PT Asuransi Asei Indonesia mengungkapkan berbagai strategi yang diterapkan untuk mengelola risiko dan menekan rasio klaim asuransi kredit. Langkah-langkah ini diambil dalam situasi yang masih menunjukkan tingginya tekanan terhadap lini usaha asuransi kredit secara keseluruhan.
Menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio klaim pada lini usaha kredit di asuransi umum dan reasuransi mencapai 85,56% per Oktober 2025. Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe, menjelaskan beberapa strategi utama yang diterapkan perusahaan.
Strategi Pengelolaan Risiko Asuransi Kredit
Menguatkan Underwriting
Perusahaan memperketat kriteria penjaminan kredit dengan mempertimbangkan kualitas profil debitur, riwayat kredit, jaminan, serta menyesuaikan tarif premi sesuai profil risiko.Pricing Aktuaria yang Lebih Akurat
Penggunaan model aktuaria yang lebih tepat digunakan untuk menentukan tarif premi yang sejalan dengan risiko aktual dari portofolio kredit.Risk Sharing
Pembagian risiko dilakukan dengan pemberi kredit atau lender agar tidak sepenuhnya menjadi tanggungan perusahaan asuransi. Hal ini didasarkan pada POJK 20/2023.Pencadangan Teknis yang Ketat
Pencadangan dilakukan sesuai standar regulator dan ekspektasi klaim di masa depan.Batasan Eksposur Terhadap Debitur atau Sektor Tertentu
Untuk menghindari konsentrasi risiko, perusahaan menetapkan batasan maksimum eksposur terhadap satu debitur atau sektor tertentu.Diversifikasi Portofolio
Pertumbuhan produk lain yang lebih stabil dipercepat untuk menyeimbangkan profil risiko keseluruhan perusahaan.
Pertumbuhan Asuransi Kredit di Asei
Dody menyebutkan bahwa asuransi kredit di Asei mengalami pertumbuhan signifikan pada 2025. Sebelumnya, pada 2024, hampir semua bank dan lembaga pembiayaan masih menunggu karena belum sepenuhnya menyesuaikan dengan ketentuan POJK 20 tahun 2023.
Perusahaan berkomitmen untuk menerapkan risk sharing, pemisahan risiko jiwa dan risiko kredit, serta pembatasan biaya akuisisi sesuai ketentuan. Selain itu, sistem monitoring pertanggungan dan penanganan klaim juga diterapkan.
Rasio Klaim yang Tinggi
Pertumbuhan premi asuransi kredit di tahun 2025 diikuti dengan kenaikan rasio klaim yang sejalan dengan rasio industri. Rasio ini jauh di atas rata-rata industri asuransi umum dan dipandang sebagai tekanan risiko yang signifikan. Margin underwriting menjadi tipis, sehingga profitabilitas berpotensi tertekan.
Faktor yang Mendorong Rasio Klaim Tinggi
Beberapa faktor yang menyebabkan rasio klaim asuransi kredit tinggi antara lain:
– Kualitas portofolio kredit yang diasuransikan mengalami stres karena pinjaman berisiko tinggi atau portofolio kredit yang memburuk.
– Dinamika kondisi ekonomi makro seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, tekanan setor pembiayaan, atau meningkatnya NPL.
– Praktik underwriting dan pricing yang kurang memadai atau underwriting yang tidak disiplin.
– Cadangan teknis yang belum optimal, sehingga realisasi klaim melebihi ekspektasi.
Pandangan OJK
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, menyebutkan bahwa pendapatan premi dari lini usaha tersebut tercatat sebesar Rp19,67 triliun. Dengan klaim sebesar Rp16,83 triliun, rasio klaim berada pada level 85,56%.
Menurutnya, potensi klaim pada lini asuransi kredit dipengaruhi oleh kualitas portofolio kredit yang diasuransikan, dinamika kondisi ekonomi, serta praktik underwriting dan penetapan tarif pada sebagian produk.









