Ketika udara dingin menusuk tulang di malam hari dan siang hari udara panas terasa lebih menyengat karena kurangnya awan yang menghalangi sehingga radiasi panas matahari langsung menyentuh bumi, kondisi ini biasa disebut sebagai musim bediding atau kemarau basah.
Sebutan musim bediding merujuk pada suhu dingin sementara kemarau basah merujuk pada curah hujan. Masalahnya, musim bediding membuat fisik menjadi rentan terhadap penyakit. Perubahan suhu ekstrem di musim bediding inilah yang membuat tubuh menjadi mudah terserang penyakit.
Sebab perubahan suhu yang ekstrem bisa memicu berbagai masalah kesehatan seperti ISPA, flu, asma, alergi, sinusitis hingga masalah kulit.
Untuk menghindari kerentanan tersebut, secara umum kondisi dan stabilitas tubuh atau fisik harus dijaga dengan cukup istirahat, makan makanan bergizi, menjaga kebersihan diri dan berolahraga serta menghindari kontak dengan orang sakit.
Selain itu, penting juga menciptakan kehangatan untuk lebih menstabilkan stamina tubuh, kesehatan fisik dan kewarasan di musim bediding.
Terlebih masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau di tahun ini ternyata di luar prediksi dari BMKG. Sehingga musim bediding pun cenderung menjadi lebih panjang.
Seperti dikutip dari kumparan.com, berdasarkan informasi yang disampaikan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada Antara, musim hujan 2025 di Indonesia berakhir pada akhir bulan Maret. Lalu pada bulan April, mulai terjadi transisi dari musim hujan ke musim kemarau secara bertahap.
“Musim hujan diprediksi akan berakhir sampai bulan Maret, akhir Maret 2025, dan April itu transisi dari musim hujan ke musim kemarau,” ucap Dwikorita Karnawati dikutip dari Antara (5/2).
Faktanya, hingga 6-7 Juli 2025 wilayah Jakarta dan sekitarnya masih diguyur hujan bahkan dengan intensitas yang cukup tinggi sampai menimbulkan genangan air atau banjir di banyak lokasi di Jakarta. Informasinya lebih dari 100 RT di Jakarta terendam air di dua hari tersebut.
Kemarau basah yang ternyata keluar dari prediksi lebih dari dua bulan, barangkali lebih tepat disebut musim hujan yang memanjang akibat angin monsun, letak geografis dan efek la nina– tidak hanya menghadirkan dingin yang menusuk di malam hari atau panas yang menyengat di siang hari, melainkan tingkat stres yang bisa mengganggu kewarasan tiap individu.
Akibat curah hujan yang masih terus mengguyur di luar prediksi cuaca, pastinya telah mengubah banyak jadwal acara penting yang sudah terencana, mengurungkan janji sepakat, membatalkan transaksi, kemacetan parah di banyak titik hingga bencana banjir di luar waktu yang umum terjadi.
Pada fase seperti itulah kehangatan perlu diciptakan untuk menjaga dan menguatkan stamina, kesehatan dan kewarasan yang tidak hanya sekadar berupaya menghadirkan suhu panas untuk melawan suhu dingin yang menyerang atau mengusir suhu panas dengan menghadirkan teknologi pendingin yang telah semakin canggih dan variatif.
Suhu dingin yang sering kali membuat kemalasan tumbuh pesat dan konsentrasi gampang buyar hingga mampu menjebak tubuh dalam diam dan mematikan segenap gerak lalu lebih cenderung memilih aktivitas tidur, rebahan, selimutan, berleha-leha atau semacamnya tentu tidak akan memberikan manfaat, cuma membuang waktu hingga lebih berpotensi mudah terserang penyakit.
Sementara sebaliknya, suhu panas yang jauh lebih mudah memicu emosi membuat kewarasan setiap orang yang tidak mampu mengendalikannya akan cepat terbakar saat tersulut oleh sedikit pemantik apa pun bentuknya.
Bila sampai terjadi emosi seseorang terbakar, tentunya akan mengganggu keseimbangan kondisi psikis dan mentalnya, yang berakibat pula pada menurunnya stamina, konsentrasi yang hilang higga gangguan pada kesehatan fisik dan kewarasannya.
Maka untuk mencegah kemalasan yang bertumbuh dan tetap memiliki konsentrasi tinggi di suhu dingin serta mampu mengendalikan emosi di suhu panas apa pun pemantiknya, setiap individu perlu menciptakan kehangatan untuk menjaga dan menguatkan stamina, kesehatan fisik dan kewarasan di musim bediding.
Adapun menciptakan kehangatan yang dimaksud bukanlah sekadar kehangatan untuk mengubah suhu dingin atau sebaliknya suhu panas menjadi hangat agar tubuh atau fisik tidak kedinginan atau kepanasan, melainkan berupaya menciptakan kehangatan fisik dan tubuh untuk merasakan ketenangan, kedamaian, kesegaran, semangat, vitalitas atau stamina yang baik hingga kesehatan fisik tetap terjaga.
Menciptakan kehangatan yang dimaksud juga berarti menghadirkan dan menghidupkan suasana hati dan jiwa ke dalam setiap aktivitas yang dilakukan di musim bediding agar tidak terjebak pada kemalasan, melemahnya konsentrasi bahkan hilang sampai menjauhkan emosi yang mudah terpantik.
Jadi, untuk menjaga dan menguatkan stamina tubuh, kesehatan fisik dan kewarasan di musim bediding diperlukan aktivitas yang tidak hanya dapat menghadirkan kehangatan secara harfiah, tetapi sekaligus pula menciptakan kehangatan dalam arti luas.
Yaitu kehangatan yang mampu mematikan kemalasan, menghidupkan konsentrasi tetap terjaga dan mengaktifkan kesadaran pada tingkat kesadaran kritis sehingga emosi tak mudah tersulut oleh pemantik sebesar apa pun.
Kehangatan yang dihadirkan untuk menjadikan suhu dingin atau panas menjadi suhu di antaranya ke setiap ruangan, kamar atau lokasi tempat seseorang beraktivitas.
Sebuah kehangatan dalam konteks menjaga suhu ruangan, kamar atau lokasi dengan menggunakan out fit di tubuh atau alat bantu teknologi seperti pendingin atau penghangat.
Kemudian menghadirkan kehangatan ke dalam tubuh atau fisik untuk menjaga keseimbangan kerja organ-organ, sirkulasi aliran darah dan metabolisme tubuh.
Sampai menghadirkan kehangatan ke dalam hati, perasaan, jiwa sampai ke psikis dan mental setiap individu di musim bediding.
Maka aktivitas yang perlu dilakukan untuk menciptakan kehangatan tersebut antara lain adalah aktivitas yang meliputi hal berikut ini:
1. Mengubah kebiasaan aktivitas makan makanan dan minum minuman hangat yang tidak sekadar makan makanan hangat atau minum teh atau kopi hangat, melainkan makanan dan minuman hangat yang dapat memberikan kehangatan bagi tubuh sekaligus yang dapat memberikan manfaat untuk membantu menjaga daya tahan tubuh, stamina atau vitalitas dan kesehatan tubuh.
Tentunya jenis makanan dan minuman hangat yang memiliki kandungan nilai gizi atau yang mempunyai khasiat herbal dengan penyajian yang tepat termasuk cara memasaknya agar kandungan nilai gizi atau khasiat herbalnya tidak tereduksi hingga unsur manfaatnya hilang.
2. Setelah memperhatikan asupan, aktivitas selanjutnya adalah olahraga yang bisa memberikan kehangatan dan terhindar dari paparan udara dingin atau sengatan panas secara langsung.
Beberapa pilihan yang baik adalah jalan kaki, bersepeda, bersepeda statis, jogging di pagi hari sebelum matahari terbit atau sore hari setelah matahari sedikit meredup dan olahraga ringan lainnya dengan memperhatikan out fit yang sesuai, dan asupan makanan dan minuman yang layak bagi tubuh.
3. Sedangkan menciptakan kehangatan untuk menjaga dan menguatkan kewarasan salah satunya adalah dengan menghadirkan suasana-suasana hangat yang membangkitkan semangat melalui aktivitas-aktivitas positif di musim bediding.
Seperti aktivitas berkumpul dan berdiskusi tentang segala hal positif dengan keluarga, teman atau komunitas di dekat api unggun misalnya, sambil bermain atau berbagi pengalaman dengan tetap memerhatikan out fit dan asupan di poin satu. Semua bentuk aktivitas bersama yang bisa menciptakan kehangatan hati dan jiwa, terutama menciptakan kehangatan keluarga.
4. Sesudah tiga aktivitas dilakukan untuk menciptakan kehangatan dalam arti luas, dapat dipastikan kemalasan tidak akan tumbuh, konsentrasi akan terjaga sehingga daya nalar kritis selalu siap untuk mampu mengantisipasi segala bentuk pemantik yang dapat menyulut terbakarnya emosi dengan aksi (ativitas akhir) kesabaran dan lapang dada walaupun diuji oleh hantaman deras hujan, kemacetan parah, banjir atau masalah-masalah yang ditimbulkan oleh musim kemarau basah yang di luar prediksi cuaca.
Referensi
https://kumparan.com/berita-hari-ini/kapan-musim-hujan-di-indonesia-berakhir-untuk-periode-2024-2025-ini-jawabannya-24sLbdSRUg0/3









