Harga emas terus menguat, sementara harga perak mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa. Hal ini terjadi karena meningkatnya ketegangan geopolitik global dan harapan akan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve pada tahun depan.

Dalam laporan terbaru, harga emas di pasar spot naik sebesar 0,5% menjadi US$4.363,21 per ons. Angka ini mendekati rekor tertinggi yang pernah dicapai pada Oktober lalu, yaitu di atas US$4.381 per ons. Sementara itu, harga perak juga melonjak sebesar 0,5% menjadi US$67,46 per ons pada pukul 08.27 waktu Singapura.

Pergerakan positif harga emas berlanjut setelah mengalami kenaikan selama dua minggu berturut-turut. Pelaku pasar memprediksi bahwa The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada data ekonomi AS yang belum memberikan kejelasan arah kebijakan moneter. Presiden AS Donald Trump juga menekankan pentingnya penurunan suku bunga secara agresif.

Sementara itu, kinerja harga perak dipengaruhi oleh aliran dana spekulatif serta pasokan yang tetap ketat. Pasar perak masih terpengaruh oleh fenomena short squeeze yang terjadi pada Oktober lalu. Volume perdagangan kontrak berjangka perak di Shanghai juga meningkat tajam awal bulan ini, mendekati tingkat yang terjadi saat krisis pasokan beberapa bulan lalu.

Kebijakan moneter yang lebih longgar memberikan sentimen positif bagi emas dan perak. Kedua logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga menjadi pilihan investasi yang menarik dalam kondisi pasar yang tidak stabil.

Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik turut memperkuat daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai. Amerika Serikat semakin memperketat blokade minyak terhadap Venezuela guna meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Presiden Nicolás Maduro. Di sisi lain, Ukraina melakukan serangan pertama terhadap kapal tanker minyak dari armada bayangan Rusia di Laut Mediterania.

Emas dan perak menutup tahun dengan performa historis, dengan keduanya menuju kenaikan tahunan terkuat sejak 1979. Harga perak telah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini, sedangkan emas menguat sekitar dua pertiga. Kenaikan ini didorong oleh pembelian agresif dari bank sentral serta arus masuk dana ke produk exchange-traded fund (ETF) berbasis emas.

Data menunjukkan bahwa ETF berbasis emas mencatatkan arus masuk selama lima pekan berturut-turut. Sementara itu, data World Gold Council menunjukkan bahwa total kepemilikan emas dalam ETF meningkat setiap bulan sepanjang tahun ini, kecuali Mei.

Di pasar perak, permintaan yang meningkat serta ketatnya pasokan di berbagai pusat perdagangan utama turut mendukung kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Ke depan, harga emas diperkirakan masih akan melanjutkan reli. Analis Goldman Sachs Group Inc., termasuk Daan Struyven dan Samantha Dart, dalam catatan riset mereka mematok skenario dasar harga emas di level US$4.900 per ons pada tahun depan. Mereka juga menyatakan adanya risiko kenaikan lebih lanjut.

Mereka menilai investor ETF mulai bersaing dengan bank sentral dalam memperebutkan pasokan emas batangan yang semakin terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap emas masih sangat tinggi dan bisa terus berlanjut dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *