Serangan Israel di Gaza Terus Berlanjut, Anak-Anak Jadi Korban Utama
Serangan Israel terhadap wilayah Gaza kembali terjadi, meskipun ada perjanjian gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Pada Kamis (1/1/2026), pasukan Israel menyerang seluruh wilayah Gaza, yang mengakibatkan seorang anak Palestina tewas di daerah Jabalia an-Nazla di Gaza utara. Sumber medis di Rumah Sakit al-Shifa di kota Gaza menyebutkan bahwa korban tersebut adalah Youssef Ahmed al-Shandaghli.
Serangan ini terjadi meski gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025. Namun, Israel tetap melakukan serangan terhadap wilayah kantong tersebut, yang menyebabkan lebih dari 400 warga Palestina tewas dan banyak lainnya luka-luka. Kematian Youssef menambah total korban jiwa menjadi 71.271 orang sejak genosida Israel di Gaza pada Oktober 2023.
Anak-Anak Menjadi Korban Paling Menderita
Anak-anak menjadi pihak yang paling menderita akibat konflik di Gaza. Pada Kamis, media lokal melaporkan bahwa seorang gadis muda meninggal di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah karena kedinginan ekstrem. Kondisi musim dingin yang keras terus berlanjut di Jalur Gaza, dengan badai besar dan suhu rendah yang menerjang wilayah tersebut.
Di sisi lain, Pertahanan Sipil Palestina di Gaza juga melaporkan temuan jenazah seorang ibu dan anaknya setelah kebakaran terjadi di sebuah tenda pengungsi di daerah Yarmouk, pusat Kota Gaza. Awal pekan ini, UNICEF mengungkapkan bahwa setidaknya lima anak Palestina meninggal di Gaza pada Desember 2025. Salah satunya adalah Ata Mai, seorang anak berusia tujuh tahun yang tenggelam di kamp pengungsian darurat di barat laut Kota Gaza pada 27 Desember 2025.
“Ata hilang pada siang hari. Meskipun upaya pencarian dan penyelamatan didukung oleh alat berat, jenazahnya baru ditemukan beberapa jam kemudian,” kata Edouard Beigbeder, direktur regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara dalam sebuah pernyataan. Ia menegaskan bahwa anak-anak di Gaza telah cukup menderita dan berhak atas perlindungan serta tempat tinggal yang aman. Semua upaya harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan mendasar.
Israel Larang Operasional 37 LSM Internasional di Gaza
Ratusan ribu keluarga Palestina tinggal di kamp-kamp pengungsian yang penuh sesak dan tempat penampungan sementara di seluruh Jalur Gaza. Banyak rumah mereka hancur akibat perang Israel yang telah berlangsung lebih dari dua tahun. Warga Gaza memulai tahun 2026 dengan keputusasaan karena menghadapi lebih banyak pembatasan dari Israel di tengah bencana kemanusiaan.
Baru-baru ini, Israel memberlakukan larangan terhadap kelompok-kelompok bantuan internasional di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki. PBB dan badan-badan kemanusiaan mengecam larangan tersebut sebagai tindakan ilegal terhadap akses kemanusiaan. Mereka mendesak pihak berwenang Israel untuk mengizinkan masuknya tenda, selimut, dan perlengkapan lainnya ke Gaza.
LSM internasional sangat penting bagi Gaza karena lembaga tersebut mengelola atau mendukung sebagian besar rumah sakit lapangan dan pusat layanan kesehatan primer di wilayah tersebut. Selain itu, LSM memberikan penampungan darurat, layanan air dan sanitasi, pusat stabilisasi gizi untuk anak-anak dengan kekurangan gizi akut, dan kegiatan penanggulangan ranjau yang penting.
Larangan Terbaru Israel Dapat Kekecaman Internasional
Meski mendapat kecaman internasional yang semakin meningkat, Israel mengabaikan seruan untuk mencabut pembatasan pengiriman bantuan. Pihaknya mencabut izin 37 LSM internasional pada 1 Januari 2026. Lembaga tersebut termasuk Dokter Tanpa Batas (MSF), ActionAid, International Rescue Committee, dan Norwegian Refugee Council.
Israel mengklaim LSM tersebut dianggap gagal mematuhi peraturan pemerintah baru yang mengharuskan mereka untuk memberikan informasi terperinci mengenai anggota staf, pendanaan, dan operasional mereka. Langkah tersebut mendapat kecaman dari 10 negara, yakni Jepang, Kanada, dan 8 negara Eropa (Inggris, Prancis, Denmark, Finlandia, Islandia, Norwegia, Swedia, dan Swiss). Mereka mengatakan aturan tersebut akan berdampak buruk pada akses layanan penting.
Kepala bidang kemanusiaan Uni Eropa, Hadja Lahbib, mengatakan rencana Israel untuk memblokir LSM internasional di Gaza berarti memblokir bantuan yang menyelamatkan nyawa. “Hukum humaniter internasional tidak memberi ruang untuk keraguan, di mana bantuan harus sampai kepada mereka yang membutuhkan,” ujarnya, dikutip dari BBC.
Sementara itu, Kepala HAM PBB Volker Turk menyebut penangguhan LSM internasional itu keterlaluan dan sewenang-wenang. Menurutnya, hal itu memperburuk situasi yang sudah tidak dapat ditoleransi bagi rakyat Gaza.








