Proyeksi Pertumbuhan Pusat Data di Indonesia

Pengembangan industri pusat data di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Menurut prediksi dari Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), kebutuhan kapasitas pusat data di negara ini akan meningkat sekitar 35%–45% pada tahun 2026 dibandingkan dengan 2025. Hal ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan penggunaan kecerdasan buatan (AI) generatif, otomatisasi industri, serta kebutuhan pengolahan data secara real-time.

Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, menjelaskan bahwa permintaan akan daya listrik untuk industri pusat data diperkirakan akan meningkat hingga 300–400 megawatt (MW) dalam jangka waktu 1–2 tahun ke depan. Peningkatan ini disebabkan oleh adanya permintaan dari hyperscale dan edge data center yang mendukung berbagai aplikasi AI.

Menurut data resmi PT PLN (Persero), kapasitas industri pusat data di Indonesia diperkirakan akan mencapai 2,3 gigawatt (GW) pada tahun 2030. Namun, menurut Hendra, proyeksi tersebut belum sepenuhnya memperhitungkan penggunaan AI, khususnya server berbasis GPU yang memerlukan daya per rak (power per rack) yang sangat besar. Dalam beberapa kasus, daya per rak bisa mencapai 135 kilowatt (kW) untuk GPU GB200.

Pengaruh AI terhadap Infrastruktur Pusat Data

Adopsi AI di berbagai sektor, baik swasta maupun pemerintah, telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan infrastruktur pusat data. AI memerlukan infrastruktur dengan kinerja komputasi tinggi (high performance computing/HPC), latensi rendah, serta kapasitas penyimpanan data berskala besar, terutama untuk keperluan pelatihan model.

Secara umum, infrastruktur pusat data nasional terus berkembang dan menunjukkan kesiapan untuk menopang beban kerja AI. Hal ini didukung oleh masuknya investor dan operator global, serta ekspansi pemain lokal. Beberapa anggota IDPRO juga sedang membangun pusat data yang siap menghadapi kebutuhan AI.

Tantangan yang Masih Ada

Meskipun ada progres positif, Hendra menyatakan bahwa tantangan masih cukup besar. Terutama terkait peningkatan kapasitas daya, sistem pendinginan, dan konektivitas berlatensi rendah yang dibutuhkan oleh beban kerja AI.

Saat ini, sejumlah penyedia layanan pusat data sudah mulai mengadopsi server GPU dan arsitektur khusus untuk AI workload. Namun, implementasinya masih dilakukan secara bertahap.

Hendra menilai bahwa kapasitas dan keandalan pusat data di Indonesia saat ini relatif memadai untuk mendukung tahap awal adopsi AI. Namun, belum sepenuhnya ideal untuk skala masif. Sebagai perbandingan, proyek pusat data AI berskala besar seperti Stargate di selatan Houston membutuhkan daya dan sistem pendinginan yang jauh lebih tinggi dibandingkan beban kerja konvensional.

Sertifikasi dan Ketersediaan Energi Bersih

Di sisi lain, sejumlah pusat data di Indonesia telah memiliki sertifikasi Tier III dan Tier IV dengan tingkat uptime tinggi serta redundansi daya yang memadai. Namun, ketersediaan energi bersih dan berkelanjutan (renewable energy) masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025, porsi energi terbarukan ditargetkan meningkat hingga 76%. Ini dinilai menjadi angin segar bagi industri pusat data di Indonesia. Hendra menyatakan bahwa pemerintah melalui berbagai inisiatif energi hijau, bersama penyedia pusat data, juga mulai menjajaki skema Power Purchase Agreement (PPA) untuk energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga surya (solar farm) dan hidro.

“Namun implementasinya butuh dukungan regulasi yang lebih progresif. Pertamina Geothermal juga sudah commit untuk menyuplai green energy ke industri DC di tanah air,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *