Kasus Pembunuhan Anak Petinggi PKS Kota Cilegon Masih Mencurigakan
Kasus pembunuhan MAHM (9), putra Dewan Pakar PKS Kota Cilegon Haji Maman Suherman, masih menjadi misteri. Anak kecil yang ditemukan tewas dengan 22 luka di rumah mewah Perumahan BBS, Kota Cilegon, Banten, membuat banyak pihak kaget dan khawatir. Hingga saat ini, polisi belum berhasil menemukan pelaku, dan tidak ada barang berharga yang hilang dari lokasi kejadian.
Tiga Temuan Baru dalam Kasus Ini
1. Tak Ada Satpam di Rumah Mewah
Menurut Kasi Humas Polres Cilegon AKP Sigit Dermawan, rumah tersebut ditinggali oleh delapan orang, termasuk keluarga korban dan pihak lain. Meski rumah tersebut dipasangi CCTV, semua perangkat tersebut rusak. Selain itu, tidak ada satpam pribadi yang mengamankan rumah tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana kejadian bisa terjadi tanpa adanya pengawasan yang ketat.
2. Asisten Rumah Tangga (ART) Sudah Pulang
Petugas keamanan di kompleks perumahan, Sukir, menyebutkan bahwa hanya dua ART yang bekerja di rumah Maman Suherman. Namun, kedua ART tersebut sudah pulang sebelum kejadian. Salah satu dari mereka pulang pada pukul 11.00 WIB, sementara yang lainnya pulang sekitar jam 2 siang. Dengan kondisi seperti ini, kemungkinan besar kejadian terjadi saat rumah dalam keadaan kosong atau hanya ditemani oleh beberapa orang.
3. Pecat Pegawai dan Investigasi Lanjutan
Polisi menyatakan hingga kini belum menemukan pelaku kasus pembunuhan ini. Menurut Kapolres Cilegon AKBP Martua Raja Silitonga, penyelidikan masih berlangsung. Pihak kepolisian juga sedang mendalami keterlibatan orang dekat korban. Terkait hal ini, Maman Suherman baru saja memecat empat pegawainya. Hal ini menambah keraguan apakah ada motif tersembunyi di balik pemecatan tersebut.
Analisis dari Mantan Kabareskrim
Mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, memberikan analisis penting terkait proses penyelidikan. Ia menekankan bahwa CCTV bukanlah satu-satunya bukti yang bisa digunakan. “Alat bukti saintifik seperti sidik jari sangat penting karena tidak bisa berbohong,” ujarnya.
Susno menjelaskan bahwa polisi dapat mencari sidik jari di berbagai tempat seperti pintu, meja, dan alat-alat yang digunakan untuk melakukan kejahatan. Jika tidak ditemukan sidik jari, maka polisi bisa mencari jejak lain, seperti benda tajam atau sarung tangan yang digunakan.
Selain itu, Susno menyarankan untuk mengecek alat komunikasi seperti HP para saksi dan korban. “Di HP akan terlihat ada pembicaraan lewat WhatsApp, SMS, telepon, dan lain-lain. Itu bisa memberikan petunjuk,” tambahnya.
Jika sidik jari dan penelusuran melalui alat komunikasi tidak memberikan hasil, polisi bisa melakukan tes DNA untuk mengidentifikasi pelaku. “DNA adalah alat bukti yang tidak bisa dibantah,” kata Susno.
Selain itu, keterangan saksi dan ahli juga menjadi salah satu cara untuk mengungkap kasus ini. “Keterangan saksi dan ahli didapat dari Post Mortem, baik luar maupun autopsi,” jelasnya.









