Wartajayavision.com,, Bandung – Gunung Lewotobi Laki-Laki yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi pada Selasa, 8 Juli 2025, sekitar pukul 16.09 WITA. Letusan tersebut memuntahkan abu vulkanik dengan tinggi kolom mencapai 1.200 meter di atas puncak atau setara 2.784 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kolom abu teramati berkelir kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat dan barat laut. “Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 4.4 mm dan durasi sekitar 54 detik,” kata Petugas Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-Laki, Herman Yosef S Mboro, dalam penjelasan tertulis, Selasa petang.

Sebelumnya, pada Selasa dini hari, gunung api yang memiliki ketinggian 1.584 mdpl tersebut meletus dua kali. Letusan pertama terjadi pada pukul 04.54 WITA dan terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 7.4 mm dan durasi 63 detik. “Visual letusan tidak teramati,” kata Herman.

Berselang satu jam berikutnya, tepatnya pada pukul 05.53 WITA, Gunung Lewotobi Laki-Laki kembali erupsi dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 4.000 meter di atas puncak. Rekaman seismogram mencatat amplitudo maksimum erupsi tersebut 14.8 mm dengan durasi 191 detik.

Berdasarkan laporan Badan Geologi, pengamatan visual pada periode 7-8 Juli 2025, erupsi eksplosif dengan tinggi kolom abu mencapai 18.000 meter di atas puncak terjadi pada Senin, 7 Juli 2025, sekitar pukul 11.05 WITA.

“Erupsi ini disertai suara dentuman kuat dan awan panas dengan jarak luncur mencapai maksimal 5 kilometer ke arah utara dan timur laut,” kata Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid.

Masih pada hari yang sama, sekitar pukul 19.02 WITA letusan eksplosif kembali terjadi dengan tinggi kolom erupsi mencapai 13.000 meter di atas puncak. Letusan disertai suara dentuman dan gemuruh kuat terdengar di Pos PGA Lewotobi Laki-Laki. “Pengamatan visual dengan pesawat nirawak (drone) pascaerupsi menunjukkan area puncak masih tertutup asap tebal,” katanya.

Status Gunung Lewotobi Laki-Laki masih berada pada level IV atau awas. Masyarakat sekitar juga wisatawan diimbau tidak beraktivitas dalam radius 6 kilometer dan sektoral barat daya-timur laut 7 kilometer dari pusat erupsi. Warga diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah. “Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya,” ucap dia.

Wafid juga mengimbau masyarakat di sekitar wilayah rawan bencana tetap mewaspadai potensi banjir lahar jika terjadi hujan lebat, khususnya di daerah aliran sungai berhulu di puncak Gunung Lewotobi Laki-Laki, seperti di Dulipali, Nobo, Hokeng Jaya, hingga Nurabelen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *