Tantangan Anggaran dan Komitmen Taekwondo Kota Bandung
Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Taekwondo Indonesia (TI) Kota Bandung, Dedi Heryadi, mengungkapkan bahwa keterbatasan anggaran tetap menjadi tantangan utama dalam menjaga dan meningkatkan prestasi atlet. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh taekwondo, tetapi juga hampir seluruh cabang olahraga yang membutuhkan dukungan berkelanjutan dalam pembinaan jangka panjang.
Meski dihadapkan pada keterbatasan, Dedi menegaskan bahwa Pengcab Taekwondo Kota Bandung tetap berkomitmen mendukung visi Bandung Unggul dan Bandung Utama melalui pembinaan atlet yang konsisten dan berkesinambungan. Ia menilai permasalahan utama masih ada di soal anggaran. Sebagai cabang olahraga, ia berharap hal ini bisa menjadi solusi bersama demi mencapai tujuan tersebut. Cabang olahraga tentu sangat membutuhkan dukungan dari KONI.
Menurutnya, cabang olahraga tidak mungkin berjalan sendiri tanpa dukungan dan sinergi yang kuat dengan KONI. Selain persoalan anggaran, keterbatasan sumber daya manusia juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan program pembinaan atlet. Ia menyatakan bahwa kita jujur saja, cabang olahraga tidak mampu berdiri sendiri. Harus ada dukungan dari KONI, harus bersinergi dan bekerja sama. Namun ketika ada aspek yang belum bisa diharapkan, pengcab tetap berjuang untuk mempertahankan prestasi.
Di tengah keterbatasan tersebut, Pengcab Taekwondo Kota Bandung terus berupaya mencari sumber pendanaan alternatif. Langkah ini dilakukan agar motivasi atlet tetap terjaga dan para taekwondoin tetap fokus menjalani program latihan. Ia mengatakan bahwa mereka berusaha semaksimal mungkin mencari dana untuk men-support anak-anak agar motivasi mereka tetap terjaga.
Salah satu bentuk komitmen tersebut diwujudkan dengan keikutsertaan Taekwondo Kota Bandung pada Kejuaraan Gubernur Cup yang digelar di Bekasi pada 27–28 Desember 2025. Meski membutuhkan biaya besar, ajang tersebut tetap diprioritaskan demi menjaga eksistensi dan jam terbang atlet. Ia mengungkapkan bahwa alhamdulillah, waktu itu juga ada dukungan dana dari Pengcab sehingga mereka bisa mengirimkan tim.
Pada kejuaraan tersebut, Taekwondo Kota Bandung hanya menurunkan sekitar 50 persen kekuatan atlet. Dari total 24 nomor pertandingan, Bandung mengikuti 12 nomor dengan menurunkan 13 atlet, karena sebagian atlet andalan dipersiapkan untuk agenda kejuaraan lainnya. Dedi menjelaskan bahwa dari 24 nomor, mereka hanya ikut 12 nomor. Atlet andalan lainnya belum mereka turunkan.

Meski tampil dengan kekuatan terbatas, hasil yang diraih justru melampaui target. Taekwondoin Kota Bandung sukses meraih enam medali emas dan enam perak, melebihi target awal yang hanya membidik lima medali emas. Dedi mengatakan bahwa target awal mereka hanya lima emas, tapi alhamdulillah bisa meraih enam emas dan enam perak. Ini prestasi yang patut kita syukuri.
Dedi menambahkan bahwa capaian tersebut semakin bernilai karena Taekwondo Kota Bandung tidak menurunkan tim penuh, berbeda dengan sejumlah daerah lain yang tampil dengan kekuatan maksimal. Ia menyatakan bahwa anak-anak ini benar-benar murni didukung oleh Pengcab Taekwondo Kota Bandung. Dengan kondisi seperti itu, hasil di Gubernur Cup ini sangat layak untuk disyukuri.








