Pasukan Suriah Bergerak ke Wilayah Suwayda

Pasukan keamanan Suriah mulai bergerak menuju wilayah Suwayda pada hari Sabtu (19/7/2025), setelah ratusan orang dilaporkan tewas dalam bentrokan antar komunitas. Pertempuran sengit terjadi antara kelompok minoritas Druze dan suku Badui sejak pekan lalu, yang memicu krisis internal yang semakin memburuk. Pemerintah pusat di Damaskus kini mencoba meredam eskalasi sektarian yang mengancam wilayah selatan negara tersebut.

Pemerintah Suriah telah mengumumkan gencatan senjata secara sepihak untuk meredam krisis yang makin memburuk. Dalam pernyataan resmi, pemerintah menyebut keputusan itu diambil demi menyelamatkan darah rakyat Suriah, menjaga kesatuan wilayah negara, dan melindungi keselamatan warganya.

Serangan Israel dan Permintaan Zona Demiliterisasi

Israel langsung meluncurkan serangan terhadap pasukan pemerintah Suriah dengan alasan melindungi komunitas Druze yang dianggap sebagai minoritas penting di kedua negara. Di saat bersamaan, Israel mengungkap kekhawatiran atas pemerintahan baru Suriah yang dipimpin oleh kelompok Islamis, meskipun sempat melakukan kontak terbatas untuk membahas isu keamanan. Serangan ini memicu reaksi berantai yang menambah panasnya konflik di Suwayda.

Pada hari Rabu (16/7/2025), Israel menyerang markas Kementerian Pertahanan Suriah di Damaskus dan menghantam pasukan Suriah di Suwayda. Israel menyebut komunitas Druze sebagai “saudara” dan meminta agar wilayah itu ditetapkan sebagai zona bebas militer. Namun setelah kekerasan meluas, pada Jumat (18/7/2025), Israel akhirnya menyetujui keberadaan terbatas pasukan keamanan domestik di Suwayda untuk menjaga ketertiban.

Analis politik Nour Odeh dari Al Jazeera menilai langkah Israel tidak sepenuhnya demi perlindungan Druze. Menurutnya, ini adalah bagian dari upaya Israel untuk menunjukkan bahwa mereka adalah kekuatan hegemoni di Timur Tengah. Ia menilai pendekatan ini mencerminkan ekspansi teritorial yang agresif dan strategi perang yang dilakukan secara bersamaan tanpa kompromi.

Presiden Suriah Mengkritik Intervensi dan Memuji Mediasi AS

Presiden Suriah, Ahmed al-Sharaa, menyebut krisis di Suwayda sebagai titik balik berbahaya bagi negaranya dalam pidato pada hari Sabtu (19/7/2025). Ia secara langsung menyinggung serangan Israel ke Damaskus dan Suwayda, yang menurutnya telah memperparah ketegangan nasional. Al-Sharaa menilai situasi ini sebagai ancaman serius bagi stabilitas politik dan keamanan Suriah.

Ia juga menuduh adanya tokoh-tokoh Druze yang didukung kekuatan asing dan mendorong upaya separatis di wilayah tersebut. “Beberapa tokoh, yang didorong oleh dukungan asing, telah menunjukkan ambisi separatis dan memimpin kelompok bersenjata yang melakukan tindakan pembunuhan dan penyalahgunaan,” katanya.

Setelah mediasi dari AS untuk menghentikan kekerasan dan serangan udara Israel, al-Sharaa menyampaikan terima kasih kepada Presiden AS, Donald Trump. Ia menyampaikan apresiasi atas komitmennya terhadap stabilitas negara dan mendukung kesepakatan gencatan senjata baru yang diumumkan oleh utusan AS untuk Suriah, Thomas Barrack, pada Jumat malam.

Laporan PBB tentang Pelanggaran HAM

Menurut laporan dari Syrian Observatory for Human Rights (SOHR), sedikitnya 940 orang dilaporkan tewas sejak kekerasan pecah di Suwayda pada hari Minggu (13/7/2025). Lembaga pemantau konflik itu menyebut jumlah tersebut sebagai korban tewas tertinggi dalam satu minggu untuk konflik sektarian di Suriah. Kekerasan ini melibatkan berbagai kelompok bersenjata lokal dengan latar belakang etnis dan agama yang berbeda.

Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Türk, mengungkap adanya laporan kredibel mengenai pelanggaran berat selama pertempuran. Dugaan pelanggaran tersebut termasuk eksekusi tanpa proses hukum dan pembunuhan sewenang-wenang. Dalam pernyataan tertulisnya, Türk mengatakan bahwa pelaku berasal dari pasukan pemerintah, kelompok bersenjata Druze dan Badui, serta individu yang terkait dengan otoritas sementara.

“Pertumpahan darah dan kekerasan ini harus dihentikan,” kata Türk. Ia juga menyampaikan bahwa semua pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan di Suwayda harus dimintai pertanggungjawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *