Strategi Ekspansi Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN)
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), yang dimiliki oleh konglomerat Prajogo Pangestu, telah melakukan sejumlah aksi akuisisi pada tahun ini. Beberapa di antaranya mencakup pengambilalihan mayoritas saham dari GDI dan PT Singaraja Putra Tbk. (SINI). Kini, CUAN sedang dalam proses negosiasi terkait rencana pengambilalihan saham SINI.
Sebelumnya, CUAN memiliki 19,99% saham SINI secara tidak langsung melalui anak usahanya, PT Kreasi Jasa Persada dan afiliasinya. Dalam negosiasi tersebut, CUAN berencana untuk mengakuisisi minimal 51% saham SINI.
Pemegang saham utama SINI saat ini terdiri atas:
- PT Autum Prima Indonesia: 30%, dengan 144,3 juta saham.
- Batubara Development Pte. Ltd.: 16,22%, dengan 78,03 juta saham.
- Hapsoro: 9%, dengan 43,29 juta saham.
- Masyarakat: 44,78%, dengan 215,38 juta saham.
Dengan target 51% saham, CUAN akan menjadi pemegang saham pengendali baru dari emiten tambang batu bara yang listing di BEI sejak 8 November 2019.
Direktur Utama Petrindo Jaya Kreasi, Michael, menyampaikan bahwa tujuan dari akuisisi ini adalah memperkuat aset grup, memperluas jaringan usaha, serta mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa rencana pengambilalihan merupakan bagian dari strategi pengembangan usaha jangka panjang dalam membangun perusahaan pertambangan dan jasa pertambangan terintegrasi.
Setelah transaksi selesai, konsolidasi SINI ke dalam CUAN diperkirakan akan menjadikan Petrindo sebagai salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, dengan total cadangan batu bara termal dan metallurgical coal mencapai 378 juta ton.
Rencana Produksi dan Kolaborasi
Dalam RKAB 2026, SINI sedang mengajukan rencana produksi batu bara sebesar 900.000 ton untuk anak usahanya, PT Pasir Bara Prima (PBP), dan 1,5 juta ton untuk PT Persada Kapuas Prima (PKP).
PBP diketahui bekerja sama dengan emiten Prajogo Pangestu lainnya, PTRO, untuk kontrak jasa pertambangan. CUAN merupakan pemegang saham 45,31% PTRO melalui anak usahanya PT Kreasi Jasa Persada (KJP).
Aksi Ekspansi Anak Usaha
Sebelum mengungkap rencana akuisisi SINI, Petrindo Jaya Kreasi sudah lebih dulu mengumumkan aksi ekspansi anorganik melalui anak usahanya. Pada 10 Oktober 2025, PT Volta Daya Energi Indonesia (VDEI), anak perusahaan yang secara tidak langsung dimiliki 100% oleh CUAN, telah menandatangani Akta Jual Beli sehubungan dengan penyelesaian akuisisi atas 9.000 saham atau 90% saham di dalam GDI.
GDI akan mengembangkan proyek pembangkit listrik berkapasitas 680 MW di kawasan industri terintegrasi Feni Haltim (FHT) Industrial Park, Halmahera Timur, Maluku Utara. Dengan selesainya transaksi akuisisi itu, CUAN akan menjadi pemegang saham atas 90% di dalam GDI.
Akuisisi oleh PT Petrosea Tbk. (PTRO)
Di level anak usaha CUAN, manuver akuisisi juga dilakukan oleh PT Petrosea Tbk. (PTRO). Pada 21 November 2025, PTRO melalui anak usahanya, Petrosea Services Solutions Ltd., menyelesaikan proses pengambilalihan 60% saham Scan-Bilt Pte. Ltd. (SBPL) dari TCAL Engineering Pte. Ltd. Nilai akuisisi ini sebesar 10,3 juta dolar Singapura, atau sekitar US$8,03 juta.
Sebelumnya pada 1 Agustus 2025, PTRO juga telah menandatangani Conditional Share Sale and Purchase Agreement sehubungan dengan pembelian seluruh saham HBS (PNG) Limited & anak usahanya (Grup HBS) dengan total nilai transaksi sebesar 40 juta dolar Australia, atau sekitar US$25,76 juta.
Masih dalam Agustus 2025, PTRO mengumumkan akuisisi perusahaan yang bergerak di sektor EPCI, Hafar Group bersama dengan emiten afiliasi Happy Hapsoro, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA). Dalam akuisisi ini, PTRO mengakuisisi 51% saham Grup Hafar melalui PT Petrosea Engineering Procurement Construction, sedangkan RAJA mencaplok porsi 49%.
Direktur PT Petrosea Tbk. Ruddy Santoso, mengatakan akuisisi HBS dan Hafar Group diestimasi akan mendongkrak peningkatan pendapatan perseroan 13% secara tahunan atau year on year (YoY) dan pertumbuhan EBITDA 12% pada 2026.
“EBITDA margin setelah akuisisi diharap meningkat menjadi 22% pada 2026. Ini sejalan dengan margin HBS dan Hafar, standalone yang diharapkan berada di level 30%-34% pada 2026,” ujar Ruddy dalam public expose secara daring, Senin (6/10/2025).









