Kemandirian Keuangan NU di Nganjuk dan Mojokerto
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Nganjuk, Jawa Timur, kini tidak lagi mengandalkan proposal sumbangan untuk membiayai operasional kantornya. Berbagai kegiatan rutin yang sebelumnya bergantung pada iuran jemaah atau bantuan pemerintah, kini dapat dikelola secara mandiri. Hal ini menunjukkan perubahan signifikan dalam strategi pengelolaan keuangan organisasi.
Kemandirian ini telah tercapai sejak lima tahun lalu, ketika NU Nganjuk mendirikan PT Persada Nawa Kartika. Unit usaha pertama yang dibangun adalah Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) dengan merek NU Cless. Selain itu, perusahaan ini juga memproduksi rokok kretek bernama NU Cleer.
Di Mojokerto, NU juga memiliki gedung pertemuan mewah yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk penyewaan untuk resepsi perkawinan. Gedung ini dibangun bukan dari iuran warga, melainkan dari hasil sisa usaha rumah sakit milik NU di salah satu kabupaten di Jawa Timur.
Peran Pesantren dalam Ekonomi Rakyat
Pesantren menjadi basis utama NU, namun perannya tidak hanya sebagai lembaga pengajaran ilmu agama. Sejak ratusan tahun lalu, pesantren juga menjadi lembaga ekonomi yang menggerakkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Di dalamnya terdapat penguasaan lahan, relasi perdagangan, serta produsen etos atau nilai-nilai sosial.
NU dengan akar sosio-kulturalnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan kekuatan ekonominya. Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, dengan jumlah anggota lebih dari 150 juta jiwa, NU memiliki potensi sebagai produsen, konsumen, dan tenaga kerja yang besar. Ditambah dengan jaringan sosial-teritorial yang luas, mulai dari tingkat desa hingga kota, serta akses ke negara yang semakin kuat dengan semakin banyaknya kader NU di legislatif, eksekutif, dan birokrasi.
Namun, kekuatan sosio-kultural tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kekuatan ekonomi yang terkonsolidasi dan terintegrasi. Berbagai unit usaha yang dibentuk oleh pengurus NU di tingkat lokal masih terfragmentasi dan dalam skala kecil. Akibatnya, kekuatan sosial, kultural, dan moral NU belum menjadi kekuatan ekonomi kolektif yang sejalan dengan kebesaran warga Nahdliyin di negeri ini.
Agenda Transformasi NU
Agenda utama NU ke depan adalah bagaimana bertransformasi dari sebuah organisasi dengan kekuatan sosial, politik, dan kultural menjadi gerakan ekonomi yang terorganisir secara berkelanjutan. Jika berhasil mengkonversi kekuatannya tersebut menjadi kekuatan ekonomi, maka NU bisa menjadi penyeimbang dari ekosistem ekonomi nasional yang cenderung kapitalis-oligarkis.
Transformasi kelembagaan tersebut dapat dilakukan dengan menjadikan institusi inti NU seperti PBNU –dengan berbagai lembaga dan badan otonomnya– sebagai orkestrator berbagai kegiatan ekonomi yang telah ada. Bukan operator tunggal. Misalnya, mengkonsolidasikan unit usaha pesantren, koperasi, BMT, dan bahkan perseroan yang telah ada secara lintas wilayah.
Pemisahan Otoritas Moral dan Manajemen Profesional
Semua itu perlu diikuti dengan pemisahan yang tegas antara otoritas moral dan manajemen profesional. Seperti memisahkan pimpinan struktur NU sebagai pengurus unit usaha. Pimpinan struktural menjadi pengendali saham dan menjalankan fungsi kontrol, sedangkan manajemen diserahkan kepada profesional.
Menggeser Ketergantungan pada Figur
Hal lain yang penting untuk menjadi agenda transformasi adalah menggeser ketergantungan NU terhadap figur ke dalam sistem dan tata kelola. Persoalan ini bukan hanya menjadi problem utama di organisasi, tapi juga dalam kegiatan ekonomi NU. Umumnya, berbagai kegiatan usaha NU yang ada merupakan inisiatif kiai maupun pimpinan NU setempat. Basisnya adalah trust yang tinggi. Sehingga, ketika kiai atau pemimpin NU itu berhalangan, kegiatan usaha cenderung ikut melemah dan bubar.
Apalagi kalau unit usaha NU tersebut dibangun atas kemitraan bisnis berbasis jaringan pribadi. Kegiatan usaha berbasis jaringan pribadi umumnya tidak diikuti dengan kontrak bisnis profesional dan bergantung pada goodwill dan kedekatan. Dalam praktik, kegiatan usaha yang dibangun seperti ini lebih rentan terhadap konflik, rawan dikooptasi, serta sulit diaudit dan dipertanggungjawabkan.
Masa Depan Gerakan Sosial Ekonomi NU
Harus diakui, kebesaran NU saat ini dibangun atas kekuatan kharisma figural dari para pendiri dan pemimpinnya. Dengan kekuatan kharisma figural itu, antara lain membuat NU bisa bertahan sebagai organisasi besar hingga berusia seabad seperti sekarang. Karena itu, ketergantungan NU pada figur ini bukanlah kesalahan historis. Untuk mentransformasikan kekuatan NU menjadi kekuatan ekonomi, hal ini bisa menjadi modal awal.
Masa depan gerakan sosial ekonomi NU akan sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi ini dalam mentransformasikan solidaritas kultural menjadi kekuatan ekonomi umat yang terlembaga, terkonsolidasi, dan berkelanjutan. Transformasi bukan harus dimulai dari titik nol. Aksi ini bisa dilakukan dengan sekadar melembagakan berbagai kekuatan ekonomi yang telah ada tapi masih terfragmentasi menjadi aksi bersama secara nasional. Dan yang penting, semuanya bisa dilakukan tanpa harus kehilangan nilai-nilai ke-NU-an.









