Proyeksi IHSG Mencapai 10.000 pada Akhir 2026
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksikan mampu menembus level 10.000 pada akhir 2026, dianggap oleh sejumlah ahli pasar modal sebagai proyeksi yang ambisius namun masih realistis jika didukung oleh fondasi ekonomi yang kuat. Hal ini menjadi perhatian utama para pengamat dan investor mengingat perkembangan pasar modal Indonesia yang semakin matang.
Pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, menyatakan bahwa struktur pasar modal Indonesia kini semakin stabil. Capaian IHSG sepanjang 2025 terbukti mencatat rekor tertinggi baru, dengan kapitalisasi pasar yang telah melebihi Rp16.000 triliun. Pertumbuhan jumlah investor domestik serta likuiditas pasar yang tetap terjaga menunjukkan bahwa fondasi pasar modal nasional semakin kokoh.
Hendra menambahkan bahwa ketahanan IHSG di tengah tekanan global seperti suku bunga tinggi dan ketegangan geopolitik menjadi indikator positif. Pada awal 2026, sentimen pasar kembali membaik, ditandai oleh kenaikan IHSG lebih dari 1% pada hari perdagangan pertama tahun ini. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian level psikologis 10.000 tetap memerlukan dukungan fundamental yang solid.
Faktor Pendukung Pergerakan IHSG
Dari sisi pendorong, Hendra menilai pertumbuhan laba emiten, khususnya saham-saham berkapitalisasi besar, akan menjadi motor utama pergerakan indeks. Selain itu, peluang kembalinya arus dana asing juga menjadi faktor penting. Kebijakan fiskal yang kredibel, inflasi yang terkendali, serta stabilitas nilai tukar rupiah akan memperkuat kepercayaan investor.
Di sisi lain, peningkatan peran investor domestik dan keberlanjutan IPO berkualitas dinilai mampu memperdalam pasar dan menopang kenaikan kapitalisasi secara lebih sehat.
Sektor yang Diperkirakan Mendukung IHSG
Secara sektoral, penguatan IHSG pada 2026 diperkirakan masih akan didukung oleh sektor energi dan sumber daya alam, perbankan, infrastruktur, serta media dan konsumsi. Beberapa saham menarik untuk dicermati secara selektif antara lain:
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Dinilai menarik dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 500. Pada awal perdagangan 2026, saham BUMI melonjak 14,75% dan ditutup di level Rp 420, disertai akumulasi asing yang signifikan dengan nilai net buy sekitar Rp 889 miliar. Minat asing ini mencerminkan kembali kuatnya daya tarik saham berbasis komoditas, ditopang harga batu bara yang stabil serta langkah diversifikasi bisnis ke emas dan logam berharga.PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG)
Direkomendasikan beli dengan target Rp1.800. Transformasi portofolio serta nilai aset bersih yang belum sepenuhnya tercermin di harga saham menjadi katalis utama, terutama jika terjadi revaluasi aset seiring membaiknya sentimen pasar.PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
Menarik dengan target harga Rp 420, seiring potensi pembukaan nilai tersembunyi dari bisnis digitalnya. Rumor rencana IPO Vidio kerap dipandang pasar sebagai katalis potensial, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari manajemen.PT Sentul City Tbk (BKSL)
Layak dicermati dengan target harga 180, seiring peluang pemulihan sektor properti yang didukung perbaikan likuiditas pasar dan potensi penurunan suku bunga.
Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meski prospek pasar dinilai konstruktif, Hendra mengingatkan investor tetap waspada terhadap sejumlah risiko, mulai dari ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global, dinamika geopolitik, volatilitas nilai tukar rupiah, hingga potensi spekulasi berlebihan pada saham-saham tertentu.
Strategi yang disarankan adalah diversifikasi portofolio, memadukan saham berfundamental kuat dengan saham bertema siklikal atau katalis korporasi secara terukur, serta tetap disiplin dalam manajemen risiko.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Hendra menilai target IHSG menuju 10.000 pada akhir 2026 bukan sekadar optimisme. Skenario ini bisa diwujudkan jika pertumbuhan laba emiten berlanjut, arus dana asing kembali masuk secara konsisten, dan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga.









