Penyebab Aritmia pada Usia Muda dan Cara Mencegahnya



JAKARTA – Gangguan irama jantung atau aritmia kini tidak hanya menjadi masalah bagi lansia, tetapi juga semakin sering dialami oleh kalangan muda. Apa penyebabnya?

Salah satu faktor utamanya adalah stres dan kecemasan berlebihan yang memicu peningkatan hormon adrenalin. Hal ini menyebabkan detak jantung menjadi cepat dan tidak teratur, yang dikenal sebagai palpitasi. Selain itu, pola tidur yang tidak teratur dapat mengganggu keseimbangan saraf pengatur detak jantung, sehingga meningkatkan risiko aritmia.

Kecanduan akan kafein dan nikotin juga bisa menjadi pemicu. Kedua zat tersebut menstimulasi sistem saraf, sehingga detak jantung menjadi tidak teratur. Sementara itu, konsumsi alkohol dapat mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh, yang berdampak pada fungsi jantung.

Dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit seperti kalium dan magnesium juga bisa mengganggu sinyal listrik jantung. Hal ini terutama berbahaya bagi orang yang berolahraga intens atau mengonsumsi obat diuretik yang menguras cairan tubuh.

Selain itu, paparan cahaya biru dari gadget seperti ponsel dan komputer juga dikaitkan dengan gangguan kesehatan jantung. Kurangnya aktivitas fisik juga bisa membuat jantung bekerja lebih berat dan kurang efisien.

Langkah Pencegahan untuk Mengurangi Risiko Aritmia

Meski memiliki risiko tinggi, aritmia bisa dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat. Dokter Agus Harsoyo, SpJP(K), Subsp. Ar(K)., FIHA, MM, PIA dari Mayapada Hospital Kuningan memberikan beberapa rekomendasi:

  • Lakukan olahraga isotonik dengan intensitas sedang seperti jalan kaki, jogging, berenang, atau yoga selama 40-45 menit, minimal 3 kali per minggu dan maksimal 5 kali per minggu.
  • Kelola stres melalui meditasi atau pernapasan dalam.
  • Batasi konsumsi kafein dan alkohol serta hindari rokok, vape, dan suplemen stimulan tanpa pengawasan medis.

Pola makan juga sangat penting. Pilih nutrisi seimbang dengan karbohidrat tinggi serat, sayuran, buah-buahan seperti pisang, alpukat, apel, dan pepaya. Konsumsi protein dari telur, chia seeds, ikan kaya magnesium, kalium, dan omega-3 seperti salmon dan tuna.

  • Batasi garam, gula, makanan olahan, dan lemak trans yang bisa memicu tekanan darah tinggi, resistensi insulin, dan peradangan jantung.
  • Pastikan cukup asupan cairan untuk mencegah palpitasi.

Pentingnya Tidur Berkualitas

Tidur yang berkualitas juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan jantung. Coba tidur di bawah jam 12 malam dengan durasi 6–7 jam. Pastikan kamar tidur dalam kondisi tenang, gelap, dan sejuk.

  • Hindari menggunakan gadget, makanan berat, kafein, atau alkohol sebelum tidur.
  • Waspadai gangguan tidur seperti sleep apnea yang bisa meningkatkan risiko aritmia dan tekanan darah tinggi.

Jika terasa detak jantung sangat cepat, tidak beraturan, disertai pusing, sesak napas, atau nyeri dada, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan EKG, Holter, atau tes stres jantung, terutama jika ada riwayat keluarga dengan penyakit jantung.

Layanan Kesehatan Jantung yang Komprehensif

Kesadaran menjaga kesehatan jantung sejak muda menjadi kunci untuk mencegah aritmia dan gangguan jantung lainnya. Mayapada Hospital mendukung upaya pencegahan dengan menyediakan layanan Cardiovascular Center yang memberikan penanganan jantung komprehensif berstandar internasional.

Layanan ini mencakup pencegahan, deteksi dini, diagnosis, intervensi, hingga rehabilitasi, didukung oleh tim dokter multidisiplin berpengalaman dan teknologi mutakhir.

Dalam situasi kegawatdaruratan, Cardiac Emergency Mayapada Hospital 24 Jam siap memberikan tindakan Primary PCI dengan protokol door to wire di bawah 60 menit, sebagai standar emas dalam penyelamatan nyawa pada serangan jantung akut.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai layanan, akses aplikasi MyCare yang menyediakan fitur Emergency Call untuk kondisi kegawatdaruratan, Health Articles & Tips seputar kesehatan jantung, hingga Personal Health yang terhubung dengan Health Access dan Google Fit, untuk memantau langkah harian, kalori terbakar, detak jantung, hingga Body Mass Index (BMI).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *