BREBES, WARTAJAYAVISION.COM – Kondisi pasar tradisional di Kabupaten Brebes kini berada di titik yang mengkhawatirkan. Alih-alih menyumbang pendapatan besar bagi daerah, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pasar justru terjun bebas.

Data terbaru tahun 2025 menunjukkan kesenjangan yang sangat lebar antara target fiskal dengan realisasi di lapangan.

Target Meleset Jauh

Berdasarkan keterangan narasumber lain adalah Ali Nurohman kepala pengelola pasar induk Brebes, target PAD yang dipatok untuk tahun 2025 mencapai Rp 576 juta. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Hingga menjelang akhir tahun, realisasi pendapatan diperkirakan hanya mampu menyentuh angka Rp 100 juta.

“Harusnya target bulanan itu sekitar Rp35 juta, tapi kenyataannya sejak Januari kita hanya dapat Rp7 juta. Bahkan di bulan-bulan berikutnya merosot lagi ke angka Rp5 juta per bulan,” ungkap narasumber tersebut.

Eksodus Pedagang: Pilih Jadi Buruh Pabrik

Fenomena “pasar mati” terlihat jelas dari jumlah pedagang yang aktif. Dari total 700 pedagang yang terdaftar, kini hanya tersisa sekitar 200 orang yang masih bertahan.

Banyak pedagang, terutama di sektor sembako, memilih gulung tikar karena modal habis tergerus biaya operasional harian. Menariknya, terjadi pergeseran profesi di kalangan pedagang muda. Mereka lebih memilih meninggalkan pasar untuk bekerja di pabrik (PT).

“Banyak yang masih muda memilih tutup dan bekerja di pabrik karena gajinya sudah pasti setiap bulan, daripada berdagang tapi rugi terus,” tambahnya.

Fasilitas Rusak dan Persaingan Ketat

Ada beberapa faktor utama yang menjadi pemicu ambruknya ekonomi pasar tradisional ini:

  • Infrastruktur Buruk: Kondisi pasar yang becek saat hujan, banjir, dan atap bocor membuat pembeli enggan berkunjung.
  • Kalah Bersaing: Munculnya pedagang keliling, pasar modern, hingga toko milik Bumdes menjadi kompetitor berat yang lebih diminati konsumen karena faktor kenyamanan dan akses.
  • Daya Beli Rendah: Pendapatan harian pedagang seringkali tidak cukup bahkan hanya untuk sekadar membayar retribusi (karcis) dan makan harian.

 

Revitalisasi Harga Mati

Satu-satunya solusi yang dipandang mampu menyelamatkan aset daerah ini adalah revitalisasi total. Pengelola pasar menegaskan bahwa tanpa perbaikan gedung dan fasilitas yang memadai, pasar tradisional akan terus terkikis hingga habis.

“Kalau pasar dibangun bagus, bersih, dan nyaman, pembeli pasti mau datang lagi. Sekarang orang malas masuk karena takut terpeleset atau kehujanan di dalam pasar,” pungkasnya.

Penulis: Teguh AW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *