BREBES, WARTAJAYAVISION.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes bergerak cepat untuk menyusun strategi tata kelola pertanian yang ramah lingkungan, khususnya di kawasan sentra produksi hortikultura.
Guna mewujudkan ekosistem pertanian yang berkelanjutan, Pemkab Brebes menjadwalkan agenda penting berupa Focus Group Discussion (FGD) mengenai Tata Kelola Budidaya Kentang Berbasis Kelestarian Lingkungan di Kecamatan Sirampog. (17/6/2026).
Berdasarkan surat undangan resmi yang ditandatangani secara elektronik oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Brebes, Tahroni, atas nama Pemerintah Daerah, kegiatan strategis ini akan dilaksanakan pada Kamis, 18 Juni 2026, bertempat di Ruang Serba Guna Eks-Kawedanan Bumiayu.
Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas pentingnya menjaga keseimbangan antara produktivitas ekonomi petani kentang dengan perlindungan kelestarian alam di wilayah dataran tinggi Sirampog, yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung kentang utama di Jawa Tengah.
Sinergi Lintas Sektor dan Kemitraan Korporasi
FGD ini direncanakan menjadi wadah konsolidasi berskala besar dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). Agenda akan dibuka dengan arahan langsung dari Bupati Brebes, disusul sambutan dari Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Brebes.
Tidak hanya dari unsur birokrasi, Pemkab Brebes juga memperkuat hilirisasi dan tata niaga pertanian dengan menggandeng sektor swasta. Dalam rundown acara, dua perusahaan besar, yakni PT Indofood Fortuna Makmur dan PT Prima Sukses Sejati Abadi, dijadwalkan memaparkan Rencana Kerja Kemitraan strategis di hadapan para peserta.

Langkah kemitraan ini diharapkan mampu memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus memastikan standardisasi budidaya yang aman bagi lingkungan.
Hadirkan Pakar Pertanian sebagai Narasumber Utama
Untuk membedah formulasi regulasi dan teknis budidaya yang tepat, Pemkab Brebes menghadirkan narasumber utama di bidang akademis, yakni Dr. Ir. Subandi Nur, M.P., dosen dari Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon. Ia akan memaparkan materi inti bertajuk “Tata Kelola Budidaya Kentang Berbasis Kelestarian Lingkungan”.
Kehadiran pakar ini diharapkan dapat memberikan solusi ilmiah atas tantangan erosi lahan, penggunaan pupuk kimia berlebih, serta konservasi air di wilayah tangkapan air Sirampog.
Libatkan 6 Desa Sentra Kentang di Sirampog
Demi memastikan kebijakan yang dirumuskan tepat sasaran dan berdampak langsung di tingkat tapak, Pemkab Brebes turut mengundang jajaran Forkopimda (Kapolres, Dandim, Kajari), otoritas kehutanan (Perhutani KPH Pekalongan Barat dan Cabang Dinas Kehutanan Tegal), tokoh-tokoh agama kharismatik seperti KH. Labib Shodiq Sukhaemi dan KH. Sholahudin Masruri, hingga organisasi pemerhati lingkungan seperti Jaga Rimba Indonesia.
Secara khusus, para penggerak pertanian dari 6 desa di Kecamatan Sirampog turut dihadirkan penuh, meliputi:
Desa Igirklanceng
Desa Dawuhan
Desa Batursari
Desa Sridadi
Desa Kaligiri
Desa Wanareja
Unsur lokal yang dilibatkan mencakup Kepala Desa, Ketua BPD, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Ketua Asosiasi Petani Kentang Industri, serta seluruh Ketua Gapoktan dan Kelompok Tani (Poktan) dari keenam desa tersebut.
Melalui diskusi interaktif dan perumusan rekomendasi bersama di akhir sesi, FGD ini ditargetkan mampu menghasilkan nota kesepakatan atau regulasi taktis. Hal itu penting agar komoditas kentang Sirampog tetap menjadi motor penggerak ekonomi warga tanpa harus mengorbankan kelestarian alam dan memicu bencana ekologis di masa depan.
Pertemuan tersebut dari Jamil ketua LSM Pempera masyarakat yang peduli terhadap lingkungan hidup ketika dikonfirmasi mengatakan bahwasannya pertemuan itu yang diundang hanya Penyuluh Pertanian dan di kepala desa serta orang-orang yang menanam kentang.

Mereka yang diundang justru yang tidak peduli terhadap lingkungan.
Padahal Kabupaten Brebes terutamanya Pantura sudah berkali-kali menderita banjir akibat air dari wilayah Selatan , Brebes sudah beberapa tahun ini Wilayah selatan terdampak Tanah bergerak, dan banjir bandang, keluhnya.
Mengenai tanaman kentang hanya merupakan alasan saja, tapi justru itu yang merusak lingkungan sebab tanaman kentang akan ditanam di tanah pertanian merupakan kawasan hutan hidung dan kawasan Perhutani, dan hari ini terbukti bahwasanya oligarki sudah masuk ke wilayah Brebes Selatan, jelasnya.









