Perubahan Signifikan Akibat Pembangunan Tol Getaci di Garut

Pembangunan jalan tol yang terpanjang di Indonesia, yaitu Tol Getaci, telah membawa perubahan besar bagi masyarakat sekitar. Salah satu dampaknya adalah munculnya kampung-kampung baru yang dikenal sebagai kampung miliarder, serta munculnya kampung-kampung mati yang ditinggalkan oleh penduduknya.

Kampung Miliarder Baru

Di Desa Talagasari, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut, lahan pesawahan yang dulunya hijau dan luas kini berubah menjadi pemukiman warga yang relokasi akibat penggusuran lahan untuk proyek Tol Getaci. Salah satu contohnya adalah Kampung Pataruman, yang awalnya disiapkan sebagai tempat relokasi bagi warga yang lahannya tergusur.

Saat memasuki kampung ini, dua gapura sederhana menjadi penanda batas wilayah tersebut. Di dalamnya, terlihat bangunan-bangunan rumah mewah dua tingkat yang sedang dalam proses pembangunan. Beberapa dari mereka masih memiliki halaman yang belum dipagar dan terlihat masih dalam kondisi alami. Di seberang jalan, juga terdapat rumah-rumah besar dengan benteng yang cukup panjang, yang sudah mulai dihuni.

Sebelumnya, lokasi ini adalah lahan pesawahan yang kini berubah menjadi kampung baru. Diketahui bahwa pembayaran uang ganti rugi (UGR) telah dilakukan pada 26-28 Juni 2024, termasuk di Kampung Lunjuk Girang. Salah satu pemilik lahan mendapatkan uang ganti rugi sebesar Rp 16 miliar atas lahan pesawahan luas di pinggir Jalan Raya Bandung-Garut. Sementara itu, Haji Sobarna menerima sekitar Rp 5,4 miliar untuk penggantian lahan sawah sekitar 6000 meter persegi. Hal ini menjadikannya sebagai miliarder baru dari hasil pembayaran UGR.

Besaran pembayaran UGR di Desa Talagasari berkisar antara Rp 400.000 hingga Rp 700.000 untuk yang terkecil, dan mencapai Rp 16 miliar untuk yang terbesar.

Kampung Mati yang Tidak Terpakai

Selain kampung-kampung baru, pembangunan Tol Getaci juga menyebabkan munculnya kampung-kampung mati yang ditinggalkan penduduknya. Salah satunya adalah Kampung Lunjuk Girang di Desa Talagasari. Lokasinya berada di pinggir Jalan Raya Bandung-Garut, seberang rumah makan Mergosari.

Kampung ini kini sunyi dan sepi. Di seberang jalan, terdapat bekas pabrik es batu yang tidak beroperasi lagi, serta bekas rumah makan dua tingkat yang tampak kusam. Saat malam tiba, suasana kampung ini gelap gulita, hanya terpantul cahaya lampu jalan di Jalan Raya Bandung-Garut.

Banyak penduduk yang telah menerima uang ganti rugi kemudian pindah ke kampung baru seperti Kampung Pataruman, meninggalkan kampung lama yang kini hanya menjadi kenangan.

Dampak Proyek Tol Getaci

Proyek Tol Getaci yang masih dalam tahap pembangunan memberikan dampak yang signifikan terhadap masyarakat sekitar. Meski beberapa warga berhasil meraih keuntungan melalui uang ganti rugi, namun banyak pula yang mengalami kesulitan karena pembangunan yang belum menunjukkan kejelasan.

Dalam proyek ini, pembayaran uang ganti rugi fokus di Segmen Gedebage (Kota Bandung) hingga Kecamatan Banyuresmi (Kabupaten Garut), sesuai dengan penetapan lokasi yang telah ditentukan. Lahan yang tergusur di segmen ini tersebar di 45 desa/kelurahan, yaitu satu kelurahan di Gedebage (kota Bandung), 27 desa di Kabupaten Bandung, dan 17 desa di Kabupaten Garut bagian utara.

Proyek ini tidak hanya mengubah wajah geografis daerah, tetapi juga memengaruhi pola hidup masyarakat, baik secara positif maupun negatif. Dengan adanya kampung-kampung baru dan kampung-kampung mati, proyek Tol Getaci menunjukkan perubahan yang kompleks dan beragam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *