Super League 2025/2026 Siap Berikan Tantangan Seru dengan Skuad Mahal
Super League 2025/2026 dipastikan akan menjadi ajang kompetisi yang lebih sengit dan menarik. Klub-klub besar berlomba-lomba untuk memperkuat skuad mereka dengan pemain-pemain bintang, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah formasi ideal yang terdiri dari 11 pemain dengan nilai pasar tertinggi. Total nilai dari ke-11 pemain ini mencapai Rp 85,60 miliar, menjadikannya salah satu starting XI paling mahal dalam sejarah liga.
Formasi yang digunakan adalah 4-3-3, yang menggabungkan keseimbangan antara pertahanan dan serangan. Di bawah mistar gawang, posisi penjaga gawang diisi oleh Sonny Stevens dari Dewa United, yang memiliki nilai pasar sebesar Rp 6,08 miliar. Kiper asal Belanda ini diharapkan menjadi benteng terakhir yang tangguh bagi tim.
Di lini belakang, dua bek tengah termahal berasal dari klub yang sama, yaitu Persija Jakarta. Mereka adalah Jordi Amat dengan nilai pasar Rp 11,30 miliar dan Rizky Ridho senilai Rp 9,56 miliar. Kombinasi pengalaman dan potensi muda membuat lini pertahanan ini sangat solid. Sementara itu, Fajar Fathurrahman dari Borneo FC menjadi bek kanan dengan nilai pasar Rp 5,65 miliar. Ia dikenal sebagai pemain yang bisa bermain di tiga posisi berbeda, yaitu RB, RW, dan LW.
Di sisi kiri pertahanan, Ricky Fajrin dari Bali United juga memiliki nilai pasar yang setara, yaitu Rp 5,65 miliar. Pengalaman dan fleksibilitasnya membuatnya menjadi pemain penting dalam skema pertahanan tim.
Lini tengah diisi oleh Thijmen Goppel dari Bali United, yang menjadi gelandang kanan dengan nilai pasar tertinggi, yakni Rp 12,17 miliar. Pemain asal Belanda ini bisa bermain di posisi RM, RB, atau RW, menjadikannya salah satu pemain paling komplet di liga. Juan Felipe Villa dari Borneo FC juga menjadi bagian dari lini tengah, dengan nilai pasar Rp 7,82 miliar. Ia dikenal sebagai pengatur tempo permainan yang hebat.
Dua gelandang tengah lainnya adalah Alexis Messidoro dari Dewa United (Rp 7,82 miliar) dan Christian Ilic dari Bhayangkara FC (Rp 6,95 miliar). Messidoro mampu bermain di berbagai posisi seperti CM, AM, hingga DM, sedangkan Ilic dikenal sebagai gelandang kreatif yang bisa berfungsi sebagai penyerang bayangan.
Di lini depan, Bruno Moreira dari Persebaya Surabaya menjadi sorotan utama. Ia beroperasi di sayap kiri dengan nilai pasar Rp 6,52 miliar. Kecepatannya, kemampuan menggiring bola, serta fleksibilitas di tiga posisi (LW, AM, RW) menjadikannya ancaman nyata bagi pertahanan lawan. Posisi ujung tombak diisi oleh Gustavo dari Persija Jakarta, yang memiliki nilai pasar Rp 6,08 miliar. Penyerang asal Brasil ini dikenal sebagai pemain tajam dan berbahaya di dalam kotak penalti.
Formasi 4-3-3 ditutup oleh trio depan yang kuat: Bruno di kiri, Gustavo di tengah, dan Thijmen Goppel bisa bergeser ke kanan. Kombinasi ketiganya menjadikan lini serang ini sebagai yang paling mahal dan berbahaya musim ini.
Total nilai pasar dari ke-11 pemain ini mencapai Rp 85,60 miliar, menunjukkan betapa seriusnya klub-klub dalam membangun tim untuk meraih prestasi. Kehadiran pemain-pemain seperti Jordi Amat, Thijmen Goppel, hingga Bruno Moreira menjadi bukti bahwa kompetisi semakin meningkat kualitasnya. Dengan banyaknya pemain internasional yang hadir, liga ini diharapkan bisa memberikan sajian menarik dan kompetitif.
Persebaya Surabaya, yang sedang membangun era baru bersama pelatih Eduardo Perez, menaruh harapan besar pada Bruno. Ia diharapkan menjadi simbol kebangkitan Green Force di tengah persaingan ketat. Dengan usia baru 26 tahun, Bruno memiliki potensi besar untuk berkembang dan menjadi salah satu pemain paling berpengaruh di liga.
Super League 2025/2026 diyakini akan menjadi ajang pembuktian bagi para pemain mahal tersebut. Mereka tidak hanya membawa nama besar, tetapi juga diharapkan memberikan performa terbaik sepanjang musim. Dengan line up yang begitu mahal, para penggemar sepak bola Tanah Air tentu tak sabar menantikan duel demi duel panas di setiap pekan. Persaingan ketat, permainan atraktif, dan kualitas internasional akan menjadi sajian utama musim ini.
Jelas sudah, kompetisi kali ini bukan sekadar soal gengsi, tapi juga investasi besar yang harus dibayar dengan trofi. Siapa yang paling layak membawa pulang gelar, akan ditentukan oleh performa setiap pemain di lapangan.








