Perilaku Anak yang Merokok di Tempat Umum Viral

Sebuah video yang menampilkan seorang anak laki-laki merokok sambil memegang gelas berisi uang viral di media sosial Instagram. Kejadian ini terjadi di Pasar Senen, Jakarta Pusat, dan menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan usia anak tersebut. Dalam video tersebut, terlihat seorang pria menegur anak itu.

“Hey, sini dulu. Buang. Buang rokok lu tuh,” kata pria itu. Meski ditegur, anak laki-laki itu tetap mengisap rokok sambil memegang gelas plastik berisi uang di tangan kiri dan plastik berisi bungkus makanan di tangan kanan.

Pria itu terus memberikan peringatan kepada anak tersebut. “Hei, denger enggak,” katanya lagi. Si anak bergeming dan terus merokok. “Siapa yang kasih lu rokok?” tanya si pria. Saat ditanya, anak tersebut menjawab sambil logat cadel, “Olang,” tanpa memberikan jawaban jelas.

Wartajayavision.com melakukan investigasi ke lokasi kejadian di Kompleks Pasar Senen pada Selasa. Beberapa pedagang sayuran mengaku tidak mengenal anak yang viral tersebut, namun pedagang minuman bernama Ben (25) mengaku sering melihat anak itu dan ibunya mengamen di sekitar Pasar Senen Jaya I dan II.

“Iya tahu. Sehari-hari di sini. Ngamen sama ibunya. Pagi-pagi sama sore. Kadang siang,” ujar Ben. Ia menambahkan, anak berusia sekitar tujuh tahun itu sering dimarahi ibunya saat merokok, tetapi tetap sulit dihentikan. “Kami lihatnya suka diomelin. Sudah dibilangin ibunya buang rokoknya. Tapi sepertinya susah juga,” ungkap Ben.

Menurut Ben, banyak anak-anak di sekitar Kompleks Pasar Senen tidak bersekolah dan mengisi waktu dengan mengamen atau membantu berjualan kue pada subuh hari. Pada siang hari, mereka berkumpul untuk duduk-duduk atau bermain. Pedagang lain, Ipan, menyebutkan anak-anak lain di lokasi juga kerap merokok, baik dengan membeli rokok satuan maupun memintanya dari orang dewasa.

Namun, beberapa hari belakangan, ia tak melihat anak itu di sekitar depan Pasar Senen Jaya I dan II. “Iya memang sering di sini. Karena kan biasanya sama ibunya ngamen. Tapi sudah dua hari ini tidak lihat. Hari ini juga belum lihat,” tutur Ipan. Namun, sebenarnya bukan hanya si anak yang viral saja yang sehari-hari dilihatnya kerap merokok. Anak-anak lain di sekitar lokasi kejadian tersebut kerap dilihatnya sedang merokok. Mereka berusia awal belasan tahun.

“Mereka beli rokok ke pedagang. Atau minta juga ke orang dewasa yang dikenal. Misal ke pedagang yang sedang merokok mereka minta,” tutur Ipan. Saat dijumpai Wartajayavision.com, Ipan juga sedang merokok. Ia mengaku sering dimintai rokok oleh anak-anak di sana. Namun, karena membeli rokok secara satuan, Ipan tidak memberinya.

“Kalau saya diminta sebenarnya kasihan. Tapi saya kan juga beli satuan. Anak-anak itu kalau punya uang biasanya langsung beli. Yang laki-laki ya,” tutur dia.

Respons Pemprov DKI Jakarta

Merespons viralnya video ini, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Dwi Oktavia, mengatakan pihaknya akan membina anak tersebut secara humanis. “Kami akan koordinasi dengan lintas sektor untuk pembinaan secara humanis. (Seperti apa teknisnya) akan dikoordinasikan dulu ya,” ujar Dwi. Ia menambahkan, video tersebut menunjukkan kekhawatiran karena anak usia sangat muda sudah menjadi perokok pemula.

Menurut Dwi, lingkungan, kebiasaan merokok orang dewasa, dan mudahnya akses rokok membuat anak yang awalnya coba-coba menjadi perokok aktif. “Kami akan tingkatkan edukasi peran orang tua mencegah anak menjadi perokok pemula. Sekaligus harapannya kepada media ikut mengkampanyekan bahaya rokok dan stop perokok pemula untuk masyarakat,” tambahnya.

Desakan KPAI

Sementara itu, anggota Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dian Sasmita, mendorong dinas terkait di DKI Jakarta segera melakukan intervensi. Ia menekankan perlunya keterlibatan pemerintah daerah untuk memberikan tindakan yang cepat dan tepat, karena anak tersebut sehari-hari ikut mengamen di tempat umum bersama orangtuanya dan terpapar perilaku merokok orang dewasa.

“Ini menjadi tugas tidak hanya orang tua, tapi juga masyarakat dan pemerintah daerah. Anak tidak bisa hanya dibiarkan keluarga saja. Intervensi yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan anak dan keluarganya,” ujar Dian. Ia menambahkan, perilaku merokok anak pasti dipengaruhi oleh situasi di luar dirinya, dan pemerintah daerah perlu segera bertindak untuk mencegah dampak buruk bagi kesehatan anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *