Ketersediaan Gas Elpiji 3 Kilogram di Kabupaten Bone

Pengguna tabung gas elpiji 3 kilogram di Kabupaten Bone kini semakin mengalami kesulitan dalam mendapatkan pasokan. Meskipun Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi menyatakan bahwa stok LPG subsidi tersebut dalam kondisi aman dan terkendali, banyak warga masih mengeluhkan sulitnya memperoleh tabung gas.

Salah satu faktor yang disebut sebagai penyebab kelangkaan adalah penambahan pasokan oleh Pertamina. Menurut Sales Branch Manager (SBM) Sulselbar VI Gas, Wahyu Purwatmo, sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, Pertamina telah menyalurkan tambahan sebanyak 44.240 tabung elpiji 3 kilogram di Kabupaten Bone. Jumlah ini setara dengan sekitar 7,4 persen dari total penyaluran bulanan. Penambahan dilakukan melalui mekanisme fakultatif dan extra dropping.

“Langkah ini dilakukan untuk memastikan stok tetap aman dan distribusi berjalan lancar,” ujar Wahyu. Namun, klaim ini dinilai tidak sejalan dengan pengalaman masyarakat di lapangan.

Banyak ibu rumah tangga di beberapa kecamatan di Kabupaten Bone mengeluhkan kesulitan dalam mendapatkan gas elpiji 3 kilogram. Bahkan, kelangkaan ini disebut telah terjadi sejak sepanjang tahun 2026. Seorang warga Kecamatan Dua Boccoe, Rahman, mengungkapkan bahwa gas elpiji subsidi sering kosong di pangkalan. Akibatnya, warga terpaksa kembali menggunakan bahan bakar kayu untuk memasak kebutuhan sehari-hari.

“Kalau dibilang aman, kami di kampung justru susah sekali dapat gas. Sudah sering kosong dari awal tahun. Sekarang terpaksa pakai kayu bakar lagi,” ujar Rahman saat dikonfirmasi Wartajayavision.com, Kamis (22/1/2026).

Keluhan serupa juga disampaikan oleh warga Kecamatan Tanete Riattang Timur, Melada. Seorang ibu rumah tangga mengaku telah berkeliling sejak malam hari mencari gas elpiji, namun tidak berhasil mendapatkannya di sejumlah pangkalan maupun pengecer.

“Saya sudah keliling Watampone sejak semalam, tapi tidak dapat juga. Akhirnya beli dengan harga Rp35 ribu per tabung karena memang sudah sangat dibutuhkan,” ungkapnya.

Menurutnya, selain sulit didapat, harga gas elpiji 3 kilogram juga kerap melampaui harga eceran tertinggi (HET), sehingga semakin memberatkan masyarakat kecil. Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama aparat terkait segera melakukan evaluasi dan pengawasan distribusi LPG subsidi agar penyalurannya benar-benar tepat sasaran dan kondisi di lapangan sesuai dengan klaim ketersediaan yang disampaikan.

Penyebab Kelangkaan Gas Elpiji 3 Kilogram

Kelangkaan gas elpiji (LPG) 3 kg yang sering dirasakan masyarakat Indonesia belakangan ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, bukan hanya satu hal saja. Berikut adalah penyebab-penyebabnya secara ringkas dan jelas:

  • Perubahan Regulasi Penyaluran

    Pemerintah sempat menerapkan aturan ketat di mana penjualan elpiji 3 kg hanya boleh melalui pangkalan resmi (bukan di warung/pengecer biasa) untuk memastikan subsidi tepat sasaran. Akibatnya distribusi menjadi terbatas dan masyarakat sulit mendapatkannya seperti biasa, antrian panjang terjadi di pangkalan resmi.

  • Penurunan Kuota Distribusi

    Stok atau alokasi elpiji subsidi 3 kg yang didistribusikan ke daerah bisa turun dibanding tahun sebelumnya. Hal ini membuat jumlah gas yang tersedia di pasar menjadi lebih sedikit sehingga terkesan langka.

  • Isu “Panic Buying” / Borong

    Beberapa pengecer atau penjual kadang memborong stok (panic buy) sehingga pasokan cepat habis di pangkalan resmi, dan mereka menjual ulang di warung dengan harga lebih tinggi. Ini membuat seolah-olah gas benar-benar langka padahal stok terpusat di pihak lain.

  • Permintaan Tinggi Karena Peralihan Konsumsi

    Karena perbedaan harga subsidi yang jauh antara elpiji 3 kg dan ukuran lebih besar, banyak orang beralih memakai elpiji 3 kg meskipun bukan kelompok penerima subsidi. Ini meningkatkan permintaan dan membuat pasokan terasa semakin menipis.

  • Keterbatasan Produksi Domestik & Ketergantungan Impor

    Indonesia masih harus mengimpor sebagian besar LPG karena produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan total. Ketergantungan impor membuat stok bisa terganggu oleh dinamika pasar global atau logistik impor.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *