Persiapan Pasar Senggol Ramadan 2026 di Kota Gorontalo
Pemerintah Kota Gorontalo mulai melakukan persiapan awal untuk operasional Pasar Senggol Ramadan 2026. Langkah pertama yang dilakukan adalah pengukuran lokasi di kawasan Kota Tua pada malam hari, Minggu (22/2/2026). Pengukuran ini bertujuan untuk memastikan penataan lapak, kelancaran lalu lintas, serta ketertiban dan kenyamanan masyarakat selama pasar musiman berlangsung.
Pasar Senggol tahun ini akan dipusatkan di lima titik di wilayah Kota Selatan dengan pengawasan lintas instansi guna meminimalkan gangguan sosial dan lingkungan. Proses ini menjadi langkah penting mengingat Pasar Senggol bukan hanya pusat ekonomi musiman, tetapi juga sering kali memicu masalah seperti kemacetan, sampah, dan ketertiban ruang publik.
Pengukuran dilakukan di kawasan Kota Tua Gorontalo, yang kembali dipilih sebagai pusat aktivitas Pasar Senggol tahun ini. Menjelang pergantian hari, berbagai instansi terlihat berkoordinasi langsung di lapangan untuk memastikan batas lapak, akses jalan, hingga ruang publik tetap terjaga. Sejumlah organisasi perangkat daerah terlibat dalam tahapan awal ini, termasuk Pemerintah Kota Gorontalo melalui Disperindag, Dinas Lingkungan Hidup, Kesbangpol, Dishub, Satpol PP, pihak kelurahan, dan aparat kepolisian.
Hasil pengukuran tersebut akan menjadi dasar pembahasan lanjutan sebelum Pasar Senggol resmi beroperasi selama Ramadan. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perdagin) Kota Gorontalo, Haryono Suronoto, menegaskan bahwa penataan sejak awal menentukan kelancaran pelaksanaan di lapangan. Menurutnya, pengalaman penyelenggaraan Pasar Senggol dari tahun ke tahun harus menjadi modal untuk meminimalkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat.
Tahun ini, Pasar Senggol direncanakan tersebar di lima titik yang berada di dua kelurahan. Empat titik berada di Kelurahan Biawao, yakni Jalan MT Haryono, Jalan Sutoyo, Jalan S Parman, dan Jalan Suprapto. Sementara satu titik lainnya berada di Kelurahan Limba B, tepatnya di Jalan Imam Bonjol. Namun, seluruh lokasi tersebut berada di wilayah Kota Selatan.
Haryono menyebutkan bahwa Pemkot telah menunjuk penanggung jawab di masing-masing titik untuk memastikan pengelolaan berjalan sesuai aturan. Pemerintah, kata dia, akan berfokus pada fungsi pengawasan agar Pasar Senggol tetap menjadi ruang ekonomi rakyat tanpa mengorbankan ketertiban kota.
Pemkot Gorontalo menargetkan seluruh tahapan persiapan rampung segera. Hal itu agar Pasar Senggol ini bisa beroperasi dan digunakan warga untuk aktivitas ekonomi hingga usai lebaran Idul Fitri nanti. “Saya berharap, sangat berharap pelaksanaan Pasar Senggol mulai pengukuran pada pelaksanaan pada hari terakhir malam idulfitri berjalan baik,” tutup Haryono.
Adapun pengukuran dilakukan oleh para penanggung jawab dengan menarik tali sepanjang kurang lebih 50 meter. Batas-batas lapak lalu ditandai dengan cat merah. Kuas digoreskan ke aspal dengan membentuk silang, ada pula bulat. Simbol tak penting, oleh pengelola hal paling krusial adalah memastikan tanda merah itu tak hilang. Sebab, tanda silang ini yang akan dijadikan dasar dan acuan agar tenda dan batas masing-masing pedagang tak berebut lahan.
Apalagi, setiap tahun Pasar Senggol meski tergeser oleh perilaku belanja online, namun masih tetap populer sebagai pasar offline lokal. Menurut Haryono bahwa hal yang baru kali ini adalah bahwa setiap pendapatan dari Pasar Senggol disalurkan langsung ke Kas Daerah. “Jadi langsung ke rekening daerah, tidak lewat lagi ke kami panitia. Jadi akan lebih transparan lagi,” ucapnya.








