LOSARI, WARTAJAYAVISION.COM – Pelaksanaan program Dapur Satuan Pelayanan Program Gizi – Makan Bergizi Gratis (SPPG-MBG) di Desa Losari Kidul (Loskid) menuai sorotan dari masyarakat setempat. Pihak pengelola dinilai lambat dan kurang serius dalam merespons aspirasi warga terkait pelibatan sektor ekonomi lokal.Kekecewaan ini mencuat setelah pertemuan yang digelar pada Kamis (23/7) lalu di Dapur SPPG Loskid tidak kunjung mendapat kejelasan.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh perwakilan warga, anggota BPD, Kuwu (Kepala Desa), perangkat desa, Kapolsek beserta jajaran, serta perwakilan Yayasan.
Namun hingga kini, baik pihak Yayasan maupun Kepala SPPG-MBG Loskid belum memberikan respons sigap.
Perwakilan warga, Pa Sarudin, bersama Mas Sugiyanto selaku Asisten Lapangan (ASLAP) Dapur SPPG Loskid—yang juga Sekretaris PCM Losari—menyatakan bahwa sekitar 15 warga yang terdiri dari pedagang kecil, pelaku UMKM, dan supplier lokal merasa dikesampingkan.
Padahal, bulan lalu mereka telah menandatangani surat Perjanjian Kerja Sama (PKS) di atas materai Rp10.000.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi atau alasan yuridis dan logis mengapa komitmen tersebut belum berjalan.
Warga menuntut agar pengelola Dapur SPPG Loskid secara proaktif merangkul, melibatkan, dan memberdayakan potensi ekonomi serta pekerja lokal secara optimal. Langkah ini dinilai krusial agar terjadi perputaran ekonomi yang nyata di tingkat desa, sejalan dengan regulasi dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan kementerian terkait.
Melalui kemitraan yang menerapkan prinsip simbiosis mutualisme, program ini diharapkan tidak hanya menyehatkan anak-anak melalui pemenuhan gizi, tetapi juga menyejahterakan para petani, peternak, petambak, UMKM, hingga BUMDes setempat.
Warga berharap pihak pengelola mengedepankan transparansi, niat baik, serta komitmen untuk menghormati hak-hak masyarakat lokal sebagai tuan rumah.








