Polemik Pernyataan Cak Imin Mengenai Bencana Banjir dan Longsor di Sumatera
Pernyataan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia, Muhaimin Iskandar atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Imin, mengenai kebutuhan evaluasi total terhadap tiga menteri yaitu Kehutanan, ESDM, dan Lingkungan Hidup, memicu perdebatan yang cukup hangat. Peristiwa ini terjadi setelah bencana banjir dan longsor melanda beberapa wilayah di Sumatera.
Cak Imin menilai bahwa bencana tersebut merupakan akibat dari kelalaian manusia, khususnya dalam hal pengelolaan lingkungan. Ia menyebutkan bahwa tiga menteri tersebut harus melakukan taubatan nasuha, sebuah istilah yang merujuk pada pertobatan atau penyesalan mendalam atas kesalahan yang telah dilakukan.
Daftar Tiga Menteri yang Diminta Melakukan Evaluasi Total
Dalam suratnya kepada tiga menteri tersebut, Cak Imin meminta mereka untuk melakukan evaluasi besar-besaran terhadap kebijakan yang telah diterapkan. Berikut adalah daftar menteri yang dimaksud:
Menteri Kehutanan – Raja Juli Antoni
Cak Imin menyoroti pentingnya evaluasi kebijakan pengelolaan hutan, terutama terkait deforestasi yang disebut menjadi salah satu faktor penyebab bencana banjir dan longsor di berbagai daerah.Menteri ESDM – Bahlil Lahadalia
Dalam pernyataannya, Cak Imin menilai perlunya pertobatan kebijakan di sektor energi dan mineral yang diduga berhubungan dengan kerusakan lingkungan.Menteri Lingkungan Hidup
Cak Imin juga mengirim surat kepada Menteri Lingkungan Hidup untuk mengevaluasi seluruh kebijakan dan langkah mitigasi bencana. Ketiganya diminta berkomitmen melakukan “evaluasi total” sebagai bentuk kesungguhan pemerintah menghadapi bencana yang terus berulang.
Kritik DPR: Tidak Perlu Saling Menyalahkan
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, memberikan respons keras terhadap pernyataan Cak Imin. Menurutnya, pernyataan tersebut terlalu tendensius dan tidak memberikan solusi komprehensif.
“Prinsipnya sangat tidak tepat mengeluarkan pernyataan seperti itu dalam kondisi bencana, apalagi itu keluar dari seorang Muhaimin Iskandar yang juga berada di pemerintahan,” kata Panggah, Selasa (2/12/2025).
Ia menegaskan bahwa pemerintah semestinya fokus pada penanganan dan pencegahan, bukan melempar tanggung jawab. Menurut Panggah, akar masalah banjir-longsor tidak hanya soal kebijakan satu kementerian, tetapi akumulasi persoalan panjang seperti penggundulan hutan, curah hujan ekstrem, hingga lemahnya pengawasan tata ruang.
Bencana sebagai Momentum Evaluasi Total
Panggah berharap bencana justru menjadi momentum introspeksi kebijakan lingkungan dan kehutanan di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa hutan di Jawa misalnya, dari 2,4 juta hektare, separuhnya kini menjadi lahan terbuka. Ini akumulasi masalah masa lalu yang belum diselesaikan menyeluruh.
Ia mendesak pemerintah merumuskan langkah strategis yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Pernyataan Cak Imin: Kiamat Sudah Terjadi Akibat Kelalaian
Sebelumnya, saat menghadiri acara Workshop Kepala Sekolah SMK di Bandung, Senin (1/12/2025), Cak Imin menyebut bencana ini sebagai tanda peringatan besar. “Kiamat bukan sudah dekat, kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” ujarnya.
Ia berharap seluruh pihak, termasuk para menteri terkait, melakukan evaluasi mendalam agar bencana serupa tak terus terulang.









