Industri kaca di Indonesia memiliki harapan besar untuk meningkatkan kinerja utilisasi dan penjualan pada tahun 2026. Pelaku usaha di sektor ini menilai bahwa terdapat peluang serta tantangan yang akan mengiringi perkembangan industri tersebut.
Pasar Dalam Negeri Jadi Fokus Utama
Ketua Umum Asosiasi Produsen Gelas Kaca Indonesia (APGI), Henry T. Susanto, menyatakan bahwa pasar dalam negeri tetap menjadi prioritas utama bagi industri gelas kaca. APGI berharap tingkat konsumsi dan daya beli masyarakat bisa meningkat, sehingga dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,4%. Selain itu, APGI juga berharap performa industri manufaktur tetap stabil di zona ekspansi dengan Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur yang tetap berada di atas angka 50.
Henry menjelaskan bahwa sekitar 80% produksi gelas kaca anggota APGI ditujukan ke pasar domestik, sedangkan sisanya sekitar 20% diekspor ke pasar Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika Selatan, dan Eropa. Meskipun ekspor menjadi sumber pendapatan tambahan, Henry memprediksi bahwa ekspansi ekspor akan lebih menantang akibat dinamika geo-politik dan konflik global yang masih tinggi.
Segmen Pasar yang Menguntungkan
Kemasan produk industri minuman seperti sirup, kecap, minuman kesehatan, teh, dan minuman beralkohol menjadi pasar utama bagi industri gelas kaca. Sementara itu, segmen tableware atau peralatan rumah tangga menyasar pasar B2B, hotel, restoran, cafe, serta konsumsi rumah tangga.
Musim puncak konsumsi masyarakat seperti Natal-Tahun Baru dan Ramadan-Idul Fitri juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan kinerja industri. Pada tahun ini, masa peak season terjadi pada akhir 2025 dan awal 2026. Perusahaan telah merasakan peningkatan pesanan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dengan kenaikan hingga 20% tergantung segmen produk.
Tantangan yang Dihadapi Industri Kaca
Asumsi kinerja industri kaca tahun ini cukup moderat, mengingat kondisi ekonomi dan geo-politik yang tidak pasti. Selain masalah daya beli, Henry menyoroti potensi kenaikan biaya logistik akibat ketidakpastian global.
Masalah klasik lainnya adalah kendala pasokan dan harga gas industri. “Masalah utama yang anggota kami hadapi adalah harga gas yang tinggi di luar kuota. Kami berharap industri tidak harus membayar harga regasifikasi gas karena mahal yang menyebabkan harga gelas kami tidak kompetitif,” ujar Henry.
Pasokan dan harga gas akan memengaruhi tingkat utilisasi produksi. Henry memproyeksikan utilisasi industri gelas kaca pada tahun ini akan mencapai sekitar 60%.
Masalah Serupa di Industri Kaca Lembaran
Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) juga menghadapi tantangan serupa. Yustinus Gunawan, Ketua Umum AKLP, mengungkapkan bahwa industri kaca lembaran dan pengaman sedang menghadapi kelebihan kapasitas (overcapacity). Kapasitas industri bisa mencapai 2,6 juta ton per tahun, tetapi pasar dalam negeri hanya mampu menyerap sekitar 800.000 ton.
Untuk mengatasi hal ini, pelaku industri kaca lembaran perlu meningkatkan penjualan ke pasar ekspor. Yustinus berharap Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bisa terealisasi sesuai regulasi agar industri bisa bersaing dengan produk dari negara lain.
“Tantangan utama masih harga gas bumi yang tinggi, karena realisasi pasokan HGBT rendah,” tutup Yustinus.








