JAKARTA, Wartajayavision.com,
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan penyaluran pembiayaan hijau atau green loan sebesar Rp 73,4 triliun sepanjang tahun 2024. Angka ini mencerminkan porsi sebesar 9,46 persen dari total kredit BNI yang mencapai Rp 775,9 triliun. Dengan angka tersebut, BNI menjadi bank BUMN dengan porsi pembiayaan hijau terbesar di tahun lalu.
Salah satu proyek strategis yang mendapat dukungan pembiayaan hijau dari BNI adalah PT Geo Dipa Energi (Persero) dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta berbagai kebutuhan operasional perusahaan. Proyek ini merupakan bagian dari upaya BNI untuk mendukung pengembangan energi terbarukan dan transisi menuju energi bersih di Indonesia.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, menjelaskan bahwa pembiayaan hijau merupakan bentuk dukungan langsung BNI terhadap proyek energi hijau nasional. Ia menegaskan bahwa inisiatif ini juga bertujuan untuk mempercepat proses transisi energi bersih di Tanah Air.
“Pembiayaan ini merupakan wujud nyata dukungan BNI terhadap pengembangan proyek energi hijau nasional, sekaligus upaya mempercepat transisi energi bersih di Indonesia,” ujar Okki lewat keterangan pers, Rabu (3/12/2025).
Komitmen BNI terhadap pembiayaan hijau juga terlihat dari penandatanganan perjanjian Commitment on Green Project and Operation Financing for 500MW Geothermal Energy Development antara SEVP Wholesale Solutions & Value Chain BNI Pancaran Affendi dan Direktur Utama Geo Dipa, Yudistian Yunis. Perjanjian ini menunjukkan komitmen jangka panjang BNI dalam mendukung pengembangan energi panas bumi.
Pembiayaan hijau BNI banyak diarahkan ke sektor-sektor seperti energi terbarukan, efisiensi energi, transportasi rendah emisi, proses manufaktur ramah lingkungan, serta fasilitas green trade finance. Portofolio green loan BNI terus tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir, bahkan melampaui pertumbuhan pembiayaan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa fokus BNI tidak hanya pada keberlanjutan secara ekonomi, tetapi juga pada pembangunan ekonomi rendah karbon.
Dampak lingkungan dari pembiayaan hijau BNI terlihat melalui realisasi green bond senilai Rp 4,36 triliun pada 2024. Diperkirakan, green bond ini mampu mengurangi emisi hingga 1,44 juta ton CO2 pada tahun tersebut.
Selain itu, BNI terus memperkuat kerangka Environmental, Social, and Governance (ESG) melalui beberapa langkah strategis. Antara lain, penyusunan taksonomi internal, penilaian risiko lingkungan dan sosial dalam proses kredit, serta pengembangan produk-produk pembiayaan hijau seperti panel surya dan perdagangan berkelanjutan.
Dengan agresivitas penyaluran pembiayaan hijau, BNI dipandang memiliki potensi besar sebagai role model dalam implementasi green financing di sektor perbankan nasional. Melihat tren peningkatan proyek energi terbarukan dan pembangunan infrastruktur hijau pada periode 2025-2026, BNI diperkirakan akan terus memperkuat posisinya sebagai motor pendanaan transisi energi di Indonesia.








