Wartajayavision.com,, Jakarta – Ternyata ada alasan di balik penggunaan remote control atau joystick pada robot-robot yang dipamerkan oleh Polri di area Monumen Nasional (Monas), dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Bhayangkara pada 1 Juli lalu. Pemakaian pengendali jarak jauh itu sempat dipertanyakan warganet, lantaran tampak menurunkan citra kecanggihan robot yang seharusnya bisa berjalan secara otonom.

Direktur Utama PT Sari Teknologi Yohanes Kurnia Widjaja menyebut kondisi Monas di tengah HUT Polri yang tidak ideal adalah penyebab utamanya. “Di tempat yang tidak standar dengan jalanan yang gompal-gompal, dengan begitu banyak orang wara-wiri dan banyak teriakan dari speaker, tentu robot akan bingung,” kata Yohanes ketika ditemui Tempo di Robopark Jakarta, Pluit Village Mall, pada Senin, 7 Juli 2025.

Dalam perayaan HUT Bhayangkara, PT Sari Teknologi yang merupakan mitra Polri memamerkan enam jenis robot, termasuk humanoid, robot anjing (quadruped), robot resto, robot pintar (ROPI), tank, dan drone. Teknologi robot-robot itu disesuaikan dengan kebutuhan Polri.

Salah satu contohnya adalah robot K9 atau i-K9 yang dirancang mampu beroperasi selama delapan jam dalam kondisi cuaca ekstrem. Robot ini juga dilengkapi dengan sistem kecerdasan buatan atau AI yang membuat kinerjanya lebih adaptif dan efisien.

Menurut Yohanes, butuh lingkungan yang ideal agar robot dapat beroperasi sendiri. Founder World Robot Games (WRG) ini membandingkan situasi di Monas dengan kondisi fasilitas manufaktur, seperti milik Toyota. Robot di pabrik lebih mudah diatur dan bisa dilepas. “Karena di pabrik itu semua ideal, sudah ada larangan-larangannya,” tuturnya.

Berbeda 180 derajat, situasi di Monas cenderung tidak teratur, misalnya dari sisi cuaca atau kondisi jalanannya. “Debu bisa Anda larang? Angin bisa Anda larang? Pengacak sinyal (jammer) Paspampres bisa dilarang? Tidak,” kata Yohanes

Dia menegaskan bahwa praktik penggunaan remote pada robot saat parade, seperti dalam HUT Polri, lazim juga di negara lain, seperti di Cina. Yohanes bahkan menyebut beberapa unit robot rusak setelah tampil dalam acara tersebut. “Babak belur,” ujarnya. Namun, tidak ada biaya penggantian dari Polri karena kemitraan tersebut bersifat sukarela.

Yohanes yang juga dosen di Universitas Gunadarma menyatakan kolaborasi dengan Polri dalam HUT Bhayangkara itu bertujuan mengedukasi dan mengenalkan teknologi robotik, terutama untuk bidang keamanan. “Ini robot dari Polri yang akan datang nanti,” tutur dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *