Peran Forum Musyawarah Kubro dalam Menyelesaikan Konflik Internal PBNU

Forum Musyawarah Kubro yang diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri menjadi salah satu langkah penting dalam mencari solusi konflik internal organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Pengurus Besar NU (PBNU), Pengurus Wilayah NU (PWNU), dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Indonesia. Dengan hadirnya para tokoh dan pengurus dari berbagai wilayah, forum ini diharapkan mampu menjadi wadah untuk menjembatani perbedaan pendapat dan membangun kesepahaman.

Salah satu tokoh yang turut hadir adalah KH Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU. Ia mengajak semua pihak untuk menghormati pertemuan tersebut, meskipun ia merasa ironis dan malu dengan situasi konflik yang terjadi saat ini. Bagi dirinya, hal ini bertentangan dengan prinsip NU sebagai organisasi yang biasanya menjadi penengah dalam berbagai konflik. “Sungguh sangat ironis, sungguh sangat malu, yang konon katanya kita bisa menjadi penengah, moderat, tawasut (moderasi), tawazun (keseimbangan), yang bisa menjadi penengah konflik dimana pun berada, eh kita sendiri berkonflik,” ujarnya.

KH Said Aqil Siroj menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri. Ia meminta setiap pihak untuk mengevaluasi diri sendiri dan tidak langsung menyalahkan orang lain. “Kalau sudah muhasabah, mari semua katakan, yang salah saya bukan siapa-siapa. Kami yang salah. Kenapa separah ini perselisihan di PBNU dan ini menjadi tertawaan semua orang baik non-NU dan non-muslim,” tambahnya.

Pertemuan ini juga merupakan kelanjutan dari beberapa rapat sebelumnya, seperti yang digelar di Pesantren Al Falah, Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, serta Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang. Setiap kali ada pertemuan, tujuannya selalu sama, yaitu mencari solusi damai bagi konflik yang terjadi. Tidak hanya itu, dia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak ikut campur dalam konflik ini. “Sampai sekarang Istana tidak ikut campur, sampai kapan kita seperti ini. Mari kita cepat selesaikah, islah, pertemuan. Kalau tidak, muktamar diserahkan ke pimpinan cabang dan pimpinan wilayah (PCNU dan PWNU),” ujarnya.

Tanggapan dari Ketua Umum PBNU

Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, menyatakan bahwa dirinya terbuka untuk memberikan klarifikasi dan tabayun terhadap apapun yang dibutuhkan. Ia menegaskan bahwa dirinya selalu menginginkan islah sejak awal. “Sejak awal, sejak detik pertama saya juga senantiasa menginginkan islah. Saya siap berislah binaan al haq (kebenaran), tidak binaan al batin (yang tersembunyi). Dan saya sepenuhnya taslim (tunduk, patuh), apa yang telah disepakati hadirin oleh PWNU, PCNU se-Indonesia juga Mustasyar,” katanya.

Gus Yahya, sapaan akrabnya, juga mengaku telah memberikan pesan kepada Rais Aam usai adanya kesepakatan antara PWNU dan PCNU seluruh Indonesia. Namun hingga kini, ia belum mendapatkan jawaban. “Tadi begitu mendengar apa yang disampaikan dari kesepakatan PWNU dan PCNU seluruh Indonesia, saya langsung mengirim pesan ke Rais Aam mohon waktu untuk menghadap, tapi sekarang belum dapatkan jawaban. Saya akan tunggu sampai 3×24 jam dan saya akan lapor kembali,” ungkapnya.

Harapan Masyarakat Terhadap Solusi Konflik

Forum Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri juga mendesak agar kedua belah pihak di PBNU segera melakukan islah. Dengan demikian, konflik yang terjadi bisa segera selesai. Forum ini diikuti oleh PWNU, PCNU seluruh Indonesia serta PCINU baik secara langsung maupun daring. Keberadaan berbagai pihak dalam forum ini menunjukkan komitmen bersama untuk mencari solusi yang lebih baik.

Dalam konteks yang lebih luas, konflik ini juga menjadi perhatian masyarakat luas, baik dari kalangan NU maupun non-NU. Banyak yang berharap agar PBNU bisa segera kembali pada prinsip utamanya sebagai organisasi yang moderat dan menjadi penengah dalam berbagai konflik. Dengan demikian, PBNU bisa tetap menjadi panutan bagi masyarakat Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *