BREBES, WARTAJAYAVISION.COM – Setelah audiensi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung di Cirebon pada Senin lalu, Komunitas Jaga Kali Kluwut yang dipimpin oleh Haji Mahfudin kembali bertindak cepat.
Bersama dua petugas dari BBWS, mereka melakukan survei mendalam mengenai kondisi pendangkalan di Kali Kluwut pada Selasa, 5 Oktober 2024. Survei ini bertujuan untuk memetakan area yang mengalami penyempitan dan pendangkalan agar pengerukan bisa dilaksanakan secara efektif.
Haji Mahfudin, Ketua Komunitas Jaga Kali, menyatakan bahwa komunitasnya bertanggung jawab untuk memastikan kondisi sungai tetap memadai bagi kegiatan nelayan.
“Sebagai komunitas masyarakat peduli sungai, kami wajib menindaklanjuti setiap laporan yang masuk. Langkah survei ini akan membantu menentukan titik-titik pengerukan yang perlu prioritas,” ujarnya.

Dua petugas survei dari BBWS yang hadir, termasuk Ahmad yang mengenakan baju putih, melakukan pengukuran kedalaman di beberapa titik sepanjang Kali Kluwut, khususnya di sekitar Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Survei juga mencakup analisis mobilisasi alat berat, seperti ekskavator, yang diperlukan untuk pengerukan.
Dari hasil survei awal, diperoleh informasi bahwa pendangkalan cukup signifikan dan membutuhkan pengerukan hingga sekitar 6 kilometer dari jembatan ke utara.
Berdasarkan hasil diskusi dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Brebes, yang diketuai Rudi, idealnya pengerukan dilakukan secara menyeluruh untuk memulihkan kapasitas sungai, mengurangi sedimentasi, dan memudahkan akses kapal.
Lebih lanjut, Mahfudin menambahkan bahwa alat-alat berat, seperti tongkang besar yang rencananya didatangkan dari Pekalongan, kemungkinan akan menjadi solusi dalam pengerukan kali ini.
BBWS dan pemerintah pusat juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pembiayaan, termasuk lewat Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), yang hasilnya dapat dimanfaatkan hingga 80% untuk peningkatan kondisi Kali Kluwut.
Dengan survei ini, diharapkan BBWS akan segera memberikan rekomendasi teknis untuk melancarkan proses pengerukan sehingga aliran sungai dapat kembali optimal, mendukung aktivitas nelayan lokal, serta meringankan biaya kapal yang selama ini cukup tinggi akibat harus menggunakan kapal tunda.








