Peristiwa Intimidasi Keluarga Kades di Garut Memicu Respons Gubernur Jawa Barat
Sebuah video yang menunjukkan dugaan intimidasi terhadap warga oleh keluarga kepala desa di Desa Panggalih, Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, kini menjadi perhatian publik. Video tersebut viral di media sosial dan memicu respons dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam rekaman yang beredar, tampak beberapa orang melontarkan perkataan keras kepada seorang pria yang terlihat menunduk sambil bersandar di pagar. Salah satu pelaku mengatakan, “Kamu mau bagaimana? Mau tenar? Mau sok jago di media sosial?” Ucapan itu disampaikan oleh seorang pria bertopi. Tidak hanya itu, pria lainnya terlihat menarik bagian leher jaket korban sebelum mendorongnya. Sementara itu, seorang perempuan mendekati korban sambil merekam dengan ponselnya dan mengeluarkan umpatan kasar.
Korban diketahui bernama Holis Muhlisin (38), warga Desa Panggalih. Ia diduga mendapat tekanan dari keluarga kepala desa setelah mengunggah video kondisi jalan rusak. Insiden ini terjadi pada 27 Oktober 2025. Menanggapi kejadian tersebut, Dedi Mulyadi memberikan tanggapan yang tegas.
Tanggapan Gubernur Jawa Barat
Dedi Mulyadi mengingatkan seluruh aparatur desa, mulai dari RT, RW, kepala dusun hingga perangkat desa lainnya, agar tidak bersikap represif terhadap warga. Ia menegaskan bahwa kritik dari masyarakat, termasuk unggahan mengenai pembangunan yang belum merata, kerusakan jalan, drainase, saluran air, hingga kondisi rumah warga kurang mampu, tidak boleh dibalas dengan ancaman atau intimidasi.
“Manakala ada orang melakukan kritik, memposting pembangunan yang belum berkeadilan, jalan rusak, drainase rusak, saluran air rusak, rumah rakyat miskin tidak ada yang peduli, jangan pernah melakukan intimidasi atau pengancaman,” ujar Dedi Mulyadi.
Ia juga menekankan bahwa dalam dunia yang semakin terbuka, aparat harus menerima kritik dengan lapang dada dan berusaha untuk melakukan perubahan dan perbaikan. Menurut Dedi Mulyadi, caci maki adalah bagian dari konsekuensi seorang pemimpin yang harus dihadapi ketika terpilih.
“Sudah bukan musimnya lagi kita anti kritik dan mencaci maki orang yang mengkritik. Bahkan, kita harus tahan terhadap caci maki, karena bisa jadi kita jadi pemimpin, salah satu hal yang harus kita alami adalah dicaci maki,” tambahnya.
Kronologi Peristiwa
Holis Muhlisin mengungkapkan bahwa kejadian tersebut bermula ketika dirinya ingin menemui seseorang di wilayah desanya untuk membahas persoalan terkait akun Facebook. Namun, pertemuan itu ternyata berlangsung di halaman rumah kepala desa yang berada di Kampung Pasircamat.
“Iya betul itu adalah saya, kejadiannya tanggal 27 Oktober 2025, kemudian saya posting di Facebook 31 Desember 2025,” ujarnya melalui sambungan telepon.
Menurut pengakuannya, tindakan intimidasi tersebut melibatkan empat orang, yakni istri kepala desa, anak, menantu, serta keponakan kepala desa. Ia juga mengaku mengalami kekerasan fisik berupa cekikan di bagian leher serta pukulan di punggung.
“Saya sebagai korban tidak enak, digituin sama orang lain. Saya melakukan (posting video) untuk kemajuan desa,” ucapnya.
Dalam video yang ia unggah, terlihat Holis menjadi sasaran makian dari keluarga kepala desa. Beberapa di antaranya bahkan melontarkan kata-kata bernada merendahkan. Sementara Holis tampak hanya terdiam, dua pria dan satu perempuan terus melontarkan cacian kepadanya.
“Sebetulnya saya juga takut pas upload, tapi saya ingat kata Pak Gubernur agar mengunggah pembangunan di desa,” tutupnya.
Tribunjabar.id telah mencoba melakukan konfirmasi terkait peristiwa tersebut melalui Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga Minggu malam yang bersangkutan belum memberikan respons.









