Pemimpin Tertinggi Iran Klaim Bisa Menenggelamkan Kapal Induk AS

Pekan lalu, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyatakan bahwa negaranya memiliki senjata yang mampu menenggelamkan kapal induk Amerika Serikat (AS) jika perang terjadi antara kedua negara. Pernyataan ini dikeluarkan sebagai respons terhadap keberadaan kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford di Selat Hormuz, Timur Tengah.

Kapal induk USS Abraham Lincoln memiliki panjang hingga 333 meter dan dapat menampung sekitar 60-70 pesawat, termasuk F/A-18 Hornet dan F-35C Lightning II. Meskipun demikian, Khamenei tidak menjelaskan secara spesifik senjata apa yang dimaksud dalam pernyataannya tersebut.

Senjata Hipersonik Iran

Iran memiliki beberapa sistem persenjataan canggih, termasuk rudal hipersonik yang bisa menjadi ancaman bagi kapal induk AS. Salah satu senjata paling menonjol adalah rudal hipersonik kelas Fattah, yang dikembangkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Rudal pertama dari kelas ini, Fattah-1, dirilis pada Juni 2023.

Menurut laporan Associated Press (AP), Fattah-1 adalah rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan hingga 2.000 km. Dengan kecepatan Mach 13–15, rudal ini mampu mencapai Israel dalam waktu kurang dari 7 menit dari Iran. Rudal ini dilengkapi dengan kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver (MaRV) dan nosel mesin yang dapat digerakkan untuk menghindari sistem pertahanan anti-rudal.

Rudal ini juga mampu menembus sistem pertahanan seperti Iron Dome Israel, seperti yang terbukti pada Oktober 2024. Dalam operasi serupa, beberapa rudal Fattah berhasil menembus pertahanan Israel.

Rudal Khorramshahr-4

Selain Fattah-1, Iran juga memiliki rudal Khorramshahr-4 atau Kheibar Shekan. Rudal ini mampu menempuh jarak 2.000 km dengan hulu ledak 1.500 kg. Kecepatannya mencapai Mach 16 dan dirancang untuk menembus pertahanan musuh dengan penampang radar kecil dan ketahanan elektronik tinggi.

Rudal ini ditempatkan di fasilitas bawah tanah IRGC dan memiliki akurasi sekitar 30 meter. Pada Februari 2026, rudal ini ditempatkan sebagai unjuk kekuatan ofensif menjelang negosiasi dengan AS.

Rudal Fattah-2

Fattah-2 adalah versi yang lebih baru dari rudal Fattah. Menurut analis, rudal ini mungkin menggunakan desain kendaraan luncur hipersonik (HGV) yang berbeda dari konfigurasi MaRV asli. Kendaraan ini dapat bermanuver dan menggunakan aerodinamika untuk mengubah arah di dalam maupun luar atmosfer, membuatnya lebih sulit dideteksi dan dihancurkan.

Meski belum ada data publik tentang jumlah rudal Fattah yang dimiliki Iran, laporan The New York Times menyebutkan bahwa beberapa rudal kelas Fattah digunakan dalam Operasi True Promise 2 pada 1 Oktober 2024.

Rudal Anti-Kapal Pesiar Iran

Selain rudal hipersonik, Iran juga memiliki berbagai jenis rudal jelajah anti-kapal (ASCM) yang digunakan sebagai tulang punggung persenjataan mereka. Menurut Institut Internasional untuk Studi Strategis (IISS), Iran memiliki sekitar 1.000 hingga 1.200 rudal ASCM.

Beberapa jenis utama meliputi:

  • Noor – Turunan dari rudal C-802 China, dengan jangkauan sekitar 120 hingga 170 km.
  • Qader (Ghader) – Peningkatan dari Noor, mampu mencapai jarak hingga 200 km.
  • Ghadir – Jarak tembak hingga 300 km, mampu meluncur di atas permukaan laut.
  • Nasr – Sistem rudal jarak pendek, berdasarkan C-704/C-705 China.
  • Ra’ad – Berasal dari HY-2 Silkworm China, jangkauan hingga 350 km.
  • Abu Mahdi – Rudal jarak jauh hingga 1.000 km.

Banyak dari rudal ini digunakan oleh Houthi dalam serangan terhadap kapal komersial dan kapal perang AS. Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan.

Pertahanan Angkatan Laut AS

Meski Iran memiliki berbagai senjata canggih, Gugus Tempur Kapal Induk AS memiliki kemampuan pertahanan udara dan rudal yang tangguh. Contohnya, selama Krisis Laut Merah, kapal perang AS mampu menangkis serangan drone dan rudal Houthi tanpa kerusakan atau korban jiwa.

Selain itu, Iran juga memiliki ranjau, torpedo, dan kendaraan tak berawak yang bisa digunakan untuk melancarkan serangan. Namun, efektivitas senjata-senjata ini terhadap persenjataan AS masih menjadi pertanyaan besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *