Sholat: Bentuk Perlawanan Sunyi yang Tak Pernah Hilang

Di tengah dunia yang penuh dengan konflik, propaganda, dan persaingan kekuasaan, sholat seringkali dianggap sebagai ritual individual yang hanya berkaitan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan. Namun, dalam sejarah Islam, sholat justru lahir sebagai bentuk perlawanan sunyi—bentuk perlawanan yang tidak menggunakan senjata atau teriakan, tetapi memiliki daya tahan yang dalam dan lama.

Isra Mikraj terjadi bukan pada masa kejayaan Nabi Muhammad ﷺ, melainkan pada fase paling gelap dalam hidup beliau. Saat istri tercinta wafat, pelindung politik meninggal, dakwah ditolak, dan kekerasan dialami secara fisik maupun psikologis, Allah memberikan hadiah berupa sholat. Pesan ini sangat politis sekaligus spiritual: ketika dunia menutup semua pintu, Allah membuka pintu langit.

Sholat, sejak awal, bukan sekadar ibadah personal. Ia adalah bentuk ketahanan hidup (resiliensi) sekaligus perlawanan (resistensi).

Berdiri Tegak di Hadapan Tuhan

Dalam sholat, seorang muslim berdiri tegak (qiyam). Secara simbolik, ini adalah sikap keberanian. Orang yang terbiasa berdiri di hadapan Tuhan tidak mudah tunduk kepada kezaliman manusia. Sejarah mencatat bahwa para nabi dan orang saleh selalu berhadapan dengan tirani.

Fir’aun takut bukan kepada senjata Musa, tetapi kepada keyakinannya. Para penjajah takut bukan kepada jumlah umat Islam, tetapi kepada kesadaran spiritual yang melahirkan keberanian moral. Sholat melatih keberanian ini—tanpa sorak sorai, tanpa lampu sorot panggung.

Sujud: Puncak Kerendahan, Sumber Perlawanan

Sujud sering disalahpahami sebagai simbol kepasrahan total yang mematikan daya kritis. Padahal dalam Islam, sujud justru menolak pasrah tunduk kepada selain Allah. Orang yang bersujud hanya kepada Tuhan tidak akan pernah tunduk kepada kekuasaan yang zalim, konglomerasi yang rakus, atau ideologi yang menindas.

Itulah mengapa sujud menjadi simbol perlawanan umat tertindas. Di Gaza, di masjid-masjid yang hancur, di pengungsian, di penjara-penjara politik, sholat tetap ditegakkan dengan khusuk. Mereka mungkin kehilangan rumah, keluarga, bahkan masa depan, tetapi tidak kehilangan martabat. Sholat menjaga martabat itu.

Hubungan yang Tak Terpisahkan

Isra Mikraj dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa. Artinya, sholat—hadiah Isra Mikraj—lahir dengan membawa jejak Palestina. Maka memisahkan sholat dari isu Al-Aqsa dan Gaza bukan hanya keliru secara syariat, tetapi juga cacat secara akidah.

Ketika umat Islam menjaga sholat, seharusnya ingatan mereka juga terjaga tentang tanah yang menjadi saksi perjalanan Nabi ﷺ. Sholat bukan hanya menghadap kiblat, tetapi juga memberi respon dan proaktif terhadap sejarah penderitaan dan harapan umat.

Perlawanan Sunyi di Tengah Kebrutalan

Hari ini, dunia memuja kekuatan yang berisik: senjata canggih, algoritma media, opini yang viral. Sholat tidak masuk logika itu. Ia sunyi, berulang, dan tampak diam. Namun justru di sanalah kekuatannya.

Sholat melatih kesabaran jangka panjang, sesuatu yang tidak dimiliki oleh perlawanan instan. Ia menanamkan disiplin, ketahanan mental, dan orientasi akhirat—tiga hal yang membuat umat Islam tetap hidup meski dihantam berkali-kali di era Perang Salib, serbuan Mongol, konspirasi Zionisme sepanjang abad-20 hingga era Mulkan Jabriyah dan perang global anti-Islam di awal abad 21.

Bahaya Sholat yang Kehilangan Ruh Perlawanan

Namun ada bahaya besar mengintai ketika sholat kehilangan daya perlawanan dan etos kreatifitasnya. Ketika ia hanya menjadi rutinitas, tanpa kepekaan sosial. Ketika orang rajin sholat, tetapi diam membisu melihat ketidakadilan. Ketika masjid penuh, tetapi nurani kosong. Ketika sukses berislam diukur dengan festival maulid, haul dan shalawatan yang riuh sesak, tetapi daya saing umat yang rendah dan saintek tertinggal jauh dari umat lain.

Al-Qur’an sudah mengingatkan: “Celakalah orang-orang yang sholat, yang lalai dari sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5) Lalai bukan berarti meninggalkan gerakan, tetapi kehilangan makna. Sholat yang sejati seharusnya mencegah kezaliman dan menghadirkan keadilan, bukan meninabobokkannya.

Spiritualitas yang Menggerakkan, Bukan Melarikan

Isra Mikraj sering diperingati sebagai peristiwa spektakuler, tetapi banyak yang lupa pesan terbesarnya: kembali ke bumi membawa tanggung jawab dan misi peradaban. Nabi ﷺ tidak tinggal di langit. Beliau kembali menghadapi realitas pahit masyarakatnya, dengan bekal sholat.

Singkatnya, sholat bukan pelarian dari dunia, tetapi energi untuk mengubah dunia.

Bentuk Perlawanan

Di tengah dunia Islam yang terluka di Palestina, Suriah, Rohingya, Uyghur, Yaman, Sudan, Somalia dan Libia, juga bencana ekologis di Aceh, Sumut dan Sumbar, sholat adalah bentuk perlawanan paling konsisten. Ia tidak viral, tidak heroik, tetapi tak bisa dimatikan. Ia menumbuhkan manusia-manusia yang mungkin kalah secara politik, tetapi menang secara moral.

Selama umat Islam masih berdiri, rukuk, dan sujud dengan kesadaran—selama itu pula perlawanan sunyi belum berakhir.

Dan mungkin, justru dari kesunyian dan keheningan sholat itulah perubahan besar dunia akan lahir. Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. (Q.s. an-Nur: 55)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *