Pembicaraan perdagangan antara Uni Eropa (UE) dan kelompok negara-negara Amerika Selatan, Mercosur, kembali menghadapi tantangan berat. Perjanjian dagang bebas atau free trade agreement (FTA) yang telah diupayakan selama 25 tahun ini akhirnya terpaksa ditunda karena perpecahan internal di dalam UE.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sejatinya direncanakan untuk menandatangani perjanjian tersebut pada Sabtu lalu. Namun, keputusan itu harus ditunda karena beberapa negara anggota UE, termasuk Italia, masih mempertanyakan dampak dari kesepakatan tersebut terhadap sektor pertanian domestik mereka. Sebagai respons, von der Leyen kini berusaha menggalang dukungan di menit terakhir dari negara-negara anggota.
Perundingan antara UE dan Mercosur—yang terdiri dari Argentina, Brasil, Uruguay, dan Paraguay—telah berlangsung selama lebih dari dua dekade. Meskipun ada harapan besar akan adanya kesepakatan, prosesnya sering kali memicu frustrasi di pihak negara-negara Amerika Selatan. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva bahkan menyatakan bahwa saat ini adalah momentum “sekarang atau tidak sama sekali”.
Dalam surat yang dikirimkan kepada Lula, von der Leyen dan Presiden Dewan Eropa Antonio Costa menyampaikan penyesalan atas ketidakmampuan mereka memenuhi tenggat waktu yang ditetapkan. Mereka juga menegaskan bahwa UE tetap aktif dalam upaya merampungkan kesepakatan tersebut. Namun, rencana penandatanganan kembali akan dilakukan pada 12 Januari, meski belum ada jaminan pasti bahwa kesepakatan akan tercapai.
Kegagalan ini menjadi pukulan bagi UE, yang ingin menggunakan kesepakatan lintas Atlantik ini sebagai bukti kemampuannya sebagai kekuatan ekonomi global. Di tengah ketegangan dengan China dan Amerika Serikat (AS), UE berupaya menunjukkan bahwa blok tersebut mampu memperluas kemitraan di luar pengaruh kedua negara tersebut.
“Ini adalah momen kemerdekaan Eropa,” ujar von der Leyen menjelang KTT para pemimpin UE. Dalam pertemuan tersebut, isu pendanaan untuk Ukraina dan kelanjutan perjanjian Mercosur juga dibahas. UE melihat China sebagai pesaing ekonomi sekaligus rival sistemik, terutama setelah Beijing memperketat kontrol ekspor logam tanah jarang dan material kritis lainnya.
Sementara itu, UE juga menerima kesepakatan dagang dengan AS yang dinilai timpang. Kesepakatan ini menyetujui tarif 15% untuk sebagian besar ekspor UE ke AS, sementara AS berkomitmen menghapus seluruh bea masuk atas barang industri asal Eropa.
Perjanjian UE–Mercosur dipandang sebagai peluang penting bagi Eropa untuk keluar dari dinamika hubungan yang memburuk dengan AS dan China. Kesepakatan ini berpotensi menciptakan pasar terintegrasi dengan sekitar 780 juta konsumen, menghapus tarif secara bertahap atas sejumlah produk, serta membuka akses lebih luas bagi Eropa ke sektor pertanian dan sumber daya alam Mercosur.
Selain itu, pakta ini akan memperluas jejaring ekonomi dan rantai pasok UE di luar AS dan China, sekaligus menunjukkan bahwa Eropa mampu menawarkan alternatif ekonomi yang kredibel bagi negara-negara lain. Namun, hingga kini, UE belum berhasil mengumpulkan dukungan mayoritas, terutama akibat kekhawatiran mendalam bahwa perjanjian tersebut akan menekan sektor pertanian Eropa.
Ribuan petani di Brussels melakukan aksi protes dengan membakar ban dan menumpahkan kentang di jalanan. Meski begitu, para pemimpin UE tetap optimis bahwa kesepakatan masih bisa dicapai pada Januari. “Penundaan selama tiga pekan masih dapat ditoleransi setelah 25 tahun perundingan. Saya sangat yakin kita akan menyelesaikannya,” kata von der Leyen.
Nasib perjanjian ini kini sangat bergantung pada Italia. Perdana Menteri Giorgia Meloni menyatakan masih membutuhkan waktu untuk mengamankan dukungan domestik. Ia menegaskan bahwa Italia hanya memerlukan beberapa hari tambahan. Meski sebagian pihak meyakini Italia akan menyetujui kesepakatan tersebut karena potensi manfaat bagi eksportirnya, pihak lain justru lebih pesimistis.
Jika kebuntuan terus berlanjut, kedua blok berpotensi mengalihkan perhatian ke kemitraan lain. Mercosur sedang mengupayakan kesepakatan dengan Uni Emirat Arab serta menjajaki kerja sama dengan Kanada, Inggris, dan Jepang. Di sisi lain, UE juga berusaha merampungkan perjanjian dagang dengan India yang telah dinegosiasikan hampir dua dekade.
“Jika UE ingin tetap kredibel dalam kebijakan perdagangan global, keputusan harus diambil sekarang,” ujar Kanselir Jerman Friedrich Merz saat tiba di KTT Brussel.








