Menerima Yesus: Terbuka terhadap Tawaran Kebenaran dan Keselamatan

Dalam renungan harian Katolik hari ini, kita diingatkan untuk selalu terbuka terhadap tawaran kebenaran dan keselamatan yang diberikan oleh Yesus Kristus. Ayat Alkitab yang dipilih adalah dari kitab 2Raj-raj 5:1-15a, Mazmur 42:2.3; 43:3-4, serta Injil Lukas 4:24-30. Dalam Injil Lukas dikatakan, “Mereka bangun, lalu menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung, tempat kota itu terletak, untuk melemparkan Dia dari tebing.” (Luk. 4:29)

Sebagai orang Yahudi, mereka seharusnya sudah mengetahui bahwa Mesias yang disebut Kristus akan datang. Yesus telah hadir bersama mereka sejak kecil, melalui berbagai peristiwa ajaib yang menunjukkan bahwa Dia bukanlah orang biasa. Mulai dari kelahiran-Nya, masa kecil, hingga ketika Ia mulai mengajar dan melakukan mukjizat-mukjizat di banyak tempat, semuanya seharusnya memperkuat iman mereka akan Yesus sebagai Sang Mesias.

Namun, dalam kenyataannya, Yesus justru ditolak di kampung halamannya sendiri. Penolakan terhadap-Nya berarti menolak iman, kebenaran, kasih Allah, dan keselamatan yang ada dalam hidup mereka. Yesus sendiri mengingatkan orang-orang Nazaret dengan kisah Elia dan janda Sarfat, serta Elisa dan Naaman orang Siria. Meskipun keselamatan berasal dari bangsa Yahudi, tidak semua orang Yahudi memiliki hati yang terbuka menerima kebenaran itu.

Kasih Allah dalam Yesus tidak eksklusif bagi orang Yahudi. Kasih-Nya mencakup semua manusia, bahkan sampai ke ujung dunia. Namun, kedegilan hati untuk menolak Yesus membuat seseorang menutup diri terhadap kasih istimewa Allah. Semua hal yang terjadi sebelumnya menjadi pengingat penting agar kita waspada dan bisa berbenah diri agar tidak menyesal karena menolak Sang Juru Selamat.

Contoh dari Naaman

Salah satu contoh yang menarik adalah kisah Naaman, seorang prajurit yang menderita kusta. Ia sembuh karena perjuangan imannya untuk menemui abdi Allah, yaitu Elisa, dan dengan rela hati melaksanakan instruksi ilahi. Instruksi yang sederhana, yaitu mandi tujuh kali di sungai Yordan, memberikan efek besar dalam hidupnya. Dengan demikian, ia akhirnya memuliakan Allah dan berkata, “Sekarang aku tahu bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.” (2Raj. 5:15)

Pengalaman iman yang nyata seperti ini membuat jiwa manusia merasa haus akan Allah. Seperti yang ditulis dalam Mazmur, “Jiwaku haus akan Allah, akan Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?” Ini menunjukkan bahwa manusia beriman sejati selalu hidup dalam keyakinan teguh akan rahmat Allah yang menghidupkan dan membebaskan.

Peran Kita dalam Menyambut Yesus

Allah dalam rancangan ilahi-Nya merengkuh orang-orang yang terabaikan, yang menderita dan sakit. Kita pun dipanggil untuk peduli, solider, dan terlibat atas nama Yesus Sang Mesias yang kita kenal dan telah menerima-Nya dalam hidup kita. Allah menginginkan kehendak kasih sejati-Nya terlaksana dalam hidup kita, bukan kehendak kita sendiri. Dengan demikian, kebenaran dan keselamatan akan menguasai seluruh diri kita.

Dengan memahami pesan-pesan ini, kita diingatkan untuk selalu terbuka terhadap tawaran kebenaran dan keselamatan yang diberikan oleh Yesus. Mari kita menjalani hidup dengan penuh iman dan kerinduan akan Allah, sehingga kita dapat menjadi saksi cinta-Nya bagi sesama.

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *