Komisaris Utama Holywings Group dan Ketua Program CSR Holywings Peduli, Andrew Susanto, mengajak masyarakat untuk lebih memahami penyakit secara menyeluruh. Tujuan dari ajakan ini adalah agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan dengan meningkatkan pemahaman mengenai penyakit, khususnya yang berkaitan dengan saluran pernapasan. Selain itu, ia juga mendorong kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebagai langkah pencegahan sejak dini.

Sebelumnya, Andrew dan timnya menyelenggarakan seminar kesehatan bertema Superflu yang dirangkaikan dengan kegiatan cek kesehatan massal. Kegiatan ini digelar di Livehouse Kemang bekerja sama dengan Tiger Kemang dan diikuti oleh lebih dari ratusan peserta dari berbagai kalangan, khususnya warga dari kelurahan Bangka, Jakarta Selatan.

Tujuan dari seminar kesehatan ini adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai Superflu, yaitu infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza dengan gejala yang lebih berat serta berpotensi menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani dengan tepat. Dalam sesi talkshow, dokter Willy Setiawan dari Dokterhub menjelaskan mulai dari penyebab, gejala, cara penularan hingga langkah pencegahan Superflu. Ia juga menekankan pentingnya menjaga imunitas tubuh dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Superflu sempat menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Superflu juga dikenal dengan nama influenza A subclade K tipe H3N2. Menurut laporan Kementerian Kesehatan, sejak September hingga November 2025 terdapat 62 kasus yang tercatat di Indonesia. Kasus ini tersebar di 11 provinsi dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, yakni 18 kasus.

Hingga 9 Januari 2026, seluruh pasien dinyatakan sembuh dan tidak ada laporan kematian. “Kita harus menentukan betul apakah ini penularan influenza H3N2 subclade K. Sampai saat ini ada 62 kasus dan sudah sembuh,” ujar Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenkes RI, Wiwid Wahyu Widayanti, saat dihubungi Tempo pada Jumat, 9 Januari 2026.

Selain Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, kasus juga ditemukan di Jawa Barat (10), Sumatera Selatan (5), Sumatera Utara (3), Bali dan Nusa Tenggara Timur masing-masing dua kasus, serta satu kasus di Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Barat.

Menurut Wiwid, konfirmasi varian ini membutuhkan pemeriksaan laboratorium khusus sehingga proses identifikasinya relatif panjang. Ia juga menegaskan bahwa istilah superflu yang menghebohkan masyarakat bukanlah istilah medis global. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan virus influenza A H3N2 yang tengah bersirkulasi. “WHO (Badan Kesehatan Dunia) menyatakan virus influenza ini adalah musiman, bukan penyakit baru.”

Peningkatan kasus influenza lazim terjadi pada bulan-bulan menjelang akhir tahun, seiring perubahan cuaca. “Memasuki bulan September sampai Desember, curah hujan di Indonesia meningkat, di luar negeri musim salju, sehingga memicu penularan influenza terutama saat daya tahan tubuh menurun,” kata Wiwid.

Kelompok balita dan lansia disebut paling rentan terinfeksi. Pada balita, sistem imun belum berkembang sehingga respons terhadap virus belum optimal. Sementara itu, pada orang tua terjadi penurunan fungsi kekebalan tubuh akibat usia. “Kalau lansia terpapar, proses sembuhnya sedikit lebih lama, tapi tetap bisa sembuh.”

Meski mengalami perubahan genetik dari waktu ke waktu, Wiwid menegaskan H3N2 tidak menunjukkan peningkatan keganasan. “Perubahan genetik yang terjadi bertahap dan tidak mengubah kemampuan virus dalam menyerang sel pernapasan manusia,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, termasuk istirahat saat sakit, konsumsi makanan bergizi, olahraga rutin, serta menerapkan etika batuk dan bersin. “Kalau harus keluar rumah dalam kondisi tidak enak badan, gunakan masker, hindari kerumunan, dan rajin cuci tangan,” katanya.

Soal vaksin, Wiwid menyebut vaksin influenza masih relevan karena komposisinya diperbarui mengikuti virus yang beredar setiap musim. “Efektivitas vaksin bervariasi tergantung musim dan kelompok populasi, tapi tetap bisa digunakan,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *