Wartajayavision.com, – Kematian seorang pria misterius (75) di Arizona, Amerika Serikat pada Februari 2013 akhirnya dipecahkan berkat kemajuan teknologi DNA.

Dilansir dari Sheffield Hallam University, Rabu (2/7/2025), pria tersebut diyakini meninggal saat mengunjungi temannya di daerah Phoenix, Arizona tanpa membawa barang apapun.

Pria tersebut hanya membawa pakaian yang dikenakannya serta tidak membawa tanda pengenal.

Namun, para peneliti di Universitas Sheffield Hallam dan Ramapo College di New Jersey berhasil membuat terobosan teknologi DNA bernama investigative genetic genealogy (IGG).

Kronologi kematian pria Inggris misterius

Teman yang dikunjungi oleh pria tersebut menceritakan bahwa pria yang bernama asli Michael Sidney Hill yang lahir di Lambeth, Inggris pada 1937.

Saat meninggalkan rumah teman tersebut, ia menggambarkan bahwa Hill mengalami tidak enak badan dan kembali lagi ke sana empat jam kemudian.

Ia pun berbaring di ruang tamu, lalu mengalami kejang-kejang dan menjadi tidak responsif.

Temannya segera menelepon 911 dan petugas layanan darurat datang ke tempat kejadian.

Kematian Hill dinyatakan di lokasi itu juga. Namun, informasi dari teman ini tidak bisa digunakan untuk mengonfirmasi identitas Hill.

Cara identifikasi tradisional yang digunakan oleh Kantor Pemeriksa Medis Maricopa County (MCOME) juga tidak memberikan hasil positif.

Kasus Hill tidak menemui kejelasan sebab tidak adanya identitas dan ia tidak memiliki kerabat atau anak yang bisa dihubungi sema sekali.

Menurut penelitian, Hill  hilang dari catatan publik pada tahun 1950-an dan tidak diketahui di mana ia tinggal terakhir kali sebelum mengunnungi rumah temannya.

Walaupun begitu, DNA Hill ditemukan memiliki kecocokan dengan dua sepupu pertamanya yang pernah tinggal di Surrey, Inggris.

Teknologo DNA IGG berhasil pecahkan misteri kematian Hill

Dilansir dari BBC, Minggu (6/7/2025), tim peneliti gabungan dari dua universitas diberi informasi oleh kantor polisi dan pemeriksa mayat di Arizona terkait mayat tersebut.

Dengan menggunakan DNA yang diambil dari tubuh mayat dan dikombinasikan dengan analisis riwayat keluarga, tim berhasil mengonfirmasi identitas Hill melalui kerabatnya.

Kerabat Hill yang masih hidup tersebut memberikan tes DNA sebagai bahan konfirmasi.

Pemimpin penelitian dari Universitas Sheffield Hallam, Dr Craig Paterson mengatakan, “merupakan suatu kehormatan melihat tim memecahkan kasus ini dan mengembalikan nama dan identitas Michael”.

Ia melanjutkan bahwa kasus tersebut memberikan bukti bahwa IGG bisa digunakan di Inggris untuk mengidentifikasi kasus-kasus yang belum dipecahkan melalui analisis kerabat jauh.

Walaupun begitu, masih ada kekhawatiran seputar etika privasi dan hukum perlindungan data.

“Masih banyak lagi kasus yang belum terpecahkan di Inggris. Menggunakan IGG, kami akan terus bekerja sama dengan mitra dan mahasiswa untuk memastikan bahwa sebanyak mungkin kasus dapat memanfaatkan keahlian ini,” imbuh dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *