Wartajayavision.com,


,


Palembang


– Kalau biasanya hanya minum

kopi

di kafe, di SMKN 1 Jarai Lahat, Sumatera Selatan, Anda bisa menyaksikan langsung bagaimana biji kopi dijemur dengan kecerdasan buatan.

Di balik sejuknya lereng

Bukit Barisan

yang dikenal sebagai penghasil kopi robusta unggulan di Sumatera Selatan, kini hadir inovasi yang menyatukan teknologi mutakhir dan tradisi pertanian rakyat. Salah satunya adalah Smart Solar Dryer, alat penjemur kopi pintar berbasis AI dan IoT yang jadi daya tarik baru bagi wisatawan pencinta kopi.

Dikembangkan oleh tim dari Politeknik Negeri Sriwijaya melalui Program Katalis Kemitraan Berdikari yang didanai LPDP, alat ini dirancang oleh Ade Silvia Handayani, dosen elektro yang juga aktif menggandeng sekolah kejuruan di wilayah Jarai.

Dari Tradisi ke Inovasi: Kopi dan Teknologi

Biasanya, penjemuran kopi dilakukan di halaman rumah atau di pinggir jalan. Sayangnya, cara itu rentan kontaminasi debu, hujan, bahkan dilindas kendaraan. Kini, dengan adanya inovasi Smart Solar Dryer, wisatawan bisa melihat proses penjemuran kopi di dalam greenhouse kecil berukuran 3 x 3 meter yang sepenuhnya tertutup dan dikendalikan oleh sistem digital.

“Sistem ini menjaga suhu 40–50 derajat Celsius, suhu ideal untuk karamelisasi kopi. Hasilnya, rasa akan lebih konsisten, aroma kuat, dan tentu lebih higienis,” kata Ade Silvia saat ditemui Tempo di SMKN 1 Jarai, lokasi pengembangan alat tersebut, Senin 16 Juni 2024.



Greenhouse Smart Solar Dryer yang ada di belakang Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Jarai, Kabupaten Lahat. Senin, 16 Juni 2025. TEMPO/Yuni Rahmawati

Pascapanen Futuristik di Tengah Alam

Yang menarik, alat ini tidak membutuhkan listrik. Di tengah perbukitan yang sulit dijangkau jaringan, Smart Dryer ditenagai panel surya berdaya 400 watt. Siang hari alat ini mengisi baterai, malamnya energi digunakan untuk mengontrol suhu. Teknologi ramah lingkungan ini pun sejalan dengan tren

ekowisata

dan wisata berkelanjutan yang makin diminati.

Selain efisien, semua prosesnya bisa dipantau lewat ponsel Android atau

website

yang dilengkapi CCTV untuk memantau keamanan saat malam.

Dari Kebun ke Cangkir: Semua Bisa Dikunjungi

Lokasi Smart Dryer yang berada di SMKN 1 Jarai itu, juga membuka diri sebagai pusat edukasi kopi. Para siswa di jurusan Agribisnis mengelola rumah produksi kopi yang dimiliki secara pribadi oleh sekolah sebagai mata pelajaran ekstrakulikuler. Para siswa yang mengerjakan dari proses pengeringan, huller, pulper, sampai pengemasan hingga ruang barista dan ruang roasting.

Sebelum adanya Smart Solar Dryer, sekolah ini sudah lebih dulu memiliki produk dengan nama Aseja, yang diambil dari Asli Sekolah Jarai. Namun, dengan pemasaran yang masih lokal, Smart Solar Dryer membantu hilirisasi produk baru dengan nama Cuvee melalui Rumah Kopi Sriwijaya, dengan potensi ekspor luar negeri yang besar.

“Biasanya wisatawan datang hanya untuk foto di kebun kopi. Sekarang mereka bisa melihat langsung prosesnya dari hulu ke hilir. Semoga ini jadi pusat pembelajaran kopi pertama di Sumsel,” tambah Ade.



Packaging Kopi Jarai yang dikemas dalam merk Cuvee, yang sudah diuji melalui Smart Solar Dryer di SMK Negeri 1 Jarai, Kabupaten Lahat. Senin, 16 Juni 2025. TEMPO/Yuni Rahmawati

Catatan untuk Pecinta Kopi dan Wisata Edukatif

Kabupaten Lahat, khususnya Jarai, kini tidak hanya menawarkan panorama alam dan kesejukan pegunungan. Destinasi ini mulai merangkak naik sebagai titik awal wisata kopi edukatif di Indonesia.

Jadi, kalau Anda berencana melancong ke Sumatera Selatan, jangan hanya berburu

sunrise

di Gunung Dempo atau foto di kebun teh. Luangkan waktu untuk berkunjung ke SMKN 1 Jarai dan saksikan sendiri bagaimana kopi yang dinikmati setiap pagi, melalui proses panjang nan canggih yang diramu penuh cinta.

Tertarik mengunjungi?

Kalau tertari berkunjung disarankan datang saat musim panen sekitar pertengahan tahun. Anda bisa melihat langsung aktivitas penjemuran, ikut tur edukasi, atau bahkan belajar jadi barista dadakan bersama siswa-siswa SMK. Dijamin, pulang-pulang bukan cuma bawa kopi, tapi juga cerita yang tidak biasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *