ACEH UTARA, Wartajayavision.com,

Selama sebulan setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, belum ada tanda-tanda pembangunan jembatan di wilayah tersebut. Sebanyak 67 jembatan mengalami kerusakan, dengan rincian 57 jembatan rusak berat dan 10 jembatan rusak sedang. Jembatan yang termasuk dalam kategori rusak berat adalah jembatan yang hilang akibat banjir. Salah satu contohnya adalah jembatan di Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

Jembatan rangka baja tersebut hilang terbawa banjir. Selain itu, dua jembatan lainnya juga mengalami kerusakan berat, sehingga akses darat menuju desa tersebut tidak dapat digunakan.

“Sudah sebulan pascabanjir, tapi belum ada tanda-tanda pembangunan jembatan kami. Kami berharap Pak Menteri Pekerjaan Umum bisa membantu membangun jembatan ini,” ujar Kepala Desa Gunci, Fazir Ramli, pada Sabtu (27/12/2025).

Menurut Fazir, jembatan tersebut merupakan akses utama menuju pusat kecamatan. Jembatan ini digunakan oleh masyarakat dari empat desa, yaitu Desa Gunci, Kubu, Lhok Cut, dan Desa Blang Cut, Kecamatan Sawang, untuk menuju pusat Kecamatan Sawang.

“Jembatan ini juga digunakan oleh petani, masyarakat, dan anak sekolah untuk pergi ke kota kecamatan,” tambah Fazir.

Saat ini, warga mengandalkan rakit bambu dan satu perahu karet bantuan dari Polres Lhokseumawe untuk menyeberang.

“Kami berharap, Menteri PU segera membangun jembatan kami, agar roda perekonomian kami sebagai pekebun dan petani dapat hidup kembali pasca-banjir,” katanya.

Camat Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Mazinuddin, juga berharap hal yang sama. Menurutnya, jembatan tersebut sepanjang 100 meter sebelum banjir. Jika dibangun kembali, panjang jembatan akan bertambah menjadi 150 meter karena sebagian bibir sungai telah menjadi bagian dari sungai.

“Jika jembatan ini tidak dibangun, maka akses empat desa akan kacau. Petani dan pekebun kami akan kesulitan membawa barang, begitu juga anak-anak sekolah,” ujar Mazinuddin.

Kondisi Pengungsi

Hingga saat ini, tercatat sebanyak 67.876 pengungsi yang tersebar di 210 titik lokasi. Pengungsi terbanyak berada di Kecamatan Tanah Jambo Aye (54 titik pengungsian), disusul Langkahan (50 titik), Sawang (33 titik), Baktiya Barat (22 titik), Lapang (18 titik), Baktiya dan Dewantara masing-masing 11 titik, Seunuddon dan Nibong masing-masing dua titik, serta Cot Girek dan Kecamatan Meurah Mulia masing-masing satu titik.

Kebutuhan pengungsi yang paling mendesak antara lain tenda keluarga, kebutuhan dapur, popok, kebutuhan bayi, kebutuhan wanita, dan kebutuhan ibadah.

Banjir bandang terjadi pada 26 November 2025 di 18 kabupaten/kota di Aceh. Namun, khusus untuk Aceh Utara dan Aceh Timur, banjir mulai terjadi pada 22 November 2025. Kerusakan terparah dialami oleh Kabupaten Aceh Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *