Perang yang Tidak Terlihat
Perang antara Amerika-Israel dan Iran kini sedang berlangsung, dan bagi kita yang tidak berada di lokasi tersebut, peristiwa ini mungkin terasa seperti pertunjukan. Rudal-rudal meluncur cepat, bercahaya dan menyala, seperti komet-komet yang bertebaran di langit malam. Kita awalnya kagum, kemudian merasa ngeri ketika melihat kepulan asap ledakan, mayat-mayat bergelimpangan, serta puing-puing kehancuran di bumi. Alangkah cerdasnya manusia yang menciptakan senjata sehebat itu! Alangkah kejamnya pula manusia yang menggunakan senjata itu untuk menghancurkan sesama manusia!
Mayoritas dari kita, termasuk warga Amerika, Israel, dan Iran, bukanlah pembuat senjata tersebut, maupun para pemimpin yang memutuskan penggunaannya dalam perang. Kita hanyalah penonton. Namun, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.
Salah satu dampak yang umum adalah kenaikan harga minyak yang akan memicu kenaikan harga-harga lainnya. Yang paling terdampak tentu saja warga yang tinggal di kawasan perang. Mereka dihantui rasa takut, menderita akibat kehancuran tempat tinggal dan fasilitas umum, hingga kehilangan keluarga mereka.
Sebagai penonton yang terdampak perang ini, apa yang bisa kita lakukan? Tentu sangat sedikit. Kita bisa bersimpati pada para korban melalui pesan yang kita kirim di media sosial, media cetak, atau elektronik, atau bahkan menyumbang sedikit uang untuk bantuan kemanusiaan. Namun jangan berharap banyak akan hasilnya. Jangankan protes orang biasa seperti kita, resolusi Dewan Keamanan PBB saja sering kali tidak dihiraukan oleh Israel dan Amerika. Begitu pula dengan bantuan kemanusiaan yang dikirim, tidak selalu sampai ke tujuan. Akhirnya, kita hanya bisa berdoa untuk para korban tersebut.
Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam dua keadaan: perang dan damai. Namun, mengapa pada suatu masa, manusia memutuskan untuk perang? Jawabannya tidak tunggal. Bisa karena ingin memperluas wilayah kekuasaan, atau balas dendam. Bisa juga sekadar membela diri karena diserang lawan. Atau mungkin ingin mengalihkan perhatian publik dalam negeri kepada musuh bersama di luar negeri. Bisa juga karena ingin terlepas dari penindasan dan ketidakadilan. Dan masih banyak kemungkinan lainnya.
Begitu pula, hasil akhir perang tidak selalu sesuai dengan harapan para pembuat keputusan. Perilaku manusia sulit diramal, karena dia dianugerahi kebebasan untuk memilih. Selain itu, tidak semua hal bisa dikendalikan manusia, meskipun dia berkuasa, bersenjata, dan kaya raya.
Meskipun Amerika memiliki persenjataan yang hebat, akhirnya kalah dalam perang di Vietnam, dan tidak sepenuhnya bisa mengendalikan Afghanistan. Apalagi, kekuatan militer dan ekonomi dunia tidak hanya dimonopoli oleh Amerika. Masih ada Cina, Rusia, dan negara-negara Eropa.
Di sinilah muncul pertanyaan filsafat. Apakah manusia menciptakan atau diciptakan oleh sejarah? Apakah manusia seperti gabus yang tak berdaya dihempaskan ombak ke tepi pantai, atau seperti kapal yang melawan gelombang? Dalam berbagai upaya menjawab soal yang musykil ini, para pemikir umumnya menyatakan bahwa manusia adalah kedua-duanya: dia menciptakan dan diciptakan oleh sejarah. Manusia bebas sekaligus terbatas. Dalam kebebasan, manusia harus memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keterbatasan, manusia hanya bisa pasrah.
Jika pasrah menunjukkan sikap realistis dan pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan diri, maka kebebasan menuntut tanggung jawab. Seorang pemimpin yang memutuskan untuk berperang atau tidak, mendukung satu pihak atau netral, semua keputusannya itu wajib berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya bahkan umat manusia sebagai wujud tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Di sisi lain, masyarakat wajib menegur dan mengingatkan sang pemimpin jika keputusan perihal perang itu merugikan mereka dan umat manusia.
Sekilas, apa yang dikemukakan di atas adalah sederhana dan mudah diterapkan. Namun, mengapa dalam kenyataan tidak demikian? Saya kira karena sebelum membuat keputusan, baik sebagai pemimpin ataupun masyarakat, manusia sebagai pribadi harus memutuskan terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri. Inilah perang yang paling dasar. Apakah dia mengikuti hawa nafsu ataukah menuruti suara nurani kemanusiaan? Apakah dia takut atau berani menyatakan kebenaran? Apakah dia siap menerima resiko terburuk akibat keputusannya itu?
Mungkin inilah maksud sabda Nabi ketika pulang dari sebuah peperangan: “Kita pulang dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar”. “Apa jihad yang besar itu?” tanya sahabat. “Jihad melawan hawa nafsu,” kata Nabi.
Tak mudah mengendalikan hawa nafsu. Tanpa nafsu, kita tidak bisa hidup, tetapi menuruti nafsu tanpa kendali moral akan membuat kita lebih buruk dari binatang. Nafsu mendorong manusia untuk mendapat kenikmatan fisik (makan-minum, seks, dan sarana hidup) dan kesuksesan (kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran). Nafsu ini, jika terkendali, merupakan penggerak kebudayaan.
Karena itu, terlepas kita adalah pemimpin atau orang biasa, kita semua menghadapi perang setiap hari di dalam diri kita. Perang terhadap musuh yang tak boleh dibunuh, tetapi harus ditundukkan dan dikendalikan. Jika kita tak mengendalikannya, maka dialah yang akan mengendalikan kita.
Itulah nafsu, dorongan-dorongan hewani dan egoistik dalam diri kita. Perang nafsu ini tak kasat mata, tetapi hasilnya tampak dalam sikap, keputusan, dan perilaku kita. Hasil perang inilah yang membuat bom atom diledakkan, rudal-rudal ditembakkan, dan genosida dilakukan atas sesama manusia. Jadi, jika nafsu menguasai diri kita, secara potensial kita pun bisa menjadi Trump dan Netanyahu!









