Wartajayavision.com,, Bandung – Antena teleskop radio berbentuk mangkuk seberat 85 ton berhasil dipasang di Observatorium Bosscha, Lembang pada Rabu 7 Juli 2025. Kepala Observatorium Bosscha Hesti Retno Tri Wulandari mengatakan pembangunan teleskop radio, serta bangunan pendukungnya, ditargetkan selesai pada Agustus mendatang.
“Nanti masih akan ada tes alat lalu uji ilmiah, mungkin amannya awal tahun depan untuk beroperasi penuh,” katanya kepada Tempo pada Kamis 10 Juli 2025.
Teleskop radio Very Long Baseline Interferometry (VLBI) pertama di Indonesia itu akan menjadi bagian dari sistem pengamatan global atau VLBI Global Observing System (VGOS) antariksa, serta Bumi. Menurut Hesti, selama ini teleskop radio kecil sudah terpasang di Observatorium Bosscha dan di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun perangkat itu tidak bekerja dalam jaringan VGOS.
“Teleskop radio itu bukan hal yang sama sekali baru buat kami,” kata Hesti.
Bergaris tengah 13 meter, antena teleskop radio itu ditopang menara setinggi 19 meter yang bentuknya seperti mercusuar. Bentuk bangunan itu, menurut Hesti, sudah disesuaikan dengan standar teleskop radio untuk VGOS.
Merujuk informasi di laman resmi ITB, fasilitas pengamatan itu merupakan hasil kemitraan ITB dengan Shanghai Astronomical Observatory (SHAO) dan Chinese Academy of Sciences (CAS). Selain untuk pengamatan astronomi, teleskop radio juga digunakan ilmuwan dan peneliti geodesi, telekomunikasi, sains data, serta rekayasa perangkat lunak.
Kepala Biro Kemitraan ITB Taufiq Hidayat mengatakan Observataorium Bosscha akan terjaring dengan teleskop radio di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Serikat, China, Jepang, Jerman, Spanyol, Swedia, Australia, Afrika Selatan, Norwegia, Finlandia, Thailand, Portugal. Alat ini akan mengisi kekosongan slot pengamatan teleskop radio dari wilayah ekuator, yang saat ini hanya ada di Brasil.
Dengan menggabungkan data dari berbagai teleskop, sistem VGOS memungkinkan pengukuran jarak antar titik di Bumi secara akurat. Teleskop radio juga bisa memantau pergerakan benua, termasuk kecepatan dan perubahan jaraknya dalam jangka waktu tertentu, standar waktu yang presisi, dan memantau potensi perubahan iklim.
Peneliti Pusat Riset Komputasi dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Ibnu Nurul Huda mengatakan teleskop radio berbeda dengan teleskop optik yang menggunakan lensa. Teleskop radio merupakan penangkap panjang gelombang dari cahaya yang berfrekuensi tinggi. Sinyal yang ditangkap dari suatu obyek astronomi itu kemudian diolah menjadi data pengamatan.
Dibanding teleskop optik, teleskop radio punya kelebihan, salah satunya bisa mengamati selama 24 jam penuh meski cuaca mendung. Untuk pengamatan obyek astronomi secara serempak pada waktu tertentu, hasil teleskop radio dianggap lebih baik. “Contohnya hasil pengamatan dan penemuan black hole,” kata Ibnu.
Teleskop radio bermanfaat untuk berbagai bidang ilmu, seperti geodesi, geofisika, dinamika bumi, atau yang terkait dengan perekayasa. Perangkat ini juga bisa dipakai untuk mengamati lempeng tektonik, mengukur kecepatan sumbu rotasi bumi, serta menentukan lokasi di bumi secara akurat.








