Sosok Bripka Seladi yang Pilih Jalan Berbeda
Bripka (Purn) Seladi, seorang mantan anggota kepolisian, dikenal dengan pilihan hidupnya yang berbeda. Setelah pensiun dari tugas sebagai polisi lalu lintas di Polresta Malang Kota, ia memilih menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal ini dilakukannya bukan karena tidak mampu, tetapi karena ia ingin menjaga integritas dan kejujuran sepanjang kariernya.
Selama bertugas sebelum pensiun, Bripka Seladi dikenal sebagai polisi yang bersih dan tidak terlibat dalam praktik suap. Bahkan, ia menolak segala bentuk gratifikasi, termasuk sekadar secangkir kopi. Sikapnya ini membuatnya sering dijauhi oleh rekan kerjanya, namun ia tetap berpegang pada prinsipnya.
Kisah Bripka Seladi menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama di tengah maraknya kasus korupsi di kalangan aparat. Ia menunjukkan bahwa seseorang bisa tetap jujur dan tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan etika meskipun memiliki peluang untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Perjalanan Karier dan Keputusan Berbeda
Bripka Seladi memasuki masa pensiun pada 2017 saat usianya menginjak 58 tahun. Jabatan terakhirnya adalah sebagai penguji pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM). Posisi ini seringkali menjadi incaran oknum yang ingin menerima suap agar bisa meluluskan pemohon SIM tanpa melalui prosedur tes yang semestinya.
Namun, Seladi memilih untuk tetap berpegang pada nilai kejujuran. Ia menolak semua bentuk suap, bahkan jika hanya berupa amplop uang dari pemohon SIM yang gagal lulus. Ia lebih memilih memberikan arahan kepada pemohon agar dapat lulus dengan kompetensi yang cukup, bukan melalui cara-cara tidak sah.
Sejak tahun 2004, Seladi memilih untuk memungut barang-barang bekas sebagai tambahan penghasilan. Dari hasil tersebut, ia mampu meraih penghasilan antara Rp 35.000 hingga Rp 50.000 per hari. Kegiatan ini masih terus ia lakukan hingga saat ini.
Kehidupan Sehari-Hari dan Keluarga
Dengan penghasilan dari memulung, Seladi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membantu anak-anaknya. Beberapa dari mereka telah menjadi aparatur sipil negara (ASN), anggota polisi di Polda Malang, atau sedang menyelesaikan pendidikan sarjana S1.
Seladi percaya bahwa setiap profesi, selama dilakukan dengan baik dan telaten, tidak akan pernah dianggap hina. Yang terpenting adalah kejujuran dan keikhlasan dalam bekerja. Ia juga menyadari bahwa menerima suap justru akan menimbulkan masalah baru, baik secara hukum maupun moral.
Menolak Gratifikasi dengan Tegas
Integritas Bripka Seladi juga teruji dari sikapnya yang menolak segala bentuk gratifikasi, termasuk dari rekan sesama polisi. Ia pernah diminta untuk meluluskan pemohon SIM yang dibawanya, tetapi ia tetap menolak. Ia memastikan bahwa setiap pemohon harus datang langsung dan menjalani ujian sesuai prosedur.
Selain itu, ia juga berhati-hati dalam menerima apa pun dari rekan kerjanya, bahkan jika hanya berupa secangkir kopi. Ia lebih memilih menolak di awal daripada nanti merasa berhutang dan terpaksa melakukan praktik korupsi.
Penghargaan dan Kepercayaan
Berkat sikap jujurnya, Bripka Seladi kini memiliki banyak saudara baik dari teman-teman polisi, masyarakat, dan sesama pemulung. Mereka memberikan dukungan dan kebahagiaan tersendiri baginya. Ia percaya bahwa kejujuran akan selalu membuahkan hasil yang baik, meski tidak selalu mudah.
Sosok Bripka Seladi menjadi contoh nyata bahwa seseorang bisa tetap menjaga harga diri dan integritas, bahkan ketika semua orang berusaha untuk mengkhianati prinsipnya.








