Sejarah Masjid Taqwa Sekayu yang Menyimpan Jejak Wali di Kota Semarang

Masjid Taqwa Sekayu, yang terletak di Jalan Sekayu Masjid Nomor 328, RT05 RW01 Sekayu, Semarang Tengah, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menyimpan jejak penting dari masa kejayaan Kerajaan Majapahit hingga lahirnya Kesultanan Demak. Berdiri di tengah permukiman yang rapat, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga memiliki peran strategis dalam sejarah pertahanan dan logistik wilayah pesisir.

Ketua Dewan Takmir Masjid Taqwa Sekayu, Achmad Arief, menjelaskan bahwa kawasan Sekayu sejak awal sudah dikuasai oleh Kerajaan Majapahit sebagai wilayah pelabuhan strategis. Pada masa itu, Pelabuhan Tanjung Mas menjadi pusat perdagangan yang ramai dikunjungi oleh bangsa-bangsa asing seperti Portugis, Belanda, Inggris, India, dan Tiongkok. Mereka datang untuk berdagang, terutama rempah-rempah.

Persaingan antara bangsa-bangsa asing tersebut memicu kekhawatiran para wali, terutama mengenai siapa yang akan menguasai jalur niaga dan keamanan wilayah pesisir. Hal ini mendorong para wali, termasuk Sunan Kudus, untuk menyusun sistem pertahanan yang lebih efektif.

Strategi Para Wali dalam Menghadapi Ancaman

Sunan Kudus, yang dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Islam di Jawa, bukan hanya ahli agama, tetapi juga seorang pedagang dan strategis. Ia bahkan pernah menjadi penasihat Majapahit. Menurut Achmad Arief, saat itu pertahanan Majapahit terpusat di darat, sehingga para wali berpikir bahwa pelabuhan juga harus diawasi. Oleh karena itu, Semarang ditunjuk sebagai wilayah pengawasan.

Kesepakatan para wali terjadi pada masa akhir Majapahit, ketika raja terakhirnya memiliki hubungan darah dengan Raden Patah. Kondisi ini membuat Islam dan Hindu hidup berdampingan dalam satu fase transisi. Salah satu tokoh yang berperan besar dalam fase awal ini adalah Sunan Gunung Jati, yang mengutus muridnya, Kiai Kamal, dari Cirebon ke Sekayu.

Asal-Usul Nama Sekayu

Achmad Arief menuturkan bahwa kondisi geografis Sekayu kala itu sangat berbeda dengan sekarang. Wilayah di belakang masjid yang kini padat bangunan dulunya adalah laut dan sungai. “Bagian belakang masjid itu dulu laut. Ke arah kanan itu bekas Sungai Riban,” ujarnya. Jika kawasan itu nanti menjadi wisata air, orang bisa naik perahu dari sekitar Jalan Pemuda sampai ke sini.

Letak strategis itulah yang membuat Sekayu dipilih sebagai pusat pengumpulan kayu untuk pembangunan kerajaan Islam pertama di Jawa. Nama Sekayu berasal dari fungsinya sebagai sentral pengumpulan kayu. Kayu-kayu dikirim dari berbagai daerah seperti Ambarawa dan Ungaran di selatan, Kendal–Weleri di barat, Grobogan dan Kedungjati di timur, hingga kawasan Solo.

Sejarah Pembangunan Masjid Taqwa Sekayu

Masjid Taqwa Sekayu dibangun pada tahun 1413. Fakta ini telah melalui proses kajian dan survei. “Ini sudah diteliti. Tahun 2010 pejabat Dirjen Kementerian Agama, tim cagar budaya, sampai media nasional datang ke sini. Semua kami tunjukkan,” kata Achmad Arief. Masjid ini bahkan disebut lebih tua dari Masjid Agung Demak dan dinyatakan sebagai salah satu masjid tertua di Jawa Tengah.

Bendera yang ada di masjid ini bukan sekadar simbol biasa, karena dulu ini pusat pertahanan dan perjuangan. Beberapa peninggalan bersejarah masih dipertahankan hingga kini, antara lain soko guru dari pendopo Majapahit, mustaka di puncak atap, mihrab, pintu kayu tebal dengan engsel kuno, serta sumur tua.

Peninggalan yang Masih Asli

Soko itu dulu sempat dibuka, tetapi banyak orang dari luar kota datang malam-malam untuk zikir di situ. Akhirnya, mereka tutup demi ketertiban. Masjid ini telah mengalami enam kali renovasi, namun unsur utama tetap dijaga keasliannya.

Di sekitar masjid terdapat makam yang diyakini sebagai makam Kiai Kamal. Proses penataan makam dilakukan dengan pertimbangan keagamaan dan arsitektur. “Masjid tidak boleh berada tepat di atas makam. Maka dipindahkan dengan cara yang sangat hati-hati, malam hari, dan hanya diketahui beberapa orang,” jelasnya.

Sejarah Masjid Taqwa Sekayu, diakui Achmad Arief, banyak disusun dari tradisi lisan hikayat dari ulama ke ulama yang kemudian diperkuat dengan kajian akademik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *