Kinerja Semester Pertama 2025 Prodia Widyahusada Tbk
PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mencatatkan kinerja yang kurang menggembirakan pada semester pertama tahun 2025. Meskipun demikian, perseroan telah merancang berbagai strategi untuk menghadapi tantangan bisnis di sisa tahun ini.
Dalam laporan keuangannya, PRDA mencatat pendapatan dari kontrak dengan pelanggan sebesar Rp 1,02 triliun, turun 0,5% secara tahunan (YoY) dibandingkan dengan pendapatan sebesar Rp 1,03 triliun pada semester pertama tahun 2024. Selain itu, laba bersih yang dicatatkan oleh PRDA juga mengalami penurunan sebesar 40% YoY, menjadi Rp 69,60 miliar dari Rp 115,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Direktur Business dan Marketing PRDA, Indriyanti Rafi Sukmawati, menjelaskan bahwa pihaknya selalu memantau potensi hambatan bisnis seperti volatilitas nilai tukar rupiah dan keterlambatan distribusi barang impor akibat hambatan logistik internasional. Salah satu fokus utama emiten penyedia jasa laboratorium klinik ini adalah memperkuat rantai pasok domestik melalui perusahaan afiliasinya, Proline. Proline mampu memproduksi reagen dan alat kesehatan dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 40%. Kapasitas produksinya terus meningkat, sehingga pada April 2025 lalu, Proline meresmikan fasilitas baru seluas 9.690 meter persegi di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang.
“Kami berharap Proline dapat menjangkau lebih banyak laboratorium, rumah sakit, dan titik layanan kesehatan di seluruh Indonesia, terutama dengan peningkatan skalabilitas produksi di tahun ini,” ujar Indriyanti kepada media.
Selain itu, PRDA melakukan pendekatan strategis melalui renegosiasi kontrak dengan vendor, menjajaki alternatif mitra pemasok, serta mengefisienkan proses logistik melalui pemanfaatan digitalisasi end to end.
Di masa depan, PRDA tetap optimistis terhadap pertumbuhan bisnisnya meski kondisi pasar tengah bergerak dinamis. Menurut Indriyanti, permintaan terhadap layanan laboratorium cukup stabil dan masyarakat semakin sadar akan pentingnya deteksi dini serta personalisasi layanan kesehatan.
Tahun ini, PRDA menargetkan peluncuran minimal 14 jenis tes baru. Salah satunya adalah pemeriksaan esoterik. Di sisi operasional, PRDA akan terus meningkatkan utilisasi layanan klinik, memperbanyak titik pengambilan sampel (point of collection/POC), serta memperluas kerja sama dengan mitra rumah sakit dan perusahaan asuransi.
Segmen B2B (business to business) menjadi sumber pertumbuhan bisnis yang potensial, termasuk kerja sama korporasi dalam program medical check up karyawan dan layanan kesehatan berkelanjutan. Peningkatan aksesibilitas melalui platform digital U by Prodia terus dioptimalkan.
Selain itu, penetrasi ke segmen masyarakat umum seperti dokter atau komunitas terus dilakukan melalui kegiatan edukasi kesehatan. Contohnya adalah kegiatan Prodia Healthy & Fun with Community yang digelar di 10 kota di Indonesia.
Tidak hanya itu, PRDA juga telah melakukan aksi korporasi dengan mengakuisisi 30% saham PT ProSTEM Indonesia. ProSTEM merupakan perusahaan yang bergerak di bidang terapi regeneratif, khususnya pengembangan sel punca.
“Kami percaya bahwa kolaborasi ini akan memperkuat posisi Prodia sebagai pelopor layanan diagnostik kesehatan terdepan dan advanced di Indonesia,” pungkas Indriyanti.








