Pengalaman Mengintip Balik Layar Sinematografi Film Legenda Kelam Malin Kundang (2025)
Pada sebuah sesi wawancara virtual yang berlangsung selama 40 menit, saya berkesempatan mengobrol dengan Ical Tanjung, ICS, Director of Photography dari film Legenda Kelam Malin Kundang (2025). Melalui layar zoom berasio 16:9, ia menjelaskan bagaimana teknik sinematografi yang digunakan dalam film ini mampu menyampaikan pesan dan emosi karakter secara lebih mendalam.
Berikut beberapa fakta menarik di balik pemilihan sinematografi dari film arahan Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo tersebut:
1. Pemilihan Gerak Kamera Mengikuti Karakter, Agar Mereka Bisa Bebas Berekspresi

Setelah bekerja sama dengan Joko Anwar, Ical Tanjung dan timnya menemukan bahwa komposisi dan cara memproduksi di lapangan adalah faktor utama dalam menciptakan kisah yang hidup. Menurutnya, film adalah perjalanan karakter.
“Kita berusaha membuat para pemain sebebas mungkin untuk melakukan perannya di lokasi, dengan meminimalkan gangguan teknis,” ujar Ical Tanjung. Dengan demikian, para aktor bisa lebih fokus mengembangkan karakter mereka. Hal ini terlihat jelas pada beberapa adegan film seperti Pengepungan di Bukit Duri (2025) dan Legenda Kelam Malin Kundang (2025).
2. Sudut Pengambilan Gambar untuk Karakter Alif Selalu Di-Center, Agar Ia Memiliki Ruang yang Luas

Saat menonton Legenda Kelam Malin Kundang, kamu mungkin merasa bahwa karakter Alif sering kali diposisikan di tengah frame, baik saat sendirian atau bersama orang lain. Sementara itu, karakter lain cenderung berada di sisi kanan atau kiri frame.
“Kenapa di tengah? Karena satu center point. Kita ingin penonton melihat karakter kita, masuk ke dalam karakternya, dan ikuti kisah hidupnya,” tutur Ical Tanjung. Pemilihan posisi center juga memberikan ruang bagi karakter, sehingga Ical lebih sering menggunakan kamera wide angle dan mendekat ke pemain.
3. Adegan yang Tidak Cut to Cut, Tidak Akan Memotong Emosi Karakter

Menurut pengalaman Ical Tanjung, teknik cut to cut berpotensi memutuskan emosi yang sudah disalurkan oleh pemain. Maka dari itu, beberapa adegan di Legenda Kelam Malin Kundang (2025), misalnya saat Alif dan Nadine sedang berdialog, jarang menggunakan cut to cut, melainkan kamera berpindah secara cepat dari satu karakter ke karakter lain.
“Kita ingin emosinya tetap nyambung,” ujar Ical Tanjung. Lebih banyak menggunakan cut to cut justru lebih sulit bagi tim kamera karena harus menyiapkan ruang yang lebih luas. Namun, dengan emosi yang tidak terputus, pesan dan perasaan karakter akan lebih mudah tersampaikan ke penonton.
4. Teknis di Balik Adegan Rio Dewanto Nyetir Mobil di Awal Film

Di adegan pertama Legenda Kelam Malin Kundang (2025), Alif diceritakan sedang menyetir di tengah hujan lebat. Uniknya, penonton seolah menjadi mata Alif. Untuk adegan ini, tim menggunakan screen proyektor dan memposisikan kamera di laptop Alif. Kamera dibuat se-compact mungkin agar Rio Dewanto tidak terganggu.
Sebelum syuting, tim VFX telah menyiapkan tayangan mobil mendekat ke arah Alif di tengah hujan, yang kemudian disempurnakan pada tahap editing. Efek hujan dibuat secara manual di studio. Pergerakan kamera juga mengikuti emosi yang ditunjukkan oleh Rio Dewanto sebagai Alif. Saat emosi Alif mulai muncul, kamera sedikit bergetar, sedangkan ketika Alif bernafas, kamera diam.
5. Konsep Warna Legenda Kelam Malin Kundang Cenderung Gloomy dan Cool
Lighting untuk film Pengepungan di Bukit Duri (2025) cenderung warm dengan palet warna merah untuk menegaskan kemarahan. Sementara itu, Legenda Kelam Malin Kundang (2025) tampak gloomy dan cool dengan dominasi warna abu-abu hingga biru.
“Karakter Ali butuh itu, dia bertanya tentang hal yang hitam atau putih. Terus bertanya karena dia juga gak tahu siapa dia. Jadi sebenarnya dia hitam atau putih. Terus kita coba kasih dingin juga, karena ada misteri,” jawab Ical Tanjung. Meskipun konteksnya kehangatan keluarga, suasana di sekitar Alif tetap dingin, karena karakter Alif sendiri masih abu-abu dan sulit menerima kehangatan tersebut.
Dari semua penjelasan tersebut, terlihat bahwa sinematografi bukan hanya sekadar teknis, tapi juga bagian penting dalam menyampaikan pesan dan emosi dari suatu cerita.









