untuk masyarakat setempat maupun negara secara keseluruhan.

Sebuah contoh kecil ketika pelaku UMKM merasakan manfaat dari penyelenggaraan Piala Presiden 2025. Saat pertandingan sepak bola berlangsung di Bandung, khususnya di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), penjualan dari pelaku UMKM ikut meningkat.

Keuntungan mereka semakin meningkat karena lebih dari 100 pelaku UMKM memperoleh ruang gratis untuk berjualan di GBLA. Meskipun omzetnya bervariasi, setidaknya mereka mampu meraih pendapatan bersih hingga jutaan rupiah setiap hari.

“Kami berterima kasih atas penyelenggaraan turnamen ini (Piala Presiden 2025). Kesempatan ini memberi kami, sebagai pelaku UMKM, kesempatan untuk memiliki tempat gratis, serta kesempatan mencari keuntungan dengan berjualan,” ujar Ibu Sri, yang menjual souvenir khas Bandung.

Belajar Transparansi

Yang paling menarik perhatian tentu saja kejelasan dalam menyelenggarakan suatu acara. Selain itu, dana miliaran rupiah yang didapat dari para sponsor dapat diatur dengan baik.

Ya, tahun ini panitia tidak mempercayai dana dari APBD maupun APBN. Seluruhnya berasal dari sponsor yang diaudit oleh pihak ketiga.

Ketua Steering Committee, Maruara Sirait, menyampaikan bahwa dana sponsor telah mencapai Rp 68 miliar. Selain itu, tidak ada pendanaan dari pemerintah yang masuk untuk penyelenggaraan acara ini. Fakta tersebut tentu menjadi inovasi yang langka dalam penyelenggaraan even olahraga di Indonesia.

Seluruh dana yang terkumpul digunakan untuk berbagai sesi acara, mulai dari hadiah pemenang, bantuan kepada tim peserta, hingga kelancaran acara nonkompetitif seperti hiburan, keamanan, dan fasilitas UMKM.

Oleh karena itu, panitia tidak meminta uang sedikit pun dari pelaku UMKM. “Jika Persib masuk pasti lebih ramai lagi, kan? Tapi, cukup bagus juga. Jujur saja, jika Persib masuk pasti lebih ramai. Tapi, kita tidak mengatur skor,” kata Maruara.

“Bebas. Ya, itu adalah permainan yang adil. Jadi, kita tentu senang karena kita tidak memungut biaya sewa. Tidak memberikan uang sewa. Agar mereka bahagia saja. Seperti pesan presiden yang harus berdampak kepada rakyat kecil. Ya, kepada ojek, hotel, perumahan yang ada. Mungkin sewa-sewa, lalu untuk makanan-makanan, pedagang kaki lima, dan penjual keliling. Harus ada dampaknya bagi perekonomian lokal. Harus ada masyarakat. Itu pesan Presiden Prabowo yang harus kita jaga,” tambahnya.

Jelas, penyelenggaraan Piala Presiden 2025 bisa menjadi contoh nyata bahwa pertandingan sepak bola mampu berjalan bersih, profesional, dan yang terpenting menjunjung transparansi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *