INDRAMAYU, WARTAJAYAVISION.COM – Pemerintah Desa (Pemdes) Soge, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu menggelar tradisi adat Mapag Sri yang dirangkaikan dengan kumpul tumpeng dan doa bersama, Sabtu (23/5/2026).

Tradisi Mapag Sri di Indramayu terus dilestarikan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat agraris dalam menyambut musim panen raya padi sekaligus penghormatan kepada Dewi Sri. Kegiatan ini biasanya diisi dengan doa bersama, penyambutan “penganten padi”, hingga makan bersama melalui tradisi tumpengan.

Mapag Sri merupakan adat budaya dan kearifan lokal masyarakat petani yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak zaman nenek moyang dan rutin dilaksanakan setiap menjelang masa panen padi.

Kegiatan yang digelar di halaman Kantor Desa Soge tersebut berlangsung meriah. Warga dan para petani membawa tumpeng nasi lengkap dengan lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen yang melimpah serta harapan keselamatan bagi masyarakat Desa Soge.

Acara semakin semarak dengan pagelaran seni wayang purwa semalam suntuk bersama Dalang Ki Anom H. Rusdi dari Indramayu serta penampilan pesinden Nyi Hj. Duniawati.

Kepala Desa Soge, Ahmad Maulana, saat ditemui di ruang kerjanya menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan budaya leluhur, tetapi juga sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang baik.

“Selain melestarikan adat budaya Mapag Sri, kami juga bersyukur karena hasil panen tahun ini bagus dan melimpah. Kegiatan ini sekaligus untuk memberikan hiburan kepada para petani serta menghormati kearifan lokal yang sudah turun-temurun,” ujar Ahmad Maulana.

Ia menambahkan, anggaran kegiatan bersumber dari Pendapatan Asli Desa (PAD) dengan total sekitar Rp45 juta ditambah pajak. Anggaran tersebut terbagi untuk pagelaran wayang sekitar Rp35 juta serta biaya operasional lainnya seperti sewa tenda, konsumsi, kru wayang, dan panitia.

Menurut Ahmad Maulana, Desa Soge memiliki tiga tradisi adat utama yang rutin dilaksanakan setiap tahun, yakni Sedekah Bumi, Mapag Sri, dan Munjung.

Adat Sedekah Bumi dilaksanakan menjelang musim tanam sebagai bentuk persiapan bercocok tanam, sementara Mapag Sri digelar menjelang musim panen. Sedangkan tradisi Munjung merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah wafat dengan memanjatkan doa untuk arwah leluhur dan keselamatan keluarga yang masih hidup.

“Beberapa bulan lalu kami telah melaksanakan Sedekah Bumi, dan insyaallah ke depan juga akan kembali menggelar tradisi Munjung,” terangnya.

Ia juga mengapresiasi kekompakan dan semangat gotong royong masyarakat Desa Soge dalam menjaga tradisi budaya desa.

“Alhamdulillah masyarakat Desa Soge tetap kompak dan guyub. Apa yang menjadi keinginan masyarakat akan kami upayakan sesuai kemampuan yang ada,” pungkasnya.

Penulis: Prans

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *